Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Seperti Dendam, Jajanan yang Dulu Nggak Bisa Dibeli Karena Miskin Juga Harus Dibayar Tuntas

Aly Reza oleh Aly Reza
22 Maret 2020
A A
jajanan yang dulu nggak bisa dibeli

Seperti Dendam, Jajanan yang Dulu Nggak Bisa Dibeli Karena Miskin Juga Harus Dibayar Tuntas

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau Agus Mulyadi punya pengalaman cukup sentimental dengan odol Close Up, saya pun demikian. Bedanya, sekelumit kenangan masa kecil saya tersebut lebih kepada beberapa produk Nestle yang bahkan masih dan sepertinya akan selalu eksis sampai nanti.

Saya lahir dan tumbuh di sebuah desa terpencil dan kebetulan juga berasal dari keluarga yang serba pas-pasan. Sehingga, nama-nama produk yang akan saya ceritakan ini dulunya hanya bisa saya nikmati dari hasil imajinasi tingkat tinggi. Biasanya, kalau lagi mantengin televisi butut di rumah simbah, saya hanya bisa kelamut-kelamut tiap kali iklan produk tersebut melintas di depan mata saya.

Membayangkan masa kecil yang sangat akrab dengan kemelaratan, saya kadang suka cengar-cengir sendiri. Lebih-lebih ketika produk yang dulunya hanya berada di angan-angan, sekarang sudah bisa saya dapatkan dengan sangat gampang di hampir sembarang tempat. Kadang saya begitu terpancing untuk memotretnya dengan layar ponsel untuk kemudian mengirimkannya kepada tetangga saya yang dulu hobi banget bikin saya ngiler.

Iya, tetangga saya memang sudah berkecukupan bahkan sejak dalam embrio. Maka, nggak butuh waktu dua puluh tahun baginya untuk menikmati sensasi produk-produk kelas metropolitan itu. Tapi, nih anak semasa SD emang nggatheli-nya amit-amit. Kalau kebetulan saya lagi main di pekarangan rumah, tuh anah pasti nongol dari balkon lantai duanya sambil teriak-teriak, “Mmmm enaaakkk, lezzaaaatttt.” Semata agar saya kepengin untuk kemudian tangisan di hadapan ibu, berharap untuk dibelikan. Meski saya tahu belaka, tangisan saya nggak bakal ngasih pengaruh apa-apa.

“Orang miskin mbok sadar diri tho, nang,” paling-paling ibu saya bakal bilang begitu.

Itulah kenapa saat ini, setiap kali saya sedang menikmati produk tersebut saya selalu tergoda memfotonya untuk saya kirim ke tetangga saya yang sekarang kerja di Ibu Kota. Ingin sekali saya kirim dengan keterangan, “Nooohhh, lezzaaaattt, mantaaappp,” wqwqwq~ Norak, ya? Biarin lah, menikmati produk-produk ini bagi saya adalah bagian dari kebahagiaan yang sempat tertunda.

Sebenarnya produk apa, sih1!1!1! Eh, penasaran yooo? huhuhuhu. Cek di bawah ini, nih. Bon appetit mylove:

#1. Nestle Milo

Kalau kata Tan Malaka, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda,” kalau saya, menikmati Milo adalah kemewahan yang tiada tara. Bagi saya, kesempatan menikmati Milo adalah kesempatan yang sangat langka. Gimana nggak langka, Saya butuh waktu satu sampai tiga tahun sekali untuk bisa menyeduhnya, menjilat-jilat cokelatnya yang tersisa di bibir saya.

Baca Juga:

Jurusan Ekonomi Pembangunan Menyadarkan Saya kalau Kemiskinan Itu Bukan Sekadar Orang yang Tidak Punya Uang

Indomie Bukan Makanan Legendaris, Ia Cuma Simbol Krisis dan Kemiskinan Kolektif

Pada saat itu, Milo menjadi oleh-oleh wajib yang bapak bawa dari Malaysia. Dan karena bapak pulang hanya setahun bahkan sampai tiga tahun sekali, maka kesempatan untuk menikmati cokelat lezat itu pun harus berjarak sedemikian lama. Itu pun bapak hanya membawakan sebungkus saja Milo ukuran sedang.

Setiap mendapat kabar bapak akan pulang, hanya itu satu-satunya yang saya pesan. Kadang bapak memberi saya pilihan: mainan atau Milo saja cukup? Meski agak bimbang, tapi toh saya tetep milih Milo sebagai pilihan utama. Di lidah saya, Milo bisa jadi terasa sangat surgawi. Nggak jarang saya menikmati Milo dengan cara lain: menikmatinya tanpa air, alias menyendokinya dalam keadaan masih berbentuk bubuk.

Meski saat ini Milo bisa dengan gampang saya temui di mini market, toko-toko pinggir jalan, bahkan di warung kopi belakang kosan, saya kadang sengaja tak membelinya. Padahal, kalau mau, uang saya jauh dari cukup untuk menebusnya dari mbak-mbak kasir. Alasan saya sederhana: agar sensasi menikmati Milo yang sentimental itu masih terjaga. Disamping untuk sekadar mengenang masa kecil penuh kemelaratan heuheuheu.

