Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Berkaca dari Gempa Cianjur: Edukasi Bencana Harga Mati, Tidak Boleh Ditawar Lagi!

Erma Kumala Dewi oleh Erma Kumala Dewi
26 November 2022
A A
Berkaca dari Gempa Cianjur Edukasi Bencana Harga Mati, Tidak Boleh Ditawar Lagi Terminal Mojok

Berkaca dari Gempa Cianjur Edukasi Bencana Harga Mati, Tidak Boleh Ditawar Lagi (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Rasanya semua orang sudah tahu bahwa Indonesia terletak di batas pertemuan 3 lempeng tektonik aktif. Soal konsekuensi bencana akibat aktivitas tektonik ini pun masyarakat sudah sangat mafhum. Namun soal kegempaan akibat aktivitas sesar, agaknya masyarakat masih belum familier. Padahal sesar juga merupakan fitur alami yang terbentuk akibat pergerakan lempeng bumi dan sangat berpotensi memicu gempa bumi. Selama lempeng bumi bergerak, akan terus lahir sesar-sesar baru.

Musibah gempa Cianjur (21/11/2022) membuka mata kita bahwa ada ancaman bencana yang sungguh nyata di bawah bumi kita berupa sesar aktif yang keberadaannya sering luput dari perhatian.

Peta Pusat Gempa Cianjur dan Zonasi KRB (Sumber Gambar: vsi.esdm.go.id)

Tantangan studi sesar di wilayah beriklim tropis

Mempelajari sesar di wilayah beriklim tropis masih menjadi pekerjaan yang berat. Namun bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Berbeda dengan wilayah-wilayah beriklim kering, kondisi Indonesia yang beriklim tropis dan lembap membuat intensitas pelapukan sangat tinggi. Akibatnya bidang sesar yang terbentuk di permukaan akan tererosi dan terkubur lapukan batuan, sehingga keberadaannya bisa jadi tidak terdeteksi. Keberadaan sesar umumnya baru disadari setelah terjadi gempa bumi besar.

Tebalnya soil dari pelapukan batuan ini pun mendatangkan masalah lain. Kondisi permukaan yang ditutupi sedimen lunak (endapan lepas atau proses lithfikasi belum sempurna) menyebabkan amplifikasi. Semakin lunak, maka amplifikasinya semakin besar. Akibatnya getaran gelombang seismik yang sampai ke permukaan akan mengalami penguatan dan punya daya rusak yang semakin besar. Apalagi jika pusat gempanya dangkal.

Kondisi akan semakin buruk jika relief permukaannya bergelombang, karena akan berpotensi muncul bencana ikutan berupa gerakan massa tanah dan longsor. Jika di permukaan terdapat banyak bangunan, kerugian yang ditimbulkan akibat bencana ini akan semakin besar.

Studi tentang sesar aktif di kawasan tropis ini sedang dikaji dengan serius beberpa dekade belakangan. Hasil studi tersebut bisa menjadi rekomendasi bagi perencanaan tata kota. Dan sudah seharusnya diimplementasikan oleh pemerintah, bukan hanya sebatas rekomendasi yang tak ditaati.

Kealpaan pemerintah dalam memberikan edukasi kebencanaan

Menurut pernyataan kepala BMKG, gempa Cianjur diakibatkan oleh aktivitas Sesar Cimandiri. Namun, ahli geologi dari Unpad membantah pernyataan tersebut dan menduga bahwa pemicu gempa Cianjur adalah aktivitas sesar baru yang belum teridentifikasi, mengingat lokasi gempa berada di utara jalur Sesar Cimandiri. Apa pun itu, yang jelas gempa katastropik di Cianjur menjadi cerminan kurangnya edukasi bencana bagi masyarakat.

Kejadian gempa-gempa besar yang terjadi di Cianjur itu sudah terjadi sejak masa yang sangat lampau. Berdasarkan magnitudonya, kekuatan gempa Cianjur yang terbaru sebenarnya tidak terlalu besar. Namun, ada beberapa faktor yang mengakibatkan besarnya kerusakan yang ditimbulkan. Di antaranya episenter gempa yang dangkal, banyaknya permukiman di sepanjang jalur gempa, dan—sangat mungkin—kurangnya kesiapan warga dalam menyikapi kejadian gempa.

