Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Dear Mas Erwin, Sejak Dulu Pemberitaan Kita Memang Jakartasentris, Kok!

Muhammad Arsyad oleh Muhammad Arsyad
1 Maret 2020
A A
Dear Mas Erwin, Sejak Dulu Pemberitaan Kita Memang Jakartasentris, Kok!
Share on FacebookShare on Twitter

Halo Mas Erwin, sudah makan? Sudah kuliah? Atau masih sibuk rebahan aja karena males keluar? Bagaimana di lingkungan Mas Erwin? Semoga kalau masih banjir, segera surut ya, Mas.

Dear Mas Erwin Setia–nggak tahu setia sama siapa, saya nulis ini bukan ingin memberikan rasa simpati saya pada beliau yang katanya sedang kebanjiran itu. Buat apa saya perhatian sama Mas Erwin, toh lingkungan sekitar saya juga terkepung air. Jadi, sebenarnya saya tertarik buat membalas tulisan Mas Erwin tempo hari.

Seingat saya Mas Erwin membuat tulisan berjudul Kita Terlalu Sibuk Ngomongin Anies, Sampai Lupa Pemberitaan Banjir Jakartasentris Banget. Dan tulisan itu kemudian dimuat di Terminal Mojok. Barangkali maksud Mas Erwin baik, yakni untuk mengkritik pemberitaan yang Jakarta melulu.

Bagus sekali, Mas. Saya acungi jempol keberanian Mas Erwin dalam menulis itu. Apalagi sampe mengaitkan dengan gubernur Anies Baswedan segala. Keren tapi aneh. Saya sejujurnya nggak paham betul apa yg Mas Erwin tuliskan. Fokus tulisannya nggak jelas babarblas.

Barangkali Mas Erwin belum tahu, kalau pemberitaan kita sejak dulu memang sudah Jakartasentris. Nggak usahlah dikait-kaitkan sama gubernur Anies Baswedan. Karena semenjak gubernur Ali Sadikin hingga Basuki Tjahaja Purnama (BTP) pasti pemberitaan didominasi oleh Jakarta.

Tahukah alasannya? Ini berhubungan dengan media yang lahir di Jakarta, apalagi televisi. Dengan sangat amat terpaksa, kita mesti mengakui kalau mindset Jakartasentris banyak dipengaruhi oleh media, lebih khusus televisi.

Dari mulai banyaknya kantor pusat media di Jakarta, sampe sinetron-sinetron dengan dialek “loe-gue“. Semuanya bahkan bisa mempengaruhi kebiasaan kita. Saya juga yakin, Mas Erwin ikut terpengaruh, ya kan? Terlebih dalam ranah komunikasi, televisi memiliki efek jarum hipodemik. Efek tersebut membuat audience atau viewers tak berdaya, tidak bisa melakukan feedback. Sehingga informasi ditelan mentah-mentah.

Kalau Mas Erwin mau tahu sejarahnya. Dahulu ada televisi pertama yang lahir dari pemerintahan Orde Baru, yaitu TVRI. Yang menjadi cikal bakal munculnya televisi lain. Sementara media lainnya, seperti cetak baru ada Kompas, Suara Merdeka, atau kalau mau zaman baheula lagi, ada Harian Medan Prijaji.

Baca Juga:

Kecamatan Kalitengah Adalah Daerah Paling Ikhlas di Lamongan: Kebanjiran Dua Bulan dan Masih Mau Menyambut Bupatinya

Orang Pantura Adalah Orang Paling Tabah, Mereka Paling Kuat Menghadapi Kesengsaraan karena Banjir

Pergulatan media massa cetak bisa dikatakan menjadi yang cukup progresif ketimbang televisi. Saat televisi masih bertumpu pada TVRI Pusat di Jakarta, media cetak lokal mulai bergerak. Sebutlah misal Suara Merdeka yang lahir kisaran 1950. Surat kabar ini selanjutnya menjelma sebagai koran Jawa Tengah, dengan slogannya: Perekat Komunitas Jawa Tengah.

