Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

4 Alasan Orang Madura Bakal Sulit Betah di Singapura

Hafizh Rafizal Adnan oleh Hafizh Rafizal Adnan
3 Desember 2022
A A
4 Alasan Orang Madura Bakal Sulit Betah di Singapura

4 Alasan Orang Madura Bakal Sulit Betah di Singapura (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai orang Madura swasta asal Situbondo, hidup di luar negeri memang sudah jadi impian tersendiri buat saya. Maklum saja, sejujurnya sejak kecil saya termasuk orang yang banyak mengeluh karena daerah saya terasa banyak keterbatasannya. Nggak heran saya jadi penasaran untuk merasakan bagaimana rasanya hidup di negara maju. Sampai akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk hijrah ke Singapura, satu-satunya negara maju di Asia Tenggara untuk melanjutkan kuliah. 

Memang betul, Singapura ini kualitas pendidikannya luar biasa, negaranya bersih, transportasi, dan tata kotanya juga rapi. Tapi, ternyata semua hal baik itu nggak membuat saya mudah untuk merasa betah merantau di sini, apalagi sudah terlanjur terbiasa dengan beberapa budaya Madura yang memang sudah melekat. Buat saya ada empat hal yang mungkin membuat orang Madura agak kesulitan untuk beradaptasi di Singapura, setidaknya berdasarkan pengalaman dan budaya saya sebagai orang Madura swasta.

#1 Makanan yang terlalu sehat tapi nggak enak

Makanan adalah hal pertama yang mungkin akan membuat orang Madura homesick saat pertama menjejakkan kaki di Singapura. Makanan madura biasanya identik dengan rasanya yang kuat, gurih, dan pedasnya nggak nanggung. Gabungan kemurahan hati pedagang Madura dalam menyajikan porsi hidangan dan adiksi terhadap penyedap rasa mungkin menjadi penyebab kuatnya rasa di hidangan khas Madura.

Sayangnya hal tersebut akan sulit ditemukan di Singapura. Sebagian besar makanan rasanya hambar, sambal pun nggak ada yang pedas. Paling kacau adalah ketika saya mencoba sambal pertama kali di Singapura yang rasanya manis banget dan tidak pedas sama sekali. Sebuah culture shock bagi orang yang secara khusus diajari makan pedas sejak kecil.

Jangankan mencari masakan khas Madura yang saya gandrungi, mencari restoran Indonesia yang rasanya cukup autentik saja agak sulit. Makanan di Singapura ini sepertinya diregulasi agar tidak terlalu banyak micin dan gula. Memang kadang sulit menyatukan aspek kesehatan dan kenikmatan.

#2 Ritual keagamaan yang kurang semarak

Orang Madura memang cukup identik dengan budaya islaminya yang sangat semarak. Mulai tradisi bulen molot (maulid nabi), slametden, dan kegiatan lain yang umumnya mengumpulkan banyak massa. Di Singapura mana ada tradisi begitu, wong di sini bahkan nggak ada libur maulid nabi dan isra’ mi`raj.

Masjid terdekat dari tempat saya saja jaraknya juga lumayan jauh untuk saya yang terbiasa dengan jarak antar masjid yang nyaris kurang dari satu kilometer. Dari tempat tinggal saya perlu jalan 15 sampai 20 menitan. Jangan harap ada suara azan, zikiran, salawatan, atau ibu-ibu pengajian. Di Singapura semua masjid sepertinya pakai speaker dalam saja. Ya walau saya sebenarnya agak sebal dengan speaker masjid yang dipakai asal-asalan oleh bocil yang lagi belajar ngaji, akhirnya saya rindu juga dengan kemeriahan ibadah yang rame khas orang Madura.

#3 Harga barang-barang yang bikin istighfar

Ada yang lebih sadis dari tradisi carok (berkelahi) orang Madura, yaitu ketegaannya dalam menawar harga. Orang Madura yang saya amati memang cukup price sensitive. Kalau ada yang lebih murah tentu saja akan lebih dipilih dan diupayakan. Ya wajar lah, baik di Madura mainland maupun di daerah Madura swasta, upah minimumnya tergolong rendah, begitu juga dengan biaya hidupnya.

Baca Juga:

Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

3 Tradisi Madura yang Melibatkan Sapi selain Kèrabhan Sapè yang Harus Kalian Tahu, biar Obrolan Nggak Itu-itu Aja

Maka nggak heran saat pertama saya hijrah ke Singapura, semua harga terlihat mahal sekali, apalagi di Singapura masih banyak produk Indonesia yang dijual. Susah untuk nggak membandingkan harga. Memang sangat disarankan untuk tidak mengkonversi harga barang Singapura ke harga rupiah, pasti akan sakit hati dibuatnya. Apalagi sekarang rupiah lagi anjlok-anjloknya.

