Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Harga Ikan di Lamongan Terjun Bebas, Solusinya Adalah Makan Ikan. Bagus, Bagus Buanget, Solutif!

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
30 November 2023
A A
Harga Ikan di Lamongan Terjun Bebas, Solusinya Adalah Makan Ikan. Bagus, Bagus Buanget, Solutif!

Harga Ikan di Lamongan Terjun Bebas, Solusinya Adalah Makan Ikan. Bagus, Bagus Buanget, Solutif! (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Akhir-akhir ini tema perbincangan “warung kopi” di daerah saya adalah seputar harga ikan di Lamongan yang bikin pusing. Iya, harga ikan sekarang sungguh tidak masuk akal. Bukan cuma turun, tapi ndlosor.

Bayangkan aja, ikan yang awalnya 7 ribu, sekarang jadi 3 ribu rupiah. Cumi-cumi yang biasanya 65 ribu, sekarang dihargai 28 ribu saja. Edyan, kan? Penurunan harga ini bahkan lebih parah ketimbang ketika korona dua tahun ke belakang.

BTW, itu harga borongan atau harga ikan di Lamongan yang saya ceritakan adalah harga jual nelayan, bukan harga pasaran. Jadi di pasar harga ikan masih terbilang normal. Nggak ndlosor banget.

Teman saya yang seorang nelayan pun sambat jika ia sekarang lebih memilih di rumah saja. Sebab, melaut pun nggak malah untung, malah rugi parah. Selain itu, bahan bakar solar pun sering telat datang. Harga bumbu dan bahan pokok untuk perbekalan melaut juga naik. Jadi pasti rugi kalau pergi melaut sekarang.

Ia membandingkan, jika kondisi normal, tangkapan ikan 13 ton itu dapat 80 juta. Sekarang cuma dapat 45 juta saja. Padahal harga bahan bakar (solar) yang diperlukan untuk melaut ini sekitar 28 juta untuk 18 drum. Belum kebutuhan lainnya yang harganya setara dengan bahan bakar.

Oh iya, sebagai gambaran, nelayan di tempat kami ini—di Lamongan—memakai perahu yang agak besar. Berlayar sekitar 2 mingguan. Dan tangkapannya memang banyak. Jadi bukan nelayan yang melaut pagi hari dan pulang ketika petang.

Harga ikan di Lamongan sudah nggak masuk akal

Teman saya melanjutkan ceritanya. Para nelayan yang baru pulang melaut kemarin langsung lemas setelah tahu harga ikan di Lamongan sudah nggak masuk akal. Padahal mereka ini dapat ikan dengan muatan penuh.

“Wes piye maneh mas”. Ucap teman saya sambil memelas. “Belum lagi mikir anak yang daftar ulang sekolah esok”.

Baca Juga:

Nasi Muduk, Kuliner Nikmat yang Tak Pernah Masuk Brosur Kuliner Lamongan, padahal Berani Bersaing dengan Soto dan Pecel Lele!

4 Rekomendasi Motor untuk Menghadapi Banjir Lamongan yang Tak Kunjung Surut

Saya kemudian bertanya, terus jika rugi, apakah awak kapal nggak dapat bayaran? Ia mengatakan tetap dapat tapi “siratan”. Atau sekadar dapat uang ganti. sekitar 1 juta, bahkan ada yang 500 ribu saja. Di kondisi normal, bisa dua kali lipatnya. Bahkan lebih.

Saya memang bukan nelayan yang terkena imbas secara langsung. Tapi, saya ini tinggal di Pantura Lamongan yang mana salah satu pondasi dalam perekonomian adalah para nelayan ini. Iya, perputaran uang selalu diawali dari sana.

Tentu saja masalah ini nggak bisa diatasi dengan sekadar “jadi pengusaha”. Atau joget-joget pargoy. Saya pun cuma bisa mengatakan kepada teman saya ini untuk tetap sabar dan terus berjuang.

Makan ikan adalah solusinya

Kemarin, Selasa (28/11/2023) di Aula Mim 04 Blimbing, Paciran, Lamongan. Pimpinan Rating Muhammadiyah Blimbing menyelenggarakan talk show dengan mengusung tema “BBM Langka, Harga Ikan Turun, Masyarakat Nelayan Bingung”.

Saya cukup tertarik untuk menyimak bagaimana hasil dari obrolan tersebut. Akan tetapi ketika mencoba mencari tahu, saya justru malah kecewa.

Mengutip dari RRI, Yuli Wahyuono, selaku Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lamongan mengatakan bahwa tak hanya harga ikan di Lamongan yang turun, tak hanya terjadi di Indonesia, bahkan di seluruh dunia yang diakibatkan dari adanya perang Ukraina dan Rusia.

“Pasar ikan yang ada di Eropa dan Amerika juga melimpah. Dan ini tidak bisa diselesaikan oleh bupati maupun gubernur, yang bisa hanyalah Pemerintah Pusat,” jelasnya.

