Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Politik Khas Jogja: Darah Birumu Penentu Suaraku

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
9 November 2023
A A
Culture Shock Mahasiswa Solo yang Merantau ke Jogja, Ternyata Biaya Hidupnya Lebih Mahal  Mojok.co politik jogja

Culture Shock Mahasiswa Solo yang Merantau ke Jogja, Ternyata Biaya Hidupnya Lebih Mahal (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Politik Jogja, realitasnya, tak ada ubahnya seperti ajang pesta para bangsawan. Politik dinasti, jelas tak jadi isu seksi bagi (sebagian besar) masyarakat sini

Jujur saja, saya bingung kenapa kalian masih ribut masalah politik dinasti. Seperti baru kenal saja dengan loophole terbesar demokrasi ini. Dari Amerika Serikat sampai Korea Utara (yang katanya demokrasi) semua terjebak dalam politik dinasti. Dan hal ini tetap jadi gorengan politik di berbagai belahan dunia.

Tapi politik dinasti yang diributkan itu masih biasa saja. Politik Jogja (Baca: Daerah Istimewa Yogyakarta) lebih istimewa dong. Nggak perlu banyak drama menutupi agenda politik dinasti. “Darah biru” dan gelar kebangsawanan bisa mendulang suara. Tidak perlu takut dibilang politik dinasti, karena darah biru itu harus dipamerkan. Tanpa perlu koar-koar janji manis apalagi beropini tajam biar kelihatan progresif.

Tenang, saya tidak mau menghakimi satu dua pihak. Tapi sudah saatnya kita mengakui gaya politik daerah istimewa ini. Bukankah ini yang dibanggakan warga Jogja? Percaturan politik Jogja minim suara lantang dan perlawanan pada sistem. Budaya dan garis keturunan lebih menentukan kepercayaan masyarakat.

Perang antarbangsawan

Saya pernah mengkritik caleg Jogja yang minim gebrakan. Semua tokoh politik Jogja sibuk bicara keistimewaan dan warisan budaya Jawa sebagai tema kampanye. Paling mentok sih bicara kesejahteraan yang kurang terukur. Ayolah, tidak ada caleg yang berani koar-koar masalah sampah dan UMR gitu?

Ketika semua calon terlihat sama, urusan latar belakang jadi daya tarik. Sejak 2013, Dapil DIY disebut sebagai laga pertarungan para bangsawan. Banyak caleg DPR RI yang bersaing ketat memiliki gelar dari Kraton Yogyakarta. Dari gelar berdasarkan keturunan, sampai gelar penghargaan.

Sebenarnya bukan bangsawan Kraton saja yang ikut berlaga. Bangsawan dari organisasi agama sampai dinasti politik Orba juga ikut meramaikan perang bintang ini. Namun darah biru dari monarki Mataram masih lebih diperhitungkan. Mau bukti nyata?

Silahkan cek siapa anggota DPD dari Jogja sejak 2004 sampai hari ini. Masih orang yang sama dengan gelar tertinggi nomor dua di monarki Jogja. Bayangkan, sudah 4 periode lho! Bukankah ini bukti nyata darah biru lebih dipercaya mayoritas warga Jogja? Belum lagi jajaran legislatif yang memajang gelar kebangsawanan di nama mereka. Yah, realitas yang istimewa.

Baca Juga:

Ganti Nama Tidak Menjamin Apa-apa, Bajingan Tetaplah Bajingan sekalipun Ganti Nama Seribu Kali

Bagaimana Warga Banten Bisa Bahagia kalau Kotanya Dicengkeram Korupsi dan Politik Dinasti?

Darah biru adalah jaminan integritas

“Apa salahnya sih bangsawan jadi caleg?”

Mungkin Anda berpikir demikian. Lho, yang nyalahin juga siapa. Mau bangsawan atau tukang becak bebas jadi caleg. Asalkan ada yang mengusung dan punya kapital politik. Toh nggak ada bedanya dengan politik dinasti kan? Yang penting niatnya baik.

Tapi apa kelebihan darah biru ketika berlaga di panggung politik?

Saya sih berharap ada mahasiswa sospol yang meneliti kecenderungan ini. Tapi dari yang saya temukan sehari-hari, darah biru tidak hanya menunjukkan status sosial semata. Namun dipandang sebagai jaminan integritas seorang caleg sebagai penyambung lidah rakyat Jogja.

Seorang bangsawan dipandang sebagai manusia unggul. Entah secara spiritual, ekonomi, maupun sosial. Apalagi kelompok bangsawan mendapat privilese ekonomi ketika monarki masih absolut. Karena warisan sudut pandang ini, para bangsawan akan mendapat tempat istimewa di masyarakat. Dari posisi duduk saat kenduri, sampai dipercaya memimpin desa.

Warisan ini masih tertanam dalam benak masyarakat. Apalagi budaya ikut memelihara status sosial macam ini. Akhirnya stigma unggul ini masih terpelihara sampai sekarang. Dari dipandang pintar, santun, sampai berkarisma. Bahkan perilaku kontra sosial mereka–para caleg–sering dimaklumi.

Tempatkan manusia dengan stigma di atas dalam masyarakat Jogja hari ini. Tentu mereka, para peserta pesta politik Jogja, punya modal sosial lebih kuat daripada “rakyat jelata.” Mau menolak seperti apa pun, Anda tidak bisa memungkiri realitas ini. Karena stigma ini didukung dengan semangat membela budaya dan kedaerahan yang masih kental. Tentu berbeda dengan daerah yang sudah kehilangan nafas feodal.