#4 Terlalu kompetitif dan kurang santai

Menurut saya, orang Singapura dan Madura itu sama-sama pekerja keras. Kerja keras orang Singapura sudah sangat populer dengan budaya kiasu-nya, begitu juga dengan kerja keras warung Madura yang konon hanya akan tutup pas hari kiamat.

Tapi, ada satu hal yang orang Singapura perlu belajar dari orang Madura, yaitu seni hidup lebih santai dan berserah diri. Semua itu tidak lepas dengan falsafah kehidupan orang Madura bahwa segala hal di muka bumi itu milik Allah dan semua sudah ada ketetapanNya. Hanya orang Madura yang dengan yakin mengecer bensin di depan pom bensin Pertamina.

Kebiasaan pasrah itu agak membuat saya keteteran saat sampai di Singapura. Semua terasa seperti terburu-buru, serba kompetitif, dan kurang santai. Belum lagi banyak kabar kasus percobaan bunuh diri yang marak terjadi di lingkungan kampus. Nggak heran di sini banyak workshop pencegahan bunuh diri. Berbeda dengan orang Madura yang memang sudah santai dari sananya, tidak perlu lagi diajari untuk bersikap pasrah dan berserah.

Pada akhirnya semua ini memang soal sudut pandang. Sebagus-bagusnya Singapura dan segala kemajuan ekonomi dan pendidikannya, tetap aja tidak ada tempat yang sempurna. Mereka tetap perlu belajar seni hidup berserah diri. Begitu juga dengan Madura yang perlu memperbaiki kualitas pendidikan masyarakatnya agar tidak kalah bersaing tapi tetap tidak kehilangan filosofi hidup seimbangnya.

Buat saya pribadi, seaneh-anehnya kelakuan para warga Madura, tetap ada banyak hal yang sudah telanjur melekat dan pasti jadi kerinduan tersendiri ketika jauh dari rumah. Merantau memanglah cara terbaik untuk bisa lebih menghargai hal-hal kecil di rumah yang mungkin sebelumnya terasa biasa saja.

Penulis: Hafizh Rafizal Adnan
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Profesi yang Lekat dengan Orang Madura

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 Oktober 2025 oleh

Tags: culture shockmaduranusantara-mjksingapura
Hafizh Rafizal Adnan

Hafizh Rafizal Adnan

Pelajar bersuku Madura.

ArtikelTerkait

Bangkalan Madura Semakin Jauh dari Kata Sejahtera (Unsplash)

Satu Tahun yang Lalu Saya Meramal Bangkalan Madura Tidak Akan Berkembang, dan Sekarang Ramalan Itu Terbukti

13 April 2025
Culture Shock Wong Solo di Kota Kembang Bandung Terminal mojok

Culture Shock Wong Solo di Kota Kembang Bandung

26 Januari 2021
Banyak Sekolah Dasar di Bangkalan Madura Jadi Tanah Sengketa, Bukti Bahwa Pemerintah Tak Bisa Kerja

Banyak Sekolah Dasar di Bangkalan Madura Jadi Tanah Sengketa, Bukti Bahwa Pemerintah Tak Bisa Kerja

13 Desember 2024
Jeritan Petani Sumenep: Krisis Benih Tanaman yang Mengancam Kelangsungan Ekosistem Pertanian

Jeritan Petani Sumenep: Krisis Benih Tanaman yang Mengancam Kelangsungan Ekosistem Pertanian

25 Juli 2023
Madura United Membawa Saya Menemukan Keajaiban di Pamekasan (Unsplash)

Mengejar Madura United Hingga ke Pamekasan, Menemukan Harmoni dari Frasa Settong Dhere

24 Juli 2023
probolinggo jawa timur bromo malang mojok

Probolinggo Itu Kota di Jawa Timur, dan Kami Bukan Orang Madura meski Pakai Logat Madura

19 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

14 Januari 2026
Rute KRL Duri-Sudirman, Simbol Perjuangan Pekerja Jakarta (Unsplash)

Rute KRL dari Stasiun Duri ke Sudirman Adalah Rute KRL Paling Berkesan, Rute Ini Mengingatkan Saya akan Arti Sebuah Perjuangan dan Harapan

15 Januari 2026
Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

15 Januari 2026
8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

15 Januari 2026
Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Sidoarjo Bukan Sekadar “Kota Lumpur”, Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

14 Januari 2026
Ilustrasi Hadapi Banjir, Warga Pantura Paling Kuat Nikmati Kesengsaraan (Unsplash)

Orang Pantura Adalah Orang Paling Tabah, Mereka Paling Kuat Menghadapi Kesengsaraan karena Banjir

14 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.