Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Musik

Surakarta Menjadi Saksi Sejarah, Menyambut Kelahiran Kembali Lokananta

Akbar Ilham Gusti oleh Akbar Ilham Gusti
30 Juni 2023
A A
Surakarta Saksi Sejarah, Menyambut Kelahiran Kembali Lokananta (Unsplash)

Surakarta Saksi Sejarah, Menyambut Kelahiran Kembali Lokananta (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Lokananta, sebuah bangunan bersejarah di Kota Surakarta, yang pernah jaya pada masanya. Ia sempat mati suri. Namun, kini, ia sudah kembali meniti asanya lagi.

Lokananta merupakan titik nol musik indonesia, sekaligus landmark Kota Solo. Bangunan cagar budaya ini tepatnya terletak di Jalan Ahmad Yani Nomor 379 A, Kerten, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Tempat ini merupakan salah satu tempat bersejarah yang memiliki nilai historis tinggi.

Lokananta didirikan pada 29 Oktober 1956 oleh Raden Maladi. Pada masa itu, beliau menjabat sebagai Kepala Jawatan Radio Republik Indonesia (RRI). Nama Lokananta merujuk pada seperangkat gamelan surgawi dalam cerita pewayangan Jawa yang bisa berbunyi sendiri dengan nada yang indah. 

Dalam usahanya mendirikan Lokananta, Raden Maladi tidak sendirian. Beliau dibantu oleh Oetojo Soemowidjojo dan Raden Ngabehi Soegoto Soerjodipoero. Ketiga tokoh itu mendapat tugas dari Presiden Sukarno yang kala itu ingin mengurangi dominasi musik barat dan mendorong agar musik Indonesia bisa naik. Dan, semuanya, diawali dari Surakarta.

Lokananta: Titik nol musik Indonesia bermula dari Surakarta

Lokananta adalah “titik nol musik Indonesia”. Kamu bisa membaca informasi tersebut di sebuah plakat yang dipajang di museum Lokananta. Disebutkan bahwa Lokananta adalah titik nol dalam perjalanan negara untuk mendokumentasikan, mempromosikan, dan memodernisasi kebudayaan Indonesia yang dilakukan Bung Karno. 

Ada sekitar 53.000 keping piringan hitam dan 5.670 master rekaman bersejarah yang tersimpan. Jadi, bisa dibilang, Lokananta itu salah satu harta karun musik Indonesia. Di tempat ini juga musik Indonesia, dari musik tradisional, hingga musik pop diproduksi, digandakan, dan disebarluaskan ke seluruh stasiun RRI.

Mereka yang merekam suara di Surakarta

Waldjinah tercatat sebagai musisi pertama yang merekam suaranya di Lokananta pada 1959. Saat itu, beliau membawakan lagu “Kembang Katjang” karya musisi legendaris, Gesang Martohartono. 

Setelah itu, musisi-musisi besar tanah air lainnya seperti Gesang, Bubi Chen, Titiek Puspa, Bing Slamet, dan Sam Saimun turut serta menjajal magis Lokananta. Mereka menjadi saksi masa kejayaan musik di Surakarta pada era ’70an hingga ’80an. 

Baca Juga:

5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

Batik Solo Trans Memang Nyaman, tapi Nggak Ramah Mahasiswa, ke Kampus Harus Transit Sampai 3 Kali

Keputusan untuk beralih format dari medium piringan hitam ke kaset pada 1972 disambut dengan baik oleh publik. Setiap bulan, Lokananta mampu melepas 100 ribu keping kaset. 

Tak cuma musik dan lagu, Lokananta juga merekam audio seni pertunjukan. Misalnya seperti dongeng, cerita rakyat, wayang, dan ketoprak. Tercatat ada kepingan kaset dan piringan hitam cerita “Jaka Tingkir Tundung”, “Ande-Ande Lumut”, pentas dalang Ki Nartosabdo, sampai dagelan Basiyo dengan merek dagang Lokananta.

Zaman bergerak di Surakarta

Namun, nasib baik itu tak berlanjut setelah masuk periode ’90an hingga ‘2000an. Perkembangan industri musik dan dukungan finansial dari pemerintah tak lagi mencukupi. Lokananta terjerumus pada kebangkrutan. 

Bahkan, mulai 1998 dan puncaknya pada 2000, studio di Surakarta ini berhenti produksi. Lokananta juga sempat terlantar seiring dibubarkannya Departemen Penerangan pada era pemerintahan Presiden Gus Dur. Dibubarkannya Departemen tersebut membuat ia tidak lagi memiliki induk organisasi untuk bernaung.

Sejak ’90an hingga tahun 2022 lalu, Lokananta yang melegenda itu seolah hidup segan mati tak mau. Berbagai inisiatif melestarikan landmark sejarah Surakarta itu telah dilakukan oleh para seniman musik seperti mendiang Glenn Fredly, Pandai Besi (Efek Rumah Kaca), White Shoes and the Couples Company, Shaggydog, Didi Kempot, hingga Slank. 