Minimal lihat barisan baliho yang mencemari mata kita. Berapa banyak sosok mbuh dari mana tampil sebagai wakil rakyat. Dan banyak yang menerima orang asing ini karena memiliki darah biru. Entah siapa dia, tapi tetap pantas bagi rakyat Jogja. Itulah realitas pahit politik Jogja.

Semua ingin jadi bangsawan demokrasi, politik Jogja memang begini

Anda sudah melihat bagaimana kebangsawanan menjadi privilese sosial. Bahkan ketika para bangsawan ini hidup dan berdinamika layaknya warga biasa. Maka jangan kaget ketika muncul bangsawan-bangsawan kecil. Bukan hanya bangsawan ormas dan dinasti politik, namun mereka yang mendaku sebagai si paling Jawa.

Muncul banyak sosok yang menyelimuti diri dengan feodalisme yang pekat. Padahal belum tentu dia punya garis keturunan ningrat. Namun personal branding seperti ini ternyata masih ampuh menggaet hati masyarakat Jogja.

Akhirnya pesta demokrasi menjadi ajang pamer kebangsawanan. Sisanya berusaha mendaku sebagai si paling budaya dan njawani. Itulah realitas politik Jogja. Bukan bertarung demi mewakili suara rakyat. Tapi pertarungan demi menjadi bangsawan di tataran demokrasi.

Eh, tapi bukannya dinamika politik Indonesia memang seperti itu? Ah, nggak juga. Banyak yang fokus memenangkan kepercayaan rakyat dan melunasi janjinya. Contohnya……….

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jogja Istimewa: Realitas atau Ilusi?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 November 2023 oleh

Tags: bangsawandarah birupolitik dinastipolitik jogja
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Meghan Markle Prince Harry jadi Bangsawan Kraton Jogja Terminal Mojok

Andai Meghan Markle dan Prince Harry Jadi Bangsawan Kraton Jogja

11 Maret 2021
Patrick Star dalam SpongeBob SquarePants Sebenarnya Orang Kaya yang Pura-pura Bodoh demi Bisa Bahagia

Patrick Star dalam SpongeBob SquarePants Sebenarnya Orang Kaya yang Pura-pura Bodoh demi Bisa Bahagia

1 Februari 2024
5 Istilah Mahasiswa Fakultas Kedokteran yang Menggambarkan Beratnya Kuliah di Sana Mojok.co

5 Istilah Mahasiswa Fakultas Kedokteran yang Menggambarkan Beratnya Kuliah di Sana

19 November 2023
Apa Efek Politik Dinasti dan Korupsi? Tentu Saja Warga yang Tak Bahagia. Bukan Begitu, Banten?

Bagaimana Warga Banten Bisa Bahagia kalau Kotanya Dicengkeram Korupsi dan Politik Dinasti?

6 Februari 2024
Daripada Blusukan Daring, Gibran Rakabuming Mending Lakukan Hal yang Lebih Wangun kaesang pilkada jokowi terminal mojok.co

Gibran, Dinasti Politik, dan Kustini Sri Purnomo yang Diragukan di Pilkada Sleman 2020

3 Agustus 2020
Ganti Nama Tidak Menjamin Apa-apa, Bajingan Tetaplah Bajingan sekalipun Ganti Nama Seribu Kali

Ganti Nama Tidak Menjamin Apa-apa, Bajingan Tetaplah Bajingan sekalipun Ganti Nama Seribu Kali

30 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

17 Januari 2026
4 Aturan Tidak Tertulis ketika Naik Transjakarta (Unsplash)

Hal-hal yang Perlu Pemula Ketahui Sebelum Menaiki Transjakarta Supaya Selamat dan Cepat Sampai Tujuan

16 Januari 2026
Ilustrasi Hadapi Banjir, Warga Pantura Paling Kuat Nikmati Kesengsaraan (Unsplash)

Orang Pantura Adalah Orang Paling Tabah, Mereka Paling Kuat Menghadapi Kesengsaraan karena Banjir

14 Januari 2026
Stasiun Slawi, Rute Tersepi yang (Masih) Menyimpan Kenangan Manis

Stasiun Slawi, Rute Tersepi yang (Masih) Menyimpan Kenangan Manis

15 Januari 2026
Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi Mojok.co

Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi

16 Januari 2026
Motor Supra, Motor Super yang Bikin Honda Jaya di Mata Rakyat (Sutrisno Gallery/Shutterstock.com)

Tanpa Motor Supra, Honda Tidak Akan Menjadi Brand Motor Terbaik yang Pernah Ada di Indonesia

16 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Berkah di Luar Arena: Ojol Jakarta Terciprat Bahagia dari “Pesta Rakyat” Indonesia Masters 2026 di Istora
  • Sebaiknya Memang Jangan Beli Rumah Subsidi, sebab Kamu Akan Rugi Berkali-kali
  • Warga Madiun Dipaksa Elus Dada: Kotanya Makin Cantik, tapi Integritas Pejabatnya Ternyata Bejat
  • Indonesia Masters 2026: Cerita Penonton Layar Kaca Rela Menembus 3 Jam Macet Jakarta demi Merasakan Atmosfer Tribun Istora
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.