Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Malang dan Ambisi yang Tersesat: Kampus kok Langganan Banjir, Tata Kotanya Bagaimana, sih?!

Nuruma Uli Nuha oleh Nuruma Uli Nuha
8 Januari 2025
A A
Coba Tanya 3 Kata Lucu ke Orang Malang, Pasti Jawabannya Adalah Jembatan Suhat Banjir

Coba Tanya 3 Kata Lucu ke Orang Malang, Pasti Jawabannya Adalah Jembatan Suhat Banjir (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Banjir adalah ritual wajib di Kota Malang ketika hujan deras datang. Dari tahun ke tahun, hujan deras selalu membawa cerita yang sama, jalanan berubah jadi sungai dadakan dan aktivitas warga terganggu. Sebagai salah satu Kota Pendidikan, Malang seharusnya memiliki pengelolaan yang lebih baik. Tapi kenyataan di lapangan berkata lain.

Kota sekecil ini harus berjibaku dengan dua hal, banjir dan ambisi wali kotanya yang ingin menjadikan Malang sebagai kota wisata. Jujur saja, jika wisata yang dimaksud adalah waterboom di jalan raya, itu jelas berhasil. Bukannya menghadirkan kenyamanan, pembangunan yang tak terkendali malah membuat kota ini terasa sesak. Ruang terbuka hijau jumlahnya juga tak lebih dari jari tangan.

Julukan Malang sebagai kota dingin yang syahdu di kala hujan, tempat sempurna untuk menyeruput semangkuk bakso pedas, kini tinggal kenangan. Semua itu berubah menjadi sekadar nostalgia yang sulit digapai, terhalang banjir dan tata kota yang amburadul.

Genangan yang tak kunjung usai, salah siapa? 

Menjadi warga Malang coret alias Kabupaten Malang sejak 2012 membuat saya bersyukur. Rumah jauh dari hiruk-pikuk kota, bebas dari macet, dan tidak perlu khawatir banjir saat hujan deras. Tapi meskipun menjadi warga Kabupaten, pengalaman terjebak banjir di Kota Malang sepertinya sudah jadi ritual wajib, terutama buat mahasiswa UB seperti saya dulu.

Tahun 2015, saat saya berangkat ke kampus di tengah hujan deras, jalan MT Haryono, tepat di gerbang masuk UB, berubah jadi sungai dadakan. Genangan air hampir menenggelamkan knalpot motor. Tidak hanya itu, ketika perjalanan pulang, saya melewati jalan Veteran hingga jalan Ijen yang juga dipenuhi genangan air. Lagi-lagi melewati rintangan banjir level dua. Setelah lulus kuliah, saya sempat merantau ke provinsi sebelah. Tahun 2022, saya kembali ke Malang dengan harapan, kota ini sudah jauh lebih baik, bebas banjir, dan nyaman ditinggali. Sayangnya, itu hanya sebatas angan-angan semata.

Pengalaman ini terasa nyata saat saya opname di RS Galeri Candra, yang berada di belakang Apartemen Suhat. Hujan deras datang, dan pelataran rumah sakit berubah jadi lautan air. Bukannya membaik, masalah banjir di Malang malah semakin parah. Area yang dulu aman dari genangan sekarang ikut tenggelam. Sampai tahun 2024 banjir di Malang semakin memprihatinkan.

Penyebab banjir di Malang

Dari berbagai informasi yang saya baca, penyebab utama banjir ini cukup jelas: pengelolaan tata ruang yang buruk, alih fungsi lahan tanpa kendali, dan minimnya ruang terbuka hijau (RTH). Apa yang terjadi di Malang seolah mengulang pola yang sama. Pembangunan terus berjalan tanpa memperhatikan dampaknya, Wali Kota yang tidak paham dengan prioritas pembangunan dan tata kelola Kota, membuat kita harus menanggung akibatnya. 

Alih fungsi lahan menjadi sorotan utama. Banyak kawasan diubah menjadi pusat perbelanjaan, apartemen, hingga pemukiman di atas bantaran sungai. Akibatnya, Sungai jadi sempit dan daya tampung air semakin kecil. Ditambah lagi, daerah resapan air kini dipenuhi bangunan. Penataan kota yang amburadul dan lemahnya pengawasan pemerintah membuat situasi makin parah.

