Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Stoikisme Bukan Alat Justifikasi Mager dan Apatis!

Farrel Ahmad Syakur oleh Farrel Ahmad Syakur
27 Januari 2023
A A
Stoikisme Bukan Alat Justifikasi Mager dan Apatis!

Stoikisme Bukan Alat Justifikasi Mager dan Apatis! (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Belakangan ini, internet dan sosial media mendapati sebuah fenomena yang unik, yakni viralnya suatu aliran filsafat klasik bernama stoisisme atau yang lebih sering disebut stoikisme. Tersebarnya aliran filsafat ini di kalangan anak muda merupakan suatu fenomena yang langka, mengingat istilah filsafat sendiri lebih sering dikonotasikan sebagai suatu hal yang negatif. Biasanya kalo nggak dikaitin sama ateisme, pasti dikaitin sama madesu-isme (masa depan suram).

Tapi berbeda dengan stoikisme/filosofi teras, aliran filsafat ini malah sering disebut sangat relevan dengan kehidupan modern. Bahkan, stoikisme ini juga digadang-gadang menjadi obat mujarab bagi manusia-manusia modern di tengah kegilaan zaman. Hal-hal itulah yang membuat saya tertarik untuk menjerumuskan diri dan mempelajari aliran filsafat ini. Akan tetapi, semakin saya mendalami stoikisme, semakin tampak pula bahwa filsafat ini tidaklah sama persis dengan apa yang banyak didakwahkan di internet, bahkan cenderung mengalami distorsi informasi.

Pertama-tama mari kita ulik aliran filsafat ini secara historis. Dari sejarahnya, filsafat stoikisme ini lahir dari ketidakmujuran seorang juragan kaya bernama Zeno yang terdampar di Kota Athena dan akhirnya berguru pada seorang filsuf aliran cynicism bernama Crates. Pertemuan antara dua pola pikir inilah yang melahirkan stoikisme menjadi sebuah aliran filsafat yang menarik. Bayangkan saja, sebuah filsafat lahir dari pikiran koko-koko juragan 12 toko yang belajar tasawuf sembari semedi di Kaki Gunung Slamet.

Begitupun juga dengan stoikisme, banyak ajaran dari filsafat ini yang terkesan kontradiktif dan akhirnya banyak menciptakan miskonsepsi bagi para “umatnya”. Miskonsepsi ini semakin menjadi-jadi setelah stoikisme menjadi viral dan digaungkan oleh para poser yang mungkin belajar stoikisme juga cuman dari yutub. Salah satu miskonsepsi terbesar dari stoikisme saat ini adalah pandangan bahwa stoikisme merupakan aliran yang mengajarkan kita untuk apatis dan pasif terhadap kehidupan.

Pemahaman sesat ini biasanya didukung oleh salah satu doktrin dalam stoikisme yang disebut dikotomi kendali. Singkatnya, dikotomi kendali ini menjelaskan bahwa ada hal-hal yang bisa kita kendalikan (pikiran, persepsi, tindakan diri sendiri) dan ada yang tidak bisa kita kendalikan (kesuksesan, sikap orang lain, jodoh, resesi 2023, Indonesia juara AFF, dll), dan oleh karena itu hendaknya kita lebih berfokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan saja.

Kedengarannya sih nggak ada masalah dari konsep tersebut. Tapi emang dasarnya orang-orang sekarang suka nangkep sesuatu setengah-setengah, akibatnya filsafat sekeren ini malah jadi miskonsepsi besar. Untuk meluruskan miskonsepsi-miskonsepsi tersebut, mari kita usut kesesatan ini satu persatu, setajam silet.

Doktrin utama selaras dengan alam

Dari banyak narasi yang terpampang secara digital, cukup mudah untuk kita melihat bahwa narasi-narasi stoikisme mainstream lebih sering menempatkan dikotomi kendali sebagai doktrin utama dari filsafat stoikisme. Nggak murni salah juga, dikotomi kendali memang merupakan salah satu konsep esensial dalam filsafat ini.

Tapi jika dikaji lebih dalam, core of the core dari filsafat stoikisme ini sejatinya adalah doktrin untuk hidup selaras dengan alam beserta nilai-nilai kebajikan di dalamnya. Dalam doktrin ini dijelaskan bahwa manusia terbaik adalah manusia yang bisa memaksimalkan eksistensinya untuk mewujudkan sebaik-baiknya harmoni dan kebajikan sesuai hukum alam, tentunya dengan konteks masing-masing individu.

Baca Juga:

Apakah Menjadi Atlet Adalah Investasi Terburuk dalam Hidup Saya?

Mencibir Wacana Bodoh Menghapus Jurusan Filsafat karena Mereka Nggak Paham kalau Kuliah di Filsafat UGM Bikin Saya Bahagia Seumur Hidup

Lebih lanjut, seluruh konsep yang ada di stoikisme sendiri (termasuk dikotomi kendali) sebenarnya adalah subdoktrin untuk menuju keselarasan/harmoni tersebut. Maka dari itu, menjadi sebuah ketololan jika seorang stoik nggak peduli sama karut-marut dunia luar hanya karena menganggap itu bukan urusannya. Itu artinya dia telah mendahului sekaligus melanggar doktrin keselarasan alam dan layak kita dakwa sebagai pengikut stoikisme sekte mageran.

