Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Derita Lulusan Magister yang Kerjanya Full dari Rumah: Sudah Waktunya Mengajak Orang Tua Melek Soal Ragam Jenis Pekerjaan

Anita Aprilia oleh Anita Aprilia
21 September 2025
A A
Derita Lulusan Magister yang Kerjanya Full dari Rumah: Sudah Waktunya Mengajak Orang Tua Melek Soal Ragam Jenis Pekerjaan

Derita Lulusan Magister yang Kerjanya Full dari Rumah: Sudah Waktunya Mengajak Orang Tua Melek Soal Ragam Jenis Pekerjaan

Share on FacebookShare on Twitter

“Sudah S2 kok nggak kerja. Kerjalah, ngajar, biar bermanfaat ilmunya. Enak juga jawab pertanyaan-pertanyaan tetangga.”

Entah sudah berapa ratus kali saya mendengar kalimat tersebut. Padahal aslinya, saya, seorang lulusan magister, tidak pernah benar-benar menganggur seperti yang dilontarkan. Sejak lulus S1, saya sudah bekerja, dan tidak pernah menyusahkan. Baik menyusahkan pikiran atau finansial mereka.

Hal ini membuat saya banyak bingungnya, mengapa selalu beranggapan, bahwa bekerja harus dari kantor dan berseragam, terlebih lagi untuk lulusan Magister Pendidikan seperti saya. Anggapan tersebut tentu sangat menyakitkan. Alih-alih mendukung profesi yang sudah saya pilih, mereka justru memilih mencecar dengan segudang kalimat menohok yang menyakitkan. 

Sebagai lulusan magister, saya pernah kok mengajar dan bekerja layaknya orang-orang

Mencari kerja di era kini memang gampang-gampang susah. Apalagi tanpa orang dalam, tanpa sogokan. Ironis memang, namun itulah kenyataannya. Kesulitan tersebut bukan hanya dialami oleh lulusan SD, SMP, dan SMA. Karena ternyata, lulusan S1 dan magister pun tak kalah sulitnya. 

Meski demikian, saya perlu bersyukur, setelah lulus magister, saya diterima mengajar di salah satu sekolah elit di Riau tepat beberapa hari setelah wisuda. Layaknya seorang guru, harus berangkat pagi-pagi buta lantaran jarak rumah dan sekolah yang cukup jauh.

Kemudian mengajar, melakukan segudang kegiatan lain, pulang, dan sampai rumah saat sudah maghrib. Ini sangat melelahkan. Ditambah lagi, status saya yang hanya honorer, bergaji sejuta, bahkan kadang harus ditagih dulu baru diberikan. Sangat berbeda dengan guru tetap lainnya. 

Setelah menguatkan diri 6 bulan, saya putuskan untuk resign. Tak kuat lagi dengan beberapa beban kerja dan tantangan mengajar. Karena itu, pertentangan datang dari segala penjuru. Dicecar, karena bagi mereka, mengajar di sana adalah sebuah kebanggaan. Sebagai pelaku dan pemeran utama, saya yang tahu persis apa yang terbaik. 

Setelah berhenti mengajar, saya mencoba mengajar di tempat lain. Alhasil, gaji hanya 400 ribu sebulan, lelah fisik dan batin. Dua kali mengajar di tempat yang berbeda membuat saya sadar, bahwa ini terlalu melelahkan. 

Banting setir menjadi freelance penulis artikel

Sejak menjadi freelancer, saya tidak lagi harus gedebak-gedebuk. Kehidupan menjadi lebih santai, bak content creator yang slow living di pedesaan. Sebab, saya bisa bekerja dari mana saja dan kapan saja. Tidak pula harus bersinggungan dengan karyawan lain yang notabenenya rentan terjadi konflik. Ini hidup yang menyenangkan, sesuai di bayangan saya setelah lulus magister.

Baca Juga:

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

WFA ASN, Kebijakan yang Bikin Negara Hemat tapi Pengeluaran ASN Membengkak Parah

Bagian terpentingnya adalah mengerjakan orderan tulisan sesuai kesepakatan dengan client. Merasa cocok dengan model pekerjaan remote, saya putuskan untuk menjadi freelancer saja.

Sayangnya, hidup ini memang tempatnya ujian. Saat pekerjaan tidak enak, orang tua anteng, giliran pekerjaannya sudah enak, orang tua rewel. Saya merasa diuji habis-habisan. Hampir setiap hari mendengar pertanyaan, “Kapan kamu mau ngajar lagi? Kerja apaan itu? Ini bukan kerja namanya! Cari kerjalah, biar bermanfaat ilmumu!”

Kalimat yang dilayangkan memang sangat menyakitkan. Terlebih lagi, gaji menulis itu juga entah sudah beberapa puluh kali membantu beberapa keperluan. 

Perlunya mengenalkan pekerjaan remote ke orang tua, terlebih yang punya anak lulusan magister

Sejauh ini, perkembangan teknologi punya peranan yang sangat besar dalam menciptakan lapangan pekerjaan remote. Iya, kan? Pasalnya, mulai banyak pekerjaan yang bisa dilakukan dari jarak jauh, tak perlu ongkos, desak-desakan di jalan, bertemu banyak orang, dan tidak perlu juga berseragam. 