Baca Juga:

Makanan Malang yang Bikin Pendatang seperti Saya Kecewa, Memang Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian

Di Balik Wajah Kota yang Modern: Kehidupan Kelam di Labirin Gang Sempit dan Hilangnya Estetika Kota Malang

Lalu soal RTH, situasinya lebih miris. Hanya 4% dari luas wilayah yang dialokasikan untuk ruang terbuka hijau, jauh dari standar minimal 20% menurut UU No. 26 Tahun 2007. Padahal, RTH bisa membantu mencegah banjir, meningkatkan kualitas tanah, dan mengurangi polusi udara.

Coba saja jalan-jalan di sekitar Suhat. Hampir tidak ada ruang terbuka hijau. Yang ada hanya deretan kafe, restoran, toko, dan perumahan yang penuh sesak. Begitu juga dengan pusat kota, yang dipadati oleh Pasar Besar dan Pasar Comboran yang semrawut.

Kampus Kebanjiran padahal punya Fakultas Teknik Pengairan 

Sejak saya menjadi mahasiswa di Kampus UB antara tahun 2012-2016, fenomena banjir mulai menginvasi kampus sekitar tahun 2015. Saat itu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sering menggembar-gemborkan rencana untuk menyelesaikan masalah banjir yang menggenangi kampus. Namun, hingga kini, perubahan yang dijanjikan masih terasa seperti angan-angan belaka.

Area kampus, terutama jalanan sekitar Veteran, selalu menjadi langganan banjir setiap hujan deras. UB punya jurusan teknik, termasuk Teknik Pengairan telah mencoba mengusulkan beberapa inovasi sebagai solusi untuk menangani masalah banjir. Jurusan ini memiliki fokus keilmuan yang relevan, tetapi solusinya belum tampak untuk menghadapi banjir yang menggenang hingga kini. 

Sejak 2020, para pakar dan akademisi UB sudah menawarkan berbagai inovasi untuk mengatasi banjir di Malang. Seperti kombinasi eco-swale, teknologi IoT, dan infrastruktur hijau untuk meningkatkan penyerapan dan penyimpanan air secara efektif (2024), pembangunan sumur injeksi untuk menyalurkan air hujan langsung ke tanah, perbaikan drainase, pelebaran sungai, hingga penertiban bangunan liar (2021). Bahkan, inovasi bangunan ramah lingkungan juga sudah diusulkan sejak 2020.

Sayangnya, semua solusi keren ini seolah masih sebatas rencana. Sudah empat tahun lebih berlalu, tapi perubahan yang terlihat di lapangan tetap minim. Banjir masih jadi langganan di berbagai titik, seolah ide-ide brilian itu hanya berhenti di atas kertas.

Hujan bukan masalah, tapi pengelolaan kota yang bermasalah

Kalau bicara soal banjir di Malang, sebenarnya kita sudah tahu inti masalahnya. Pakar dari Universitas Brawijaya sudah lama mengingatkan bahwa sistem drainase di kota ini butuh pembenahan serius. Gorong-gorong yang ada sekarang terlalu kecil dan banyak yang tersumbat. Ironisnya, beberapa malah tertutup bangunan. Jadi, aliran air yang seharusnya lancar menuju sungai malah mandek di tengah jalan. Hasilnya, ya banjir lagi, banjir lagi. 

Selain itu, mari jujur soal perilaku kita sendiri. Kebiasaan membuang sampah sembarangan masih sering terjadi. Sampah yang menumpuk di saluran air tentu memperparah situasi. Ditambah lagi, pembangunan yang tidak terkendali membuat banyak saluran air hilang, karena tertutup gedung atau rumah. Masalah ini seperti lingkaran setan, sistem drainase buruk, perilaku masyarakat kurang peduli, dan pembangunan yang asal-asalan. Padahal, solusinya sudah jelas. Tinggal komitmen kita bersama yang perlu ditingkatkan, mulai dari pemerintah hingga masyarakat. 

Masalah banjir di Malang bukan sekadar isu baru. Sejak 2015, banjir selalu hadir dengan pola yang sama tiap tahun, tapi solusi dari Pemerintah masih terasa abu-abu. Bukannya fokus mengatasi akar masalah, malah sibuk mempercantik kawasan wisata kota. Memang bagus kalau kota jadi lebih menarik, tapi apa gunanya kalau warga tiap hujan deras masih harus berjibaku dengan genangan.