Apatheia bukan apatis

Dalam stoikisme, kita juga mengenal konsep kebahagian bernama apatheia. Konsep apatheia ini merupakan konsep stoik yang mendefinisikan kebahagiaan sebagai ketenangan atau ketiadaan emosi negatif dalam menghadapi segala situasi, bahkan di situasi yang membagongkan sekalipun. Tetapi kembali lagi, kebahagiaan ini juga tetap berlandaskan nilai kebajikan dan harmoni alam.

Berbicara mengenai apatheia, banyak orang yang salah kaprah mendefinisikan kebahagiaan apatheia ini sebagai kebahagiaan yang bertumpu pada sikap pasrah dan “nrimo” terhadap segala nasib yang menimpa.

Anggapan ini salah, kebahagiaan menurut konsep apatheia sejatinya lebih mengajarkan kepada seorang stoik untuk menjalani segala sesuatu dengan kepala dingin. Tetapi ketika terjadi suatu peristiwa yang melanggar nilai kebajikan, seorang stoik tidak boleh diam dan Ia juga dituntut untuk “mengambil tindakan” secara tenang dan bijaksana. Analoginya ya kali polisi bisa nrimo ngeliat orang nerobos lampu merah didiemin gitu aja, kan lumayan tuh buat…naik pangkat. #komediaman

Dikotomi kendali bukan dikosongi kendali

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, konsep dikotomi kendali ini bisa dibilang menjadi biang kerok permasalahan miskonsepsi nan ruwet ini. Secara hakiki, konsep dikotomi kendali sebenarnya berfungsi untuk memberikan kita pembatasan yang jelas antara sesuatu yang di bawah kendali kita dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya di bawah kendali kita, serta menjadi panduan kepada kita untuk tidak bergantung kepada hal-hal diluar kendali tersebut (hal-hal eksternal).

Meskipun begitu, tidak bergantung kepada hal-hal eksternal bukan berarti kita “mengosongkan” effort kita terhadap hal tersebut, seolah-olah kita tidak punya kendali sama sekali. Doktrin dikotomi kendali ini mengajarkan kepada kita untuk tetap menjalankan apa yang menjadi tugas kita, dan selebihnya biar alam yang bekerja.

Tujuan awal konsep tersebut adalah agar kita tidak terombang-ambing oleh kompleksitas alam semesta yang gak bisa kita kendaliin. Tapi dengan jadi apatis dan pasif, justru kita juga menjadi terombang-ambing sama kehidupan. Bahkan potensinya bukan cuma terombang-ambing, bisa-bisa kita jadi tenggelam ke dasar samudera kehidupan bersama para pecundang dan pengemis gift TikTok.

Kesimpulan

Jadi pada intinya, stoikisme ini bukan menyuruh kita untuk pasif dan apatis terhadap segala persoalan “takdiriyah” duniawi (cukuplah orang Jogja yang kaya gitu). Lebih dari itu, stoikisme adalah ilmu tentang kontrol diri untuk mencapai kedamaian dengan bertumpu pada hukum dan nilai kebajikan alam semesta.

So, kalo besok-besok kalian masih ketemu orang mager plus apatis berkedok penganut stoikisme, tempeleng aja mulutnya atas nama Marcus Aurelius.

Penulis: Farrel Ahmad Syakur
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 20 Sesat Logika versi Anak Jurusan Filsafat yang Kerap Terjadi di Medsos

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 27 Januari 2023 oleh

Tags: filsafatmiskonsepsistoikisme
Farrel Ahmad Syakur

Farrel Ahmad Syakur

Mahasiswa (berdompet) merakyat di Universitas Kerakyatan.

ArtikelTerkait

Plis ya, Obrolan Pengalaman Seks dan Edukasi seks Itu Hal yang Berbeda!

Plis ya, Obrolan Pengalaman Seks dan Edukasi Seks Itu Hal yang Berbeda!

14 Juni 2022
arti kalimat biksu tong kosong adalah isi isi adalah kosong kera sakti mojok.co

Inilah Ilmu yang Bisa Menjawab Makna ‘Kosong Adalah Isi, Isi Adalah Kosong’

29 Agustus 2020
Bahan Kimia Belum Tentu Berbahaya, dan Bahan Alami Tak Selalu Aman

Bahan Kimia Belum Tentu Berbahaya, dan Bahan Alami Tak Selalu Aman

22 Mei 2022
Belajar Tasawuf dari Film Superhero Dr. Strange

Belajar Tasawuf dari Film Superhero Doctor Strange

21 Maret 2020
hidung minimalis, pakai masker

Orang yang Nggak Mau Pakai Masker dan Bilang Kalau itu Haknya, Masuk Akal Nggak sih?

18 Mei 2020
Filsuf Kedai Kopi, Hobi Berdebat Filsafat Layaknya Dinosaurus Peradaban yang Harusnya Punah terminal mojok.co

Filsuf Kedai Kopi, Berdebat Filsafat Layaknya Dinosaurus Peradaban yang Harusnya Punah

29 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
4 Hal yang Harus Penumpang Ketahui tentang Stasiun Duri, Si Paling Sibuk dan Melelahkan se-Jakarta Barat

Stasiun Duri Lebih Bikin Stres dari Manggarai: Peron Sempit, Tangga Minim, Kereta Lama Datang

9 April 2026
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Aerox Motor Yamaha Paling Menderita dalam Sejarah (unsplash)

Aerox: Motor Yamaha Paling Menderita, Nama Baik dan Potensi Motor Ini Dibunuh oleh Pengguna Jamet nan Brengsek yang Ugal-ugalan di Jalan Raya

8 April 2026
Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial yang Cerdas Mojok.co

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial Paling Cerdas

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta
  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.