Jika Mas Erwin ini mendaku dirinya sebagai mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, tentu sedikit mengenal Surat Kabar Pikiran Rakyat. Koran yang berbasis di Bandung itu sudah berdiri sejak 1966. Keduanya sampe sekarang masih bisa bertahan dengan dominan berita lokal masing-masing. Bahkan sudah beralih ke media siber.

Saya nggak menistakan kalimat Mas Erwin dalam tulisannya yang menyebut berita banjir Jakartasentris, tapi masalahnya beliau menghubungkannya dengan gubernur Anies Baswedan. Keliru jika sampe mempertanyakan: Apa harus Anies Baswedan? Seolah-olah, gubernur “Islami” itu adalah tokoh yang terlampau penting, sehingga bisa mempengaruhi berbagai macam pemberitaan. Lalu, kenapa banjir di daerah lain nggak seheboh di Jakarta?

Saya hanya bisa jawab: media kita sudah terlanjur Jakartasentris. Mulai dari kantor pusat yang di Jakarta. Banyaknya wartawan yang bermukim di Jakarta. Sampai yang menurut Mas Erwin, Jakarta sebagai Ibukota. Semuanya memang benar.

Dalam tulisannya itu, Mas Erwin mengklaim telah menemukan 15 link berita atau informasi banjir tapi seluruhnya memberitakan Jakarta. Saya hanya bisa mengira, Mas Erwin pasti menemukan link dari media online yang notabene berkantor pusat di Jakarta. Coba cek, kalau nggak Kompas, Tempo, Merdeka, Detik, Tribun, atau Liputan6.

Media yang saya sebutkan di atas memiliki kantor pusat di Jakarta. Apa yang ditemukan dari 15 link oleh Mas Erwin sebagai bukti kalau informasi banjir terlalu Jakartasentris, justru beliau patahkan sendiri pada redaksi kalimat berikutnya. Pada redaksi berikutnya, Mas Erwin mencantumkan satu link berita yang memberitakan banjir tapi tidak di Jakarta, melainkan Kabupaten Karawang.

Hal itu beliau cantumkan seolah untuk memperkuat argumennya yang menyesalkan nggak viralnya pemberitaan banjir di Kabupaten Karawang. Dengan asumsi luas Kabupaten Karawang lebih besar dari Jakarta, jadi patut diberitakan dan ramai. Logika macam ini abstrak sekali, nggak bisa dong beritain hanya karena luas lebih besar.

Wahai Mas Erwin yang saya hormati, jika ditilik kembali permasalahan minimnya pemberitaan banjir di daerah lain sungguh kompleks sekali. Lebih abstrak dari logika Mas Erwin sendiri. Begini, minimnya informasi dari daerah luar Jakarta yang diberitakan lantas viral adalah akibat dari tidak adanya kantor lokal yang ada di daerah.

Mustahil Tempo atau Kompas membangun kantor di setiap daerah di seluruh Indonesia. Tentulah memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sebenarnya melalui Undang-Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 pemerintah menyiasati itu. Dalam UU Penyiaran tersebut, terutama televisi wajib ada siaran di daerah.

Namun, karena biaya untuk siaran di daerah itu membutuhkan biaya banyak, maka amanat UU Penyiaran itu tidak terlaksana secara menyeluruh. Mungkin ada beberapa televisi yang kuat pendanaanya bisa membuka saluran lokal, kemudian muncul televisi berjaringan. Nah, bagaimana dengan media cetak dan online?

Saya nggak usah ambil contoh terlalu jauh deh, nanti capek. Di kota saya, Kota Pekalongan saja kantor media nasional sangat sedikit, sebut saja KompasTV dan Jawa Pos. Setahu saya ada satu lagi, Suara Merdeka yang membuka kantor perwakilan di Pekalongan, itu pun cuma seperti tempat singgah sejenak para wartawannya dan tempat periklanan, aktivitas keredaksiannya tetap di Semarang. Sisanya?

