Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Bahasa Palembang, Bahasa Daerah yang Gampang Dipelajari

Bintang Ramadhana Andyanto oleh Bintang Ramadhana Andyanto
8 November 2023
A A
Bahasa Palembang, Bahasa Daerah yang Gampang Dipelajari

Bahasa Palembang, Bahasa Daerah yang Gampang Dipelajari (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ngomong pakai bahasa Palembang tinggal ganti kata yang berakhiran huruf “a” dengan huruf “o”. Udah gitu ngomong sama siapa pun sama aja.

Bahasa manakah yang tergolong sulit dipelajari? Saya yakin, ada di antara kalian yang akan menjawab bahasa Mandarin, bahasa Thailand, bahasa Aceh, bahasa Jawa, hingga bahasa Batak. Semua jawaban tersebut memang ada benarnya, walaupun bagi saya, bahasa yang paling susah dimengerti adalah bahasa kalbu dan bahasa cinta.

Canda, ya, Gaes.

Nah, lantas bagaimana dengan bahasa yang termasuk mudah dipelajari? Menurut saya, jawaban yang paling valid adalah bahasa Palembang.

Macam-macam bahasa Palembang

Sebagai informasi, saya adalah seseorang yang memiliki darah campuran Palembang-Jawa Tengah. Sejak kecil, saya tinggal di Kota Pempek sehingga sudah sangat akrab dengan bahasa daerah di sana. Melalui “keakraban” itulah, saya jadi tahu beberapa hal mengenai bahasa Palembang.

Jadi, bahasa Palembang dibedakan menjadi dua macam: bahasa alus dan bahasa sari-sari. Untuk jenis yang pertama, maknanya adalah bahasa Palembang yang lebih “halus” dan biasa digunakan oleh orang-orang yang dihormati. Namun, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya, bahasa alus kini sudah jarang digunakan. Kalau masih dipakai pun tampaknya hanya berlaku pada daerah-daerah tertentu, bukan di area Kota Palembang.

Di sisi lain, bahasa sari-sari memiliki arti bahasa Palembang sehari-hari. Saat berbicara dalam kehidupan sehari-hari, orang Palembang mayoritas menggunakan jenis yang satu ini. Oleh karena itu, tak heran jika bahasa sari-sari masih banyak dipakai hingga sekarang.

Kapan pun saya berada di Palembang—saat ini saya lebih banyak menetap di Depok—, saya selalu menggunakan bahasa Palembang sari-sari untuk bercakap-cakap. Entah itu kepada teman, tetangga di sekitar rumah, ataupun orang-orang random yang saya jumpai di jalan, saya selalu berbicara menggunakan bahasa sari-sari.

Baca Juga:

Tol Trans Sumatera Kayu Agung–Palembang Bikin Istigfar: Jalan Berlubang, Licin, Minim Penerangan padahal Tarif Mahal~

Dear Aktor Ibu Kota, Tidak Semua Dialog Bahasa Jawa Harus Berakhiran O seperti “Kulo Meminto”

Tidak sulit dipelajari

Ada satu cerita unik mengenai pengalaman saya saat pertama kali mempelajari bahasa Palembang sari-sari. Jadi, meskipun saya berdarah Palembang, sejatinya saya tidak begitu akrab dengan bahasa tersebut ketika saya masih belia. Maklum, di rumah, saya terbiasa menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari—bukan yang formal banget, maksudnya. Nah, begitu saya memasuki usia sekolah, otomatis saya mesti mempelajari bahasa Palembang agar lebih dapat bersosialiasi dengan teman-teman di sekolah.

Dan ternyata, proses pembelajaran tersebut sama sekali tidak memakan waktu lama. Mengapa? Ya, karena bahasa Palembang yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari, yang selalu saya terapkan dalam kehidupan bermasyarakat, sungguh mudah dipelajari.

Secara garis besar, kalian hanya perlu mengganti kata yang berakhiran huruf “a” dengan huruf “o”. Sebagai contoh, untuk menyebut “apa”, “berapa”, “siapa”, dan “di mana”, kalian hanya perlu mengubahnya menjadi “apo”, “berapo”, “siapo”, dan “di mano”. Sesimpel itu. Nggak sulit, bukan?

Nah, kemudian, untuk menyebut subjek, orang Palembang biasanya menggunakan “aku” dan “kau”. Akan tetapi, “kau” di sini tidak dilafalkan seperti dalam bahasa Indonesia pada umumnya, melainkan “kawu”—seakan-akan ada huruf “w” di tengah-tengahnya. Lalu, untuk menyebut “kalian”, orang Palembang biasanya memakai kata “kamu”—seolah-olah cuma merujuk pada satu orang. Unik, tetapi tetap saja, gampang dipelajari.

Tidak ada klasifikasi

Selain itu, hal lainnya yang membuat bahasa tersebut mudah dipelajari adalah tidak adanya “klasifikasi” tertentu. Maksudnya gimana? Ya, kalau mengacu pada penuturan dari teman-teman saya yang berasal dari daerah lain, misalnya Jawa, ada bahasa-bahasa tertentu yang memiliki pembagian kelompok lawan bicaranya, seperti bahasa halus, bahasa kasar, dan sebagainya.

Klasifikasi tersebut bertujuan agar sang penutur tidak menyamaratakan penggunaan bahasa ketika berbicara dengan setiap orang. Jadi, bahasa yang digunakan ketika mengobrol dengan teman sekelas maupun ketika berbicara dengan orang tua mempunyai perbedaan-perbedaan tertentu.