#2 Nestle Dancow

Apalah daya saya yang menggunakan kopi gilingan simbah atau teh hangat sebagai pendamping sarapan. Itu untuk yang ada rasanya. Paling sering ya cuma minum air tawar dari kendi (wadah minum dari tanah liat). Betapa indahnya kehidupan anak yang saya saksikan di layar kaca. Sebelum berangkat sekolah, sehabis main di taman rumah, atau pas lagi mau belajar, susu Dancow sudah siap sedia di atas meja.

Pengalaman minum susu, seingat saya paling sering ya dua sampai tiga minggu sekali kalau kebetulan ibu ke pasar. Biasanya ibu akan membelikan saya Indomilk botolan yang masih seharga tiga ribu rupiah. Wehehehe jadi emang nggak sering-sering amat.

Jujur, saya baru sering menikmati Dancow justru ketika saya sudah menginjak semester setua sekarang ini. Saya biasa memesannya di warung kopi langganan. Pertama, ya karena lagi pengin saja. Kedua, lebih karena saya pengin nostalgia sembari balas dendam. Ini susu yang bikin saya sering di-cengin tetangga karena ke sekolah bawa air tawar yang saya tuang dari genuk. Karena susu inilah yang menegaskan, betapa masa kecil saya sebegitu kental dengan kemiskinan.

#3. Nestle Koko Krunch

Untuk yang satu ini malah jangan ditanya lagi. Adalah kemustahilan bagi saya untuk sarapan sereal cokelat itu setiap pagi. Koko Krunch semasa itu, bagi saya sudah sangat hedon dan metropolistis sekali. Sebagai anak desa—terpencil pula—sereal cokelat lezat sudah kadung ter-setting dalam pikiran sebagai makanan orang-orang kota yang kalau manggil emak-bapaknya pakai ayah-bunda.

Bagi sebagian Anda, menyantap sereal produksi Nestle ini mungkin menjadi rutinitas yang sangat klise. Tapi untuk orang yang baru saja merasakan sensasi merantau ke kota seperti saya ini, menyantap Koko Krunch adalah pencapaian yang patut untuk saya rayakan. Maka, dalam beberapa kesempatan, saya sering membelikannya untuk adik saya di kampung. Kami akan menikmatinya sama-sama, bergaya seolah sedang ngiklan dan promosi seperti di TV, dan ya tentu saja, menyantapnya dengan telap-telep, lhab-lheb, Menyombornya secara sporadis, melahapnya tanpa ampun.

Ada dedam kesumat yang bergolak dalam dadam saya. Bertahun-tahun saya cuma ngiler di depan TV sama jajanan yang dulu nggak bisa dibeli karena miskin. Seperti halnya dendam, jajanan yang dulu nggak bisa dibeli ini juga harus dibayar tuntas!

BACA JUGA Menilik Kembali Guyonan Seputar “Masa Kecil Kurang Bahagia atau tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pengin gabung grup WhatsApp Terminal Mojok? Kamu bisa klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 Maret 2020 oleh

Tags: Anak-Anakiklan makananKemiskinan
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

Sistem Pendidikan Indonesia dan Skor PISA yang Buruk, pendidikan era digital

Sistem Pendidikan Indonesia dan Skor PISA yang Buruk

8 Desember 2019
Anak Bukan Tempat Pelampiasan Rasa Capek Orang Tua, orang tua kualat

Kata Gus Baha’ Orang Tua yang Bisa Kualat Pada Anak, Bukan Sebaliknya

22 November 2019
bajaj bajuri

Melihat Kehidupan Masyarakat Miskin Kota Melalui Sitkom Bajaj Bajuri

27 Mei 2020
child sex tourism pelecehan anak mojok

Child Sex Tourism, Fenomena Bejat yang Luput dari Perhatian Media Indonesia

8 Agustus 2020
6 Jajanan Indomaret yang Nggak Boleh Dikonsumsi Anak-Anak, Jangan Sampai Kecolongan! Mojok.co

6 Camilan Indomaret yang Tidak Dianjurkan untuk Anak-Anak, Orang tua Jangan Sampai Kecolongan!

18 Februari 2024
5 Hal yang Tidak Ditemukan di Malioboro Jogja. Baca Ini Sebelum Berkunjung!

5 Hal yang Tidak Ditemukan di Malioboro Jogja. Baca Ini Sebelum Berkunjung!

18 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura Mojok.co

3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura

4 Februari 2026
4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang Mojok.co

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

31 Januari 2026
Video Tukang Parkir Geledah Dasbor Motor di Parkiran Matos Malang Adalah Contoh Terbaik Betapa Problematik Profesi Ini parkir kampus tukang parkir resmi mawar preman pensiun tukang parkir kafe di malang surabaya, tukang parkir liar lahan parkir pak ogah

3 Perilaku Tukang Parkir dan Pak Ogah yang Bikin Saya Ikhlas Ngasih Duit 2000-an Saya yang Berharga

5 Februari 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi

6 Februari 2026
Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026
Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Pasar Minggu Harus Ikuti Langkah Pasar Santa dan Blok M Square kalau Tidak Mau Mati!

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.