Nggak banyak media mainstream berskala nasional yang bisa menjangkau daerah-daerah. Media nasional hampir seluruhnya memakai sistem korespondensi. Wartawan media mainstream, kaliber Sindo atau Metro sekalipun cuma memperkerjakan tidak lebih dari dua wartawan di tempat saya.

Sementara media lokal sendiri, paling banter tersebar di kota-kota sekitar yang berdekatan. Jadi, bukan tidak ada berita banjir dari daerah, hanya saja problem-problem tadi yang saya sebutkan itulah enggan diselesaikan. Belum lagi, agenda setting yang dilakukan media-media mainstream itu telah berhasil.

Publik baik di ranah nyata maupun maya, semuanya terkecoh dan fokus pada banjir di Jakarta akibat pemberitaan yang terlalu Jakartasentris. Padahal belasan daerah di belahan Indonesia lain juga mengalami musibah yang sama. Wajarkah?

Selama belum ada langkah konkret dalam problem media berjejaring, maka pemberitaan bakal selamanya Jakartasentris. Saya termasuk orang yang percaya, meski diganti gubernurnya, pemberitaan akan tetap Jakartasentris. Sekali lagi, siapa pun gubernurnya. Kecuali kantor-kantor pusat itu pindah ke lain kota.

BACA JUGA Bagi Haters dan Fans Anies, Korban Banjir Jakarta Itu Cuma Calon Kertas Suara atau tulisan Muhammad Arsyad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 Maret 2020 oleh

Tags: anies baswedanbanjirjakartasentris
Muhammad Arsyad

Muhammad Arsyad

Warga pesisir Kota Pekalongan, penggemar Manchester United meski jarang menonton pertandingan. Gemar membaca buku, dan bisa disapa di Instagram @moeharsyadd.

ArtikelTerkait

Selamat Ulang Tahun Kota Solo, Maaf Kabar Banjir dan Macetmu Membuatku Urung Berkunjung

Selamat Ulang Tahun Kota Solo, Maaf Kabar Banjir dan Macetmu Membuatku Urung Berkunjung

18 Februari 2023
Betapa Sulitnya Meromantisasi Kota Pekalongan Terminal Mojok

Kota Kreatif, Pembangunan Terbaik, dan Kebohongan Lain tentang Kota Pekalongan yang Harus Diluruskan

31 Agustus 2022
Dear Pak Anies Baswedan, Tolong Perhatiin Juga Penumpang TiJe yang Berdesakan, dong terminal mojok

Dear Pak Anies Baswedan, Tolong Perhatiin Juga Penumpang TiJe yang Berdesakan, dong

20 April 2021
Ironi Jalan Ahmad Yani Banyuwangi: Jalan Depan Kantor Bupati, tapi Langganan Banjir Mojok.co

Ironi Jalan Ahmad Yani Banyuwangi: Jalan Depan Kantor Bupati, tapi Langganan Banjir

4 Februari 2024
Perjuangan Mahasiswa Tuban yang Harus Naik Kapal demi Kuliah: Berangkat Subuh dan Menerjang Banjir? Sudah Biasa stasiun sumberrejo bojonegoro

Perjuangan Mahasiswa Tuban yang Harus Naik Kapal demi Kuliah: Berangkat Subuh dan Menerjang Banjir? Sudah Biasa

22 Februari 2024
puan maharani dpr Pak RT mojok

Dear Puan Maharani, It’s Your Time to Shine!

9 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026
4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang Mojok.co

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

31 Januari 2026
Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

5 Februari 2026
Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026
Aturan Kereta Api Bikin Bingung- Bule Tenggak Miras Dibiarkan (Unsplash)

Pengalaman Naik Kereta Api Segerbong dengan Bule yang Membawa Miras Membuat Saya Mempertanyakan Larangan Ini

5 Februari 2026
Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Pasar Minggu Harus Ikuti Langkah Pasar Santa dan Blok M Square kalau Tidak Mau Mati!

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.