Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Perempuan Juga Boleh dong Ngegombal

Aminah Sri Prabasari oleh Aminah Sri Prabasari
17 Maret 2020
A A
perempuan ngegombal

Perempuan Juga Boleh dong Ngegombal

Share on FacebookShare on Twitter

Aku tuh lelah tiap mendengar perempuan harus begini dan begitu. Cerewet sekali manusia di dunia ini. Pada momen yang seperti itu mendadak paham bagaimana perasaan Nobita dan kenapa kartun Doraemon tak pernah tamat padahal sudah kutonton dengan khidmat di RCTI tiap Hari Minggu sejak tahun 1989. Aduh, jadi ketahuan umur, hahaha.

Mas Bambang juga seperti itu di urusan percintaan. Laki-laki itu mengejar, perempuan yang dikejar, katanya. Jadi kita ini mau yang-yangan atau kejar-kejaran sih, Mas?

Perempuan yang terbuka mengemukakan isi pikirannya terkadang mendapat label sok pintar. Perempuan yang terbuka tentang perasaan cinta disebut agresif dan berperilaku tak pantas. Kalau laki-laki kritis itu dianggap sudah seharusnya, laki-laki agresif soal cinta disebut memang sudah kodratnya. Bagaimana perempuan berpikir dan berperilaku dilekatkan pada tampilan fisiknya, begitu juga dengan laki-laki yang harga mati harus maskulin 100%.

Idenya siapa sih muncul stereotype yang ekstrim pada laki-laki dan perempuan itu? Yang dirugikan, terganggu, dan terjebak bukan hanya perempuan tapi juga laki-laki.

Ada yang sedang-sedang saja juga, baik laki-laki maupun perempuan, mengakui keseteraan gender tapi juga masih dekat dengan tradisi dan stereotype. Aku ada di barisan yang ini, sepertinya, entahlah. Perkara rumit.

Pada tiap masa ada saja perempuan yang tidak menyerah pada stereotype lemah lembut, submisif, berada di ranah domestik, dan sebagainya. Baru-baru ini kubaca kisah Leila Khaled seorang pejuang Palestina yang melawan Zionis. Ia meruntuhkan imajinasiku tentang perempuan Palestina tegar merawat para anak-anaknya di tengah situasi pertempuran saat suaminya syahid.

Leila Khaled disekolahkan di Sekolah Kristen Evangelish. Tidak seperti kita yang rajin berteriak bela Palestina tapi minim bacaan, Leila memahami apa beda Israel, Zionis, dan Yahudi. Saat George Habash pendiri PLFP, partai kiri tempat Leila bernaung, menawarkan jabatan sebagai utusan partai dalam Serikat Umum Perempuan Palestina ia menolak karena lebih suka memegang senjata. Partai beralasan sebagai perempuan harus memerjuangkan hak perempuan, tapi Leila menjawab, “Aku tidak bisa melakukannya, itu adalah sebuah misi yang di luar jangkauanku, dan aku tidak menyukainya.”

Bagi Leila perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina lebih penting daripada perjuangan nasib perempuan. Jika sampeyan laki-laki, membaca kisah Leila Khaled, masihkah berpikir remeh temeh tentang gender?

Baca Juga:

Kos Putri yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau Aslinya Bikin Malas

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

Eh, ini kok urusan yang-yangan yang dibahas malah pejuang perempuan Palestina? Terpikir begini karena seringkali dalam dakwah Islam muncul pihak-pihak yang misoginis padahal sejarah mencatat banyak sekali perempuan hebat di era Islam klasik dan pertengahan bahkan sampai era modern sekarang. Bukan Islamnya yang misoginis ya, tapi ada kecenderungan misogini pada pemahaman sebagian orang saat menginterpretasi ajaran Islam, menurutku.

Apa itu misoginis? Misoginis adalah pelaku dari misogini. Singkatnya misogini adalah perilaku membenci atau berprasangka (buruk) yang kuat pada perempuan. Bukan hanya terjadi pada laki-laki loh, perempuan pun bisa. Contohnya pendapat bahwa perempuan bisa menyeret suami dan ayahnya ke neraka, perempuan sumber petaka syahwat karena itu sebaiknya di rumah saja, pelakor dihakimi tanpa memertimbangkan bahwa perselingkuhan terjadi atas persetujuan kedua belah pihak, korban perkosaan malah disalahkan, dan seterusnya.

Meski cerewet tentang bagaimana seharusnya perempuan bersikap dalam percintaan, Mas Bambang bukan misoginis, hanya saja sebagai laki-laki yang lahir dan besar di Jawa Tengah sesekali masih ada ewuh pakewuh yang menurutku tak praktis sekaligus tak perlu. Padahal aku pun seorang perempuan Jawa.

Mencintaimu itu seperti menaruh ujung jariku di nyala lilin, Mas. Hangat perlahan lalu panas terbakar kemudian.

