Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Kerja Full Time sebagai Musisi Kafe Ternyata Masuk Akal dan Menguntungkan Juga

M. Wildan Sidqi Purwanto oleh M. Wildan Sidqi Purwanto
29 Oktober 2023
A A
Kerja Full Time sebagai Musisi Kafe Ternyata Masuk Akal dan Menguntungkan Juga

Kerja Full Time sebagai Musisi Kafe Ternyata Masuk Akal dan Menguntungkan Juga (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya heran sama orang yang nge-band di kafe-kafe. Terlepas mereka nge-band untuk sekadar mengisi waktu, memang passion, atau beneran berkarier, kok ya mau-maunya tampil berjam-jam membawakan puluhan lagu yang bayaran dan apresiasinya nggak seberapa itu. Bayarannya ngepres untuk biaya bensin dan rokok, sementara untuk sewa studio latihan atau ganti senar udah pasti nombok. Jadi musisi kafe nggak menguntungkan blas.

Eh, tapi itu dulu. Sekarang, saya justru sedang menekuni pekerjaan yang pernah saya pandang remeh sebelumnya: bekerja full time sebagai vokalis sebuah band spesialis musik rock di kafe-kafe di Kota Jogja. Ya, saya tahu, saya memang sedang menjilat ludah sendiri.

Kenapa malah nyemplung jadi musisi kafe?

Begini, sekarang live music sudah menjadi bagian penting di sebuah kafe. Live music bikin kafe terlihat lebih hidup dan cozy. Setiap saya ngopi dari kafe ke kafe, nyaris selalu ada live music-nya. Sekadar akustikan atau bahkan full band, setidaknya ada live music. Kalau kalian sering berkeliling dari satu kafe ke kafe lain, kalian pasti setuju sama saya.

Nah, karena peran musisi yang krusial untuk kafe itulah saya kemudian merasa tertantang. Lagi pula, kalau boleh jujur, cita-cita kecil saya ingin jadi kayak Jon Bon Jovi gitu. Seorang rock star yang sayang istri.

Bagi musisi amatiran, manggung di kafe tak ubahnya seperti tamtama militer yang berlatih perang. Panggung kafe atau Puslatpur (pusat latihan tempur) sama-sama menjadi ajang bereksplorasi dan meraih eksposur. Tempat ideal untuk mengasah skil dan menambah jam terbang sekaligus menunjukkan bakat dan potensi. Sebelum akhirnya benar-benar terjun langsung ke medan perang atau industri musik.

Dan benar saja. Setelah menahun menjadi musisi kafe, ternyata profesi ini nggak sesuram yang dulu pernah saya batin dan sepelekan. Khususnya soal bayaran dan apresiasi musisi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Sampai hari ini, profesi musisi kafe dapat saya andalkan sebagai tiang penghidupan untuk keluarga kecil saya.

Lantas, apa alasannya saya mempercayakan pekerjaan ini sebagai tiang penghidupan? Sini saya jelasin.

Fee kafe adalah upah pokok

Fee atau bayaran dari kafe adalah pendapatan pokok para musisi kafe. Sejatinya, nggak ada patokan pasti soal ini. Nggak ada undang-undang atau perda yang mengatur tentang UMR (Upah Musisi Reguler). Ini semua tergantung dari kesanggupan pihak kafe dan seberapa besar rate musisinya.

Baca Juga:

Nekat Kuliah S3 di Taiwan Berujung Syok, tapi Saya Merasa Makin Kaya sebagai Manusia

Goa Jatijajar, Objek Wisata di Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi

Umumnya di Jogja, pihak kafe akan memberikan upah pokok minimal 100 ribu rupiah kepada setiap personel untuk satu kali pentas. Nominal tersebut tentu jangan disamakan dengan fee kafe di kota-kota beken lainnya. Jelas jauh berbeda, ya. Rate tersebut juga hanya diperuntukkan buat musisi kroco yang lagi merintis karier, bukan untuk musisi sekelas Tri Suaka, Nayl Author, apalagi Tantri Kotak.