Malang yang kecil, Malang yang penuh sesak

Yang lebih ironis lagi, kota sekecil Malang sekarang terasa penuh sesak. Nggak ada ruang terbuka hijau yang bikin mata segar, semuanya sudah habis dipenuhi bangunan. Malah banyak ruko dan pertokoan kosong yang dibiarkan mangkrak selama bertahun-tahun tanpa ada upaya pemugaran atau penataan ulang.

Aturan tentang pembangunan dan revitalisasi wilayah pun terkesan lemah. Kalau tata kelola wilayahnya seperti ini, mustahil Malang bisa terbebas dari banjir. Percuma saja memperbaiki saluran drainase kalau bangunan di atasnya masih mengganggu daerah resapan air. Bukankah sudah saatnya Pemkot Malang berpikir lebih bijak dan menata ulang skala prioritasnya. Karena, kota ini nggak cuma butuh wisata, tapi juga keseimbangan yang bikin warga nyaman dan lingkungan lebih sehat.

Malang butuh lebih dari sekadar diskusi, kota ini butuh aksi nyata yang bisa dirasakan dampaknya. Kalau tidak, inovasi secanggih apa pun hanya akan menjadi cerita yang menguap begitu saja.

Penulis: Nuruma Uli Nuha
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Surabaya Nggak Melulu Berisi Hal-hal Buruk, Ini 5 Hal yang Bisa Dibanggakan dari Kota Pahlawan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Januari 2025 oleh

Tags: banjirMalanguniversitas brawijaya
Nuruma Uli Nuha

Nuruma Uli Nuha

Suka nonton drakor, takut hantu tapi hobi koleksi film horor.

ArtikelTerkait

Jalan Mergan Lori Malang Macetnya Bikin Frustasi, Hanya Orang Sabar yang Sanggup Melewatinya (Mojok.co)

Jalan Mergan Lori Malang Macetnya Bikin Frustasi, Hanya Orang Sabar yang Sanggup Melewatinya

2 November 2023
Anak Kos Nggak Usah Khawatir, Ini 5 Masjid di Malang yang Nyediain Makanan Gratis terminal mojok

5 Masjid di Malang yang Nyediain Makanan Gratis, Anak Kos Nggak Usah Khawatir!

5 November 2021
Dinasti Parkir Kota Malang: Tak Hanya Jabatan yang Bisa Diwariskan, Lahan Parkir pun Bisa

Dinasti Parkir Kota Malang: Tak Hanya Jabatan yang Bisa Diwariskan, Lahan Parkir pun Bisa

5 Desember 2023
Universitas Brawijaya dan Penerapan Keadilan Sosial bagi Rakyat Good Looking yang Keblinger

Universitas Brawijaya dan Penerapan Keadilan Sosial bagi Rakyat Good Looking yang Keblinger

14 Juli 2022
4 Rekomendasi Motor untuk Menghadapi Banjir Lamongan yang Tak Kunjung Surut Terminal

4 Rekomendasi Motor untuk Menghadapi Banjir Lamongan yang Tak Kunjung Surut

10 Maret 2026
Menghujat Motor Honda ADV 160, apalagi Membandingkannya dengan Honda BeAT, Adalah Blunder yang Harusnya Tak Pernah Terjadi motor honda revo

Motor Honda Revo, Sebenar-benarnya Motor Idaman: Bensin Irit, Perawatan Mudah Nggak Bikin Pailit

17 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living Mojok.co

Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Punya Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living

27 Maret 2026
Kelebihan dan Kekurangan Cicilan Emas yang Harus Kamu Ketahui sebelum Berinvestasi

Dilema Investasi Emas Bikin Maju Mundur: Kalau Beli, Takut Harganya Turun, kalau Nggak Beli, Nanti Makin Naik

30 Maret 2026
3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan (Wikimedia Commons)

3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan

30 Maret 2026
Orang Waras Pilih Toyota Agya Dibanding Honda Brio, Lebih Keren dan Bebas Julukan Aneh-aneh Mojok.co

Orang Waras Pilih Toyota Agya Dibanding Honda Brio, Lebih Keren dan Bebas Julukan Aneh-aneh

28 Maret 2026
Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara- Beli Mahal, dapatnya Bangkai (Wikimedia Commons)

Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara: Membayar Tiket Eksekutif demi Uji Nyali Makan Nasi yang Sudah Almarhum

29 Maret 2026
Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.