Masih menjadi kebingunganku, apakah mencintai Mas Bambang karena ia laki-laki paling keren sedunia atau ia menjadi laki-laki paling sedunia karena aku mencintainya. Tapi tak penting, ada cinta saja sudah cukup, tak perlu jadi pusing karena bertentangan dengan motto hidupku: “Boleh berpikir keras asal terpaksa.”

“Rinduku tertulis di atas air. Mengalir perlahan menuju ke muara untuk menemuimu yang tak bisa membacanya.”

“Dasar Mukiyo,” jawab Mas Bambang di Whatsapp.

Mas Bambang terbiasa menyebut Mukiyo karena seringnya kubalas ucapannya dengan kalimat pendek, “Halah, gombal mukiyo!“

Akhirnya menjadi semacam default, dalam berbagai konteks, mukiyo bermunculan dalam obrolan kami. Gombal mukiyo adalah sebuah frasa yang akrab digunakan masyarakat sekitar Nganjuk dan Kediri, untuk mengungkapkan ekspresi ketidakpercayaan.

Suatu ketika mendapat keajaiban Mas Bambang mengkhawatirkanku saat sehari saja tak berkirim kabar, “Lagi di mana?”

“Di hatimu, Mas.”

Tapi jawabannya kemudian bikin kepengin banting HP, “Gak ada tuh. Makanya kutanya.”

Tak perlu pusing soal siapa yang harus ngegombal dan siapa yang seharusnya digombalin dalam percintaan. Itu hanya perkara teknis. Tidak ada hubungannya dengan gender. Lakukan saja yang kau rasa perlu, Sutemi. Yang membuatmu menjadi diri sendiri, yang membuatmu bahagia.

“Mas, es apa yang gak bisa mencair tapi bisa bikin meleleh?”

“Hmm..”

“Esemanmu.”

“Sebenarnya aku juga mau jawab gitu.”

Ah, Mas Bambang~

BACA JUGA Ah Kata Siapa Perempuan Selalu Benar? atau tulisan Aminah Sri Prabasari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Maret 2020 oleh

Tags: gombalanKesetaraan GenderPacaranPerempuan
Aminah Sri Prabasari

Aminah Sri Prabasari

Perempuan yg merdeka, pegawai swasta yg punya kerja sambilan, pembaca yg sesekali menulis. Tertarik pada isu gender, politik, sosial dan budaya.

ArtikelTerkait

Meluruskan Stereotipe Terkait Perempuan Sunda yang Katanya Matre, Gemar Dandan, hingga Malas Masak

Meluruskan Stereotipe Terkait Perempuan Sunda yang Katanya Matre, Gemar Dandan, hingga Malas Masak

22 Agustus 2023
perempuan

Hanya Karena Saya Perempuan?

7 Juni 2019
lagu iwan fals yang bisa saja dikritik feminisme mata indah bola pingpong pesawat tempur maaf cintaku lirik mojok.co

3 Lagu Iwan Fals yang Kalau Diciptakan Sekarang, Pasti Rame kayak Tilik

31 Agustus 2020
Separuh Wajah

Alasan Kami Para Cewek yang Hobi Foto Separuh Wajah

14 Agustus 2019
fall in love with people we can't have

Keluar dari Jebakan Fall in Love with People We Can’t Have Kayak Jo Yi Seo di Drakor “Itaewon Class”

3 April 2020

Seandainya Tahapan Berpacaran sama Seperti Proses Seleksi Karyawan

5 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Rahasia yang Perlu Diketahui sebelum Membuka Warung Madura, Eksklusif dari Juragannya Langsung

Warung Madura Terlalu Percaya Diri, padahal Warung Tetangga Bisa Menggulingkannya Kapan Saja

6 Juni 2026
Sisi Gelap Sekretariat UKM Kampus: Ketika Ruang Kerja Bergeser Menjadi Ruang Pribadi

Sisi Gelap Sekretariat UKM Kampus: Ketika Ruang Kerja Bergeser Menjadi Ruang Pribadi

7 Juni 2026
Karyawan Indomaret Pekerja Paling Underrated di Indonesia (Unsplash)

Karyawan Indomaret adalah Pekerja Paling Underrated di Indonesia

2 Juni 2026
Desa Telagamurni Bekasi Punya Semua Hal yang Dibutuhkan Warga kecuali yang Paling Penting, Kenyamanan Mojok.co

Desa Telagamurni Bekasi Punya Semua Hal yang Dibutuhkan Warga kecuali yang Paling Penting, Kenyamanan

5 Juni 2026
Orang Kampung yang Punya Jabatan di Tempat Kerjanya Sering Lupa kalau Tetangga di Tempat Tinggalnya Bukan Bawahan

Orang Kampung yang Punya Jabatan di Tempat Kerjanya Sering Lupa kalau Tetangga di Tempat Tinggalnya Bukan Bawahan

6 Juni 2026
Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian  Mojok.co

Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian 

6 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.