Untuk skema fee sebagai gambaran, misalnya band saya terdiri dari 5 personel, artinya pihak kafe setidaknya menyiapkan fee sebesar 500 ribu yang nanti dibayar kontan setelah kami manggung. Bayangkan jika kami ngamen 5 kali dalam seminggu, bayarannya sudah setara UMK Kabupaten Gunungkidul. Itu baru hitungan dari upah pokok, lho, belum termasuk saweran dan tip.

Selain itu ada model fee dengan sistem akumulasi. Jadi, pihak kafe akan membayar sekian rupiah kepada musisi untuk sekian penampilan. Misalnya, band saya dibayar 4 juta rupiah untuk 4 kali pementasan di kafe X. Selanjutnya, mekanisme pelunasan berikut terms and condition-nya menyesuaikan kesepakatan antara kedua belah pihak.

Serba-serbi saweran dan tip untuk musisi kafe

Kalau kalian sering ke kafe dan kebetulan ada live music-nya, pasti kalian sering menjumpai kotak saweran. Biasanya kotak ini ditaruh begitu saja di sekitar panggung atau dibawa keliling table-by-table. Sesuai namanya, fungsi kotak ini adalah wadah apresiasi untuk musisi yang tampil.

Seringnya band saya membawa keliling wadah tersebut meja demi meja tamu alias “jemput bola”. Adanya interaksi langsung antara musisi dan tamu kafe akan menciptakan jalinan komunikasi yang interaktif di antara keduanya. Tamu akan merasa lebih dihargai sebagai penonton dan lebih nyaman kalau misalnya mau request lagu.

Hal ini sangat mungkin akan mendongkrak pundi-pundi saweran. Apalagi ditambah dengan adanya kemiripan uang kertas edaran baru, yaitu antara nominal 2 ribu dan 50 ribu, banyak kasus tamu sering keliru nyemplungin duit. Sering-sering aja sih kalau begini, hehehe.

Selain itu, ada juga tamu yang nyawer langsung naik ke panggung. Bisa dengan cara salam tempel atau bahkan dikipas-kipasin kayak host Super Deal. Biasanya ini terjadi karena lagu favorit atau lagu request-nya tamu kafe dibawain oleh musisi yang tampil. Bisa juga karena mereka ngefans sama personel band yang manggung. Tapi alasan yang terakhir ini bikin kepedean mampus, sih.

Peluang saweran atau tip selanjutnya bisa didapatkan musisi dari pemilik kafe dan jajarannya. Kalau mereka kebetulan hadir dan puas dengan sajian musik si band, mbok yakin nyawernya blas nggak itungan. Band saya pernah disawer 2 juta sama bos besar salah satu kafe di bilangan Karangmalang, Sleman. Edan.

Jadi, bisa dibilang saweran atau tip adalah sumber pendapatan terbesar bagi musisi reguler kafe. Sebab, hasilnya bisa berkali-kali lipat lebih banyak ketimbang fee kafe. Saweran juga nggak melulu berwujud uang. Saya pernah disawer sebungkus rokok, voucher belanja, sampai khamr.

Aplaus dari tamu kafe bikin musisi senang sekaligus sadar diri

Selain besaran bayaran yang didapat, aplaus dari tamu juga bisa menjadi tolak ukur kepuasan mereka terhadap si musisi kafe. Bentuk aplaus ini bermacam-macam. Bisa berupa tamu ikut bernyanyi dari kursinya, mengabadikan lewat gawainya, atau bahkan standing applause kayak juri Liga Dangdut.

Sering juga ada tamu yang melambaikan tangan ke kanan-kiri sambil menyalakan senter atau korek api. Kalau udah begini, vibes-nya kayak di konser beneran. Yah, mirip-mirip konser band Padi waktu bawain lagu “Harmony”. Kalau sudah begini artinya para tamu terbawa ambience sajian musik dari para musisi kafe.

Sebagai penghibur, tentu saja kami harus semaksimal mungkin menampilkan performa yang perfek. Maka ketika terbayar kontan dengan riuh aplaus tamu, gayung bersambut kata pun terjawab. Tamu riang, band pun girang.

Sebaliknya, jika nggak ada aplaus, praktis membuat kami muhasabah diri. Kira-kira apa yang membuat para nggak rileks menikmati musik kami? Jangan-jangan ada yang salah dengan ketukan drum yang keluar tempo, vokal yang fals, atau gitarnya kurang stem? Atau kami-kami yang ngeband ini kurang enak dilihat?