Selain mereka, para relawan yang tergabung dalam Sahabat Lokananta juga turut membantu. Para seniman dan pegiat musik tersebut telah melakukan segala yang mereka bisa demi menjaga Lokananta yang melegenda itu tetap hidup.

Kabar baik dari Surakarta

Kini, para pegiat musik patut berbahagia. Saat ini, Lokananta telah eksis lagi dengan wajah baru nan berseri. Setelah sekian tahun menunggu wacana revitalisasi yang tak kunjung terealisasi, akhirnya harapan itu benar-benar terjadi. 

Kementerian BUMN melalui PT Danareksa (persero) dan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) melakukan revitalisasi pada 27 November 2022. Proses renovasi bangunan yang didesain langsung oleh arsitek ternama Indonesia, Andra Matin, akhirnya rampung pada 2 Juni 2023 lalu. 

Dulu hanya ada museum dan studio rekaman. Nah, saat ini, ruang-ruang yang ada sudah semakin maksimal dengan munculnya gerai F&B, UMKM terkurasi, galeri seni, musik, sejarah, perpustakaan, toko cenderamata, ruang konser, dan amphitheater.

PT Ruang Riang Lokananta ditunjuk oleh PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) menjadi operator yang baru. Bagian dari unit usaha M Bloc Group ini mendapat kontrak mengelola selama 10 tahun. 

Untuk merayakan dibuka kembalinya bangunan bersejarah tersebut, M Bloc Entertainment menggelar Festival Lokananta pada tanggal 3 sampai 4 Juni 2023 lalu. Festival ini diramaikan oleh sederet musisi-musisi ternama seperti David Bayu, Pamungkas, Project Pop, Sore, The Adams, Vina Panduwinata, Kla Project, Serta Fariz RM dan beberapa musisi besar lainnya. 

Festival yang menampilkan line up mentereng dari lintas generasi ini tergolong sukses. Ia seperti penanda awal yang baik untuk kelanjutan cerita Lokananta. Sebuah pagelaran yang segar, setelah ia dipugar. Dari Surakarta, kabar baik itu menyebar.

Penulis: Akbar Ilham Gusti

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Studio Lokananta: Studio Musik Tertua yang Tetap Berdiri meski Dihajar Digitalisasi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Juli 2023 oleh

Tags: Bing SlametBuby ChenBung Karnodidi kempotefek rumah kacaGesangGlenn Fredlyjawa tengahlokanantaSam SaimunShaggydogslanksolosurakartaTitiek PuspaWaldjinahWhite Shoes and the Couples Company
Akbar Ilham Gusti

Akbar Ilham Gusti

Mendalami dunia menulis. Tinggal di Sukoharjo, Jawa Tengah.

ArtikelTerkait

Pemalang Kota IKHLAS, tapi Makanan Khas Pemalang Bikin Penikmatnya Nggak Ikhlas pamulang, malang

Pemalang Kota IKHLAS, tapi Makanan Khas Pemalang Bikin Penikmatnya Nggak Ikhlas

10 November 2023
Review Bus Bumel Jogja-Solo Sebagai Solusi Jika Kehabisan Tiket Prameks

Review Bus Bumel Jogja-Solo Sebagai Solusi Jika Kehabisan Tiket Prameks

14 Februari 2020
4 Keistimewaan Kartasura selain Letaknya yang Strategis Terminal Mojok

Mengenal Kartasura, Kota Paling Strategis di Jawa Tengah. Mau ke Jogja Dekat, Solo apalagi!

15 September 2023
Meskipun Jadi Daerah dengan Akses Layanan Kesehatan Tersulit di Jawa Tengah, Saya Bersyukur Lahir dan Besar di Cilacap

Meskipun Jadi Daerah dengan Akses Layanan Kesehatan Tersulit di Jawa Tengah, Saya Bersyukur Lahir dan Besar di Cilacap

12 Agustus 2023
Stasiun Lempuyangan Surga Penumpang KRL Jogja Solo(Unsplash)

Derita Penumpang KRL Jogja Solo yang Naik Stasiun Tugu Jogja, Setelah Mencoba Sendiri Mending Naik dari Stasiun Lempuyangan

10 Juni 2025
Di Grobogan, Paving Block Lebih Direkomendasikan Jadi Lantai Rumah ketimbang Keramik

Di Grobogan, Paving Block Lebih Direkomendasikan Jadi Lantai Rumah ketimbang Keramik

26 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat Mojok.co

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

2 Februari 2026
Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Pasar Minggu Harus Ikuti Langkah Pasar Santa dan Blok M Square kalau Tidak Mau Mati!

4 Februari 2026
4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026
Alun-Alun Jember Nusantara yang Rusak (Lagi) Nggak Melulu Salah Warga, Ada Persoalan Lebih Besar di Baliknya Mojok.co

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

6 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan Mojok.co

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan

6 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.