Masih mengutip RRI, untuk mengantisipasi hal itu, Yuli serukan kembali progam Gemarikan alias Gemar Makan Ikan agar diterapkan di lingkungan keluarga hingga sekolah. Selain mengandung gizi baik, harga ikan juga relatif murah untuk bisa dikonsumsi setiap hari.

Bagaimana? Sudah menemukan solusi yang presisi dari talk show tersebut?

Saya memang bukan orang yang paham betul persoalan ikan ini. Hanya saja solusi yang blio tawarkan ini kok nggak mashok yaaa. Sebab, yang punya masalah kan nelayan, kenapa masyarakat malah disuruh makan ikan?

Lempar tangan pemerintah

Saya sungguh geleng-geleng. Bahkan blio mengatakan kalau masalah ini nggak bisa diselesaikan bupati atau gubernur, tapi harus pemerintah pusat. Sungguh, kalimat yang terasa kurang solutif. Saya jadi teringat ucapan mantan gubernur yang bilang kalau masalah banjir di Jakarta akan lebih mudah diselesaikan jika menjadi presiden.

Iya, perlu diakui kalau di semua daerah memang mengalami penurunan harga ikan, tapi bukan lantas nggak ada solusi sama sekali dong! Paling tidak ada solusi jangka pendek sembari menunggu pemerintah pusat bertindak.

Saya kasih contoh. Awal tahun kemarin, ketika banjir melanda beberapa daerah di Lamongan, Karang Taruna Desa Kendalkemlagi, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan, menyediakan bengkel gratis untuk kendaraan roda dua yang mogok akibat banjir.

Nah, ini yang saya maksud dengan solusi jangka pendek. Karang Taruna tersebut paham tidak bisa melakukan apa pun terhadap kondisi jalan, akan tetapi mereka punya solusi jangka pendek. Bukan sekadar mengatakan kalau ini harusnya diselesaikan pemerintah pusat.

Yah, pada akhirnya nelayan Pantura Lamongan hanya bisa kebingungan. Dan pemerintah daerahnya hanya bisa lempar tangan. Begitu seterusnya sampai Elon Musk jadi Bupati Lamongan.

Sehat-sehat para nelayan di mana saja kalian berada.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Nelayan, Profesi Paling Makmur di Lamongan, Awak Kapal Gajinya Minimal 3 Juta!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 30 November 2023 oleh

Tags: harga ikanharga ikan di Lamonganlamongannelayan
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

4 Alasan Paciran Jadi Kecamatan Paling Sempurna di Kabupaten Lamongan

4 Alasan Paciran Jadi Kecamatan Paling Sempurna di Kabupaten Lamongan

6 November 2024
Menghujat Motor Honda ADV 160, apalagi Membandingkannya dengan Honda BeAT, Adalah Blunder yang Harusnya Tak Pernah Terjadi motor honda revo

Motor Honda Revo, Sebenar-benarnya Motor Idaman: Bensin Irit, Perawatan Mudah Nggak Bikin Pailit

17 Januari 2024
3 Hal Soal Lamongan yang Jarang Dibahas Banyak Orang Mojok.co

3 Hal Soal Lamongan yang Jarang Dibahas Banyak Orang

9 Desember 2025
Meski Jalan Rusaknya Abadi, Lamongan Punya WBL dan Mazola yang Jauh Lebih Bagus ketimbang Seluruh Wisata di Surabaya

Meski Jalan Rusaknya Abadi, Lamongan Punya WBL dan Mazola yang Jauh Lebih Bagus ketimbang Seluruh Wisata di Surabaya

23 Desember 2024
3 Hal yang Membuat Lamongan Semakin Payah Dibanding Tuban, padahal Dahulu Setara Mojok.co

3 Hal yang Membuat Lamongan Semakin Payah Dibanding Tuban, padahal Dahulu Setara

25 Oktober 2025
Lamongan Megilan: Slogan Kabupaten Paling Jelek yang Pernah Saya Dengar, Mending Diubah Aja Mojok.co Semarang

Lamongan Megilan: Tagline Kabupaten Paling Jelek yang Pernah Saya Dengar, Mending Diubah Aja

28 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain Mojok.co

Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain

6 April 2026

Di Jajaran Mobil Bekas, Kia Picanto Sebenarnya Lebih Mending daripada Suzuki Karimun yang Banyak Dipuja-Puja Orang

8 April 2026
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Unsplash)

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan

8 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang Mojok.co apel batu

Senjakala Apel Batu, Ikon Kota yang Perlahan Tersisihkan. Lalu Masih Pantaskah Apel Jadi Ikon Kota Batu?  

10 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Bangun Rumah Istana di Grobogan Gara-gara Sinetron, Berujung Menyesal karena Keadaan Aneh dan Merepotkan
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit
  • Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.