Bahkan yang menariknya, pekerjaan remote memungkinkan untuk dilakukan kapan pun dan di mana pun. Atau yang dikenal dengan istilah work from anywhere. Siapa yang tidak ingin bekerja seperti ini? Dengan sistem kerja remote, bekerja menjadi lebih santai dan menyenangkan. Apalagi jika job sedang ramai-ramainya. 

Namun, sangat disayangkan, mayoritas orang tua belum tahu jika anak-anak mereka berpotensi bekerja dari mana saja. Pun berpotensi untuk tetap bermanfaat meski tidak keluar rumah. Karena semuanya sudah jauh lebih mudah. Karena itu, sebagai freelancer yang selalu dianggap pengangguran, saya menyarankan siapa pun untuk memperkenalkan ragam pekerjaan kepada orang tua sedini mungkin. Maybe sebelum kalian memasuki bangku perkuliahan. 

Hal ini agar ke depannya lebih mudah, tak perlu lagi mendengar cemoohan atau cercaan yang sebenarnya tidak penting. Saya sendiri sudah menjelaskan berkali-kali, tapi orang tua saya tetap kekeuh. Bagi mereka, hanya yang berseragam dan ke kantor yang disebut bekerja. Dan hanya dengan menjadi guru agar bisa bermanfaat. Jangan lupa, gunakan bahasa bayi, supaya lebih mudah diterima mereka, ya!

Penulis: Anita Aprilia
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kuliah Magister Itu Nggak Seindah yang di Angan-angan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 September 2025 oleh

Tags: kerja remotelulusan magisterlulusan S2remote workingwfa
Anita Aprilia

Anita Aprilia

Seorang pengangguran yang berusaha produktif

ArtikelTerkait

Seluk-Beluk Virtual Assistant, Pekerjaan Remote Impian Banyak Orang yang Nggak Bisa Meninggalkan Rumah

Seluk-Beluk Virtual Assistant, Pekerjaan Remote Impian Banyak Orang yang Nggak Bisa Meninggalkan Rumah

23 Juli 2024
Lulus S2 dan Masih Dituntut Merantau ke Jakarta oleh Keluarga, padahal Peluang Jadi Akademisi di Surabaya Nggak Kalah Menarik Mojok.co

Lulusan S2 Masih Dituntut Merantau ke Jakarta oleh Keluarga, Seolah-olah Nggak Ada Harapan Jadi Akademisi di Surabaya

10 Maret 2026
WFA ASN, Kebijakan yang Bikin Negara Hemat tapi Pengeluaran ASN Membengkak Parah

WFA ASN, Kebijakan yang Bikin Negara Hemat tapi Pengeluaran ASN Membengkak Parah

27 Maret 2026
Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Bikin Sengsara Lulusan S2 (Unsplash) LPDP

Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kemenag Tahun Ini Berhasil Membuat Fresh Graduate S2 Patah Hati

27 April 2025
Kata Siapa Ijazah S2 Nggak Ada Artinya di Dunia Kerja? 5 Profesi Ini Justru Butuh Ijazah S2 sebagai Tiket Masuk ke Dunia Kerja

Kata Siapa Ijazah S2 Nggak Ada Artinya di Dunia Kerja? 5 Profesi Ini Justru Butuh Ijazah S2 sebagai Tiket Masuk ke Dunia Kerja

26 Agustus 2024
Kerja Remote Itu Nggak Selamanya Enak, yang Jelas Bikin Sakit Pinggang

Kerja Remote Itu Nggak Selamanya Enak, yang Jelas Bikin Sakit Pinggang

23 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya Mojok.co

Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya-Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya

4 Juni 2026
Bahaya di Gamping Sleman- Ketika Anak Muda Pesimis Hidup (Unsplash)

Bahaya yang Saya Lihat di Gamping Sleman: Ketika Anak Muda Pesimis dengan Kondisi Ekonomi dan Lari ke Judol Sebagai Pelampiasan

1 Juni 2026
4 Mitos Seputar Skripsi yang Bikin Mahasiswa Stres magang skripsi kuantitatif

Tips Cepat Lulus Skripsi Kuantitatif Tanpa Jadi Tumbal Statistik dari Dosen, Dijamin Waras!

4 Juni 2026
5 Barang Unik yang Saya Temukan di Facebook Marketplace, Surga yang Underrated

Facebook Marketplace, Titik Kumpul Barang Unik dan Berguna, sekaligus Surganya para Penipu

4 Juni 2026
Jalan Dr Sutomo, Jalan Satu Arah yang Mencoreng Nama Baik Muntilan Magelang

Jalan Dr Sutomo, Jalan Satu Arah yang Mencoreng Nama Baik Muntilan Magelang

2 Juni 2026
Kesamaan Prinsip From Doubter to Believer Liverpool & Tekkadan (Unsplash)

Liverpool dan Tekkadan Punya Kesamaan, Sama-sama Memegang Prinsip: From Doubter to Believer

3 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.