Dalam bahasa Palembang, kalian tidak perlu khawatir akan hal itu. Bahasa yang dipakai ketika berbincang dengan orang yang lebih tua maupun yang seumuran sama sekali tidak berbeda. Bagi orang yang hendak mempelajari bahasa tersebut, hal ini tentu sangat memudahkan. Hasilnya adalah semakin sedikit kosakata yang perlu dipelajari dan semakin sedikit pula risiko untuk salah mengaplikasikannya.

Itulah yang persis saya alami selama menjalani masa-masa awal mempelajari bahasa Palembang. Saya hanya perlu memahami “konsep” tersebut, dan terus-menerus melatihnya dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa memakan waktu yang panjang, saya sudah lancar bercakap-cakap menggunakan bahasa sari-sari.

Ketika sudah di Depok pun, yang otomatis membuat saya jadi jarang memakainya, saya juga jadi tidak mudah lupa akan kosakata bahasa Palembang. Alasannya? Ya, karena bahasanya simpel dan sangat gampang untuk dimengerti.

Bahasa Palembang sari-sari kurang menarik ketika dijadikan kamus

Walaupun saya hampir tidak pernah menggunakan bahasa Palembang selama berada di Depok, bukan berarti bahasa tersebut sama sekali tidak pernah singgah lagi di kehidupan saya. Sebab, saya masih ingat sebuah pengalaman menarik di waktu-waktu awal saya berkuliah.

Jadi, sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, saya wajib mengikuti satu mata kuliah bernama Perkamusan dan Dokumentasi Bahasa Daerah. Sesuai namanya, mata kuliah tersebut membahas upaya dokumentasi bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Output seperti apakah yang dihasilkan? Kalau mengacu pada pengalaman saya, produk yang dihasilkan adalah kamus bahasa daerah.

Dengan status saya yang merupakan “anak daerah”, saya pun ditunjuk oleh dosen untuk menjadi narasumber. Tugas saya sebetulnya tidak terlalu susah: menerjemahkan sekitar 250 kata bahasa Indonesia ke dalam bahasa daerah saya, lengkap dengan cara penulisan serta pelafalannya. Karena saya orang Palembang, jadilah saya menerjemahkan seluruh kata tersebut ke dalam bahasa Palembang sari-sari.

Lucunya, selama proses pengerjaan tugas, saya jadi makin menyadari level kegampangan bahasa Palembang untuk dipelajari. Pasalnya, dari sekian banyak kosakata, hanya segelintir yang memiliki penyebutan khusus dalam bahasa Palembang. Selebihnya sama saja dengan cara penyebutan dalam bahasa Indonesia.

Waktu itu saya diminta untuk menerjemahkan kata-kata yang berbau tumbuhan, misalnya akar, batang, pohon, rumput, dll. Coba tebak apa bahasa Palembang dari kata-kata tersebut? Ya, sama saja seperti bahasa Indonesia.

Itulah mengapa saya menganggap bahasa sari-sari kurang begitu menarik jika hendak dijadikan kamus. Tidak seperti bahasa daerah lain yang betul-betul memiliki variasi kosakata, bahasa Palembang tidak mempunyainya. Namun, ini murni pendapat subjektif saya, ya.

Tertarik untuk belajar bahasa Palembang? Bosan, kan, belajar memahami bahasa kalbu dan bahasa cinta dari gebetan terus?

Penulis: Bintang Ramadhana Andyanto
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Ngomong Bahasa Palembang Tak Sekadar Mengganti Huruf Vokal ‘a’ Jadi ‘o’.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 November 2023 oleh

Tags: Bahasabahasa daerahbahasa Palembangpalembang
Bintang Ramadhana Andyanto

Bintang Ramadhana Andyanto

Anak negeri. Tukang ngopi. Pakar senjalogi.

ArtikelTerkait

Memahami Bahasa Medan Sehari-hari biar Kamu Nggak Ngerasa Digas

Mengenal Bahasa Medan Sehari-hari biar Kamu Nggak Ngerasa Digas

10 April 2020
Kuliner Palembang Memang Sedap, tapi Nggak Semua Lidah Orang Cocok Mojok.co

Kuliner Palembang Memang Sedap, tapi Nggak Semua Lidah Orang Cocok

16 November 2024
grammar yang baik code switching skor toefl 550 aplikasi belajar bahasa inggris grammar toefl bahasa inggris cara belajar bahasa inggris mojok.co

Hanya Orang Pemalas yang Bilang Kalau Ngomong Bahasa Inggris itu Nggak Perlu Grammar yang Baik

25 Agustus 2021
Oh, Ternyata di Melawi 'Sungai' Disebut 'Laut' Terminal mojok

Oh, Ternyata di Melawi ‘Sungai’ Disebut ‘Laut’

7 Februari 2021
Palembang Indah Mall (PIM), Mall Terbaik Saat Ini di Kota Palembang

Palembang Indah Mall (PIM), Mall Terbaik Saat Ini di Kota Palembang

15 Mei 2024
5 Alasan Orang Banyumas Susah Bikin Move On terminal mojok.co

Lima Bahasa yang Wajib Dipelajari Kaum Ngapak

31 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan Mojok.co

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan

6 Februari 2026
Alun-Alun Jember Nusantara yang Rusak (Lagi) Nggak Melulu Salah Warga, Ada Persoalan Lebih Besar di Baliknya Mojok.co

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

6 Februari 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026
Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026
Gambar Masjid Kauman Kebumen yang terletak di sisi barat alun-alun kebumen - Mojok.co

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.