Perut dan kantong aman berkat menu-menu komplemen kafe

Selain fee, musisi reguler selayaknya juga mendapatkan komplemen atau bonus berupa makanan dan minuman dari pihak kafe. Sebab, keduanya adalah wujud apresiasi dari pihak kafe untuk musisi. Menu-menu komplemen tersebut umumnya sama dengan menu yang dijual. Walau terkadang ada juga “hidden menu” atau “spesial menu request” yang diminta dan disediakan khusus untuk musisi kafe.

Oleh karena menu-menu tersebut disediakan secara gratis, sering kali saya sengaja nggak makan dulu dari rumah ketika akan manggung di kafe. Selain dalam rangka penghematan, kesempatan itu saya gunakan untuk mencicipi menu-menu andalan kafe tersebut. Lidah bergoyang, perut aman, kantong pun nyaman. Nikmat betul.

Begitulah yang saya alami sejauh ini selama menggeluti profesi sebagai musisi kafe. Sejak pertama kali nyemplung sampai hari ini, saya semakin yakin bahwa pekerjaan ini bukan saja mampu membuat saya bertahan dan menjadikannya sebagai sumber penghasilan utama semata. Profesi ini juga menjadi batu loncatan karier saya.

Di balik itu semua, banyak juga hal yang bikin mangkel dan capek. Namanya juga kerja, kan. Tapi mengingat pekerjaan ini sebagai passion yang dibayar, rasanya enteng-enteng saja untuk dilakukan, sih.

Jadi, buat kalian yang hobi bermusik, nggak ada salahnya menyalurkan bakat kalian di panggung-panggung kafe terdekat. Sebab, persis seperti kata Jon Bon Jovi, “Take a chance, sometimes it’s all you need.”

Penulis: M. Wildan Sidqi Purwanto
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Kultur Cover Lagu di Kafe dan Minimnya Pengetahuan Soal Performing Rights.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Oktober 2023 oleh

Tags: bandfulltimekafelagumusisimusisi kafepenyanyipilihan redaksi
M. Wildan Sidqi Purwanto

M. Wildan Sidqi Purwanto

Pegiat musik rock Jogja yang nggak giat-giat amat.

ArtikelTerkait

Mobil Listrik Hyundai Pantas Dinobatkan sebagai Mobil Paling Menggiurkan mojok.co

Mobil Listrik Hyundai Pantas Dinobatkan sebagai Mobil Paling Menggiurkan

2 November 2021
Payak 600 Sungai Kelik: Neraka Kecil bagi Masyarakat Ketapang

Payak 600 Sungai Kelik: Neraka Kecil bagi Masyarakat Ketapang

28 April 2023
Gunungkidul Darurat Penerangan Jalan: Pembangunan Hanya Terpusat di Kota, Warga Pinggiran Bertaruh Nyawa

Gunungkidul Darurat Penerangan Jalan: Pembangunan Hanya Terpusat di Kota, Warga Pinggiran Bertaruh Nyawa

17 Mei 2024
Memahami Sultan Ground: Keistimewaan Jogja yang Ruwet dan Penuh Intrik tamansari

Memahami Sultan Ground: Keistimewaan Jogja yang Ruwet dan Penuh Intrik

15 Oktober 2022
Menggugat Aktivis Muda Brengsek yang Jadikan Penderitaan Rakyat sebagai Portofolio terminal mojok.co

Menggugat Aktivis Muda Brengsek yang Jadikan Penderitaan Rakyat sebagai Portofolio

4 Oktober 2021
Pos Ketan Legenda, Kuliner Legendaris yang Biasa Saja dari Kota Batu terminal mojok.co

Pos Ketan Legenda, Kuliner Legendaris yang Biasa Saja dari Kota Batu

13 Januari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

4 April 2026
Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

1 April 2026
Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026
ASN Deadwood Memang Sebaiknya Dipecat Saja!

Kalau Ada yang Bilang Semua ASN Kerjanya Nganggur, Sini, Orangnya Suruh Berantem Lawan Saya

30 Maret 2026
Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

4 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Innova Reborn: Mobil Keluarga yang Paling Punya Adab, Tidak Mengeluarkan Aura Brengsek seperti Fortuner dan Pajero
  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.