Baca Juga:

Cianjur Sisi Selatan Masih Bobrok dan Belum Layak Jadi Kabupaten Baru, Mending Dipikir Ulang

Keresahan Saya Jadi Orang Cianjur, Daerah dengan SDM Terendah di Jawa Barat: Nggak Terima, sekalipun Itu Benar

Semakin tinggi intensitas bencananya, maka frekuensi kejadiannya akan semakin rendah. Jarangnya kejadian bencana besar membuat masyarakat terlena dengan ancaman bencana yang sebenarnya mengintai mereka. Sebenarnya hal ini sungguh bisa dimaklumi karena masyarakat awam kurang memahami kondisi geologi wilayah tinggalnya.

Walaupun keberadaan internet sangat memudahkan masyarakat mengakses informasi secara mandiri, bukan berarti pemerintah bisa cuci tangan dari tanggung jawab mengedukasi warganya. Edukasi bencana dari pemerintah tetap harus diberikan, agar informasi yang diterima masyarakat bisa seragam dan merata. Upaya ini sekaligus bermanfaat untuk meminimalisir misinterpretasi informasi dan mencegah merebaknya hoaks.

Namun sayangnya, di berbagai pemberitaan masih banyak pernyataan warga setempat yang menunjukkan ketidaktahuan mereka tentang adanya potensi bencana di bawah bumi yang mereka pijak. Menurut hasil wawancara BBC, seorang warga menyatakan bahwa mereka tidak pernah menerima edukasi kebencanaan apa pun dari pemerintah. Bahkan bisa jadi mereka tidak pernah mendengar nama Sesar Cimandiri karena memang tidak dibicarakan sesering Sesar Lembang.

Sungguh sebuah ironi yang memilukan. Mengingat kasus ini tidak hanya terjadi di Cianjur. Pada 2017 lalu, tirto.id pernah merilis artikel soal potensi gempa yang mengancam Jakarta akibat keberadaan Sesar Baribis. Parahnya, di atas jalur sesar itu masih ada saja yang mendirikan bangunan pencakar langit. Sudah barang tentu pendirian gedung-gedung tinggi itu tidak mungkin terjadi tanpa persetujuan pemerintah.

Urgensi edukasi kebencanaan bagi masyarakat

Kejadian gempa Cianjur menjadi katalis untuk membicarakan ulang sesar-sesar aktif lain yang mencacah Jawa Barat. Yang telah terbaring dalam diam di bawah gegap gempita perkotaan selama berabad-abad lamanya. Seharusnya selepas kejadian ini, pemerintah tidak lagi menutup mata terhadap potensi bencana akibat keberadaan sesar-sesar aktif di wilayahnya.

Jangan karena memuaskan kepentingan pemodal, keselamatan sampai perlu digadaikan. Jalur sesar dan lokasi rawan bencana lainnya harus benar-benar dimumkan secara transparan kepada masyarakat luas. Agar masyarakat bisa menghindari bermukim di kawasan rawan bencana. Atau minimal bisa memodifikasi konstruksi bangunan agar lebih tahan terhadap bencana.

Saat kejadian gempa kemarin, masih ada anggota dewan yang menganggap enteng prosedur penyelamatan diri di dalam ruangan. Tolong berhenti menganggap pelatihan mitigasi sebagai lelucon atau tindakan sia-sia belaka, karena bencana bisa menimpa kita kapan saja. Kejadian ini semakin menjadi bukti bahwa masih banyak masyarakat yang tidak memahami pentingnya edukasi kebencanaan. Pemerintah bisa memanfaatkan forum-forum masyarakat seperti arisan PKK, peribadatan kampung, atau rapat desa untuk memberikan edukasi kebencanaan kepada warga.

Untuk siswa sekolah, upaya mitigasi memang sudah disisipkan dalam kurikulum. Namun banyaknya korban anak-anak dalam kejadian gempa Cianjur kemarin membuat saya berpikir bahwa penyampaian materi mitigasi bencana belum berhasil. Saya rasa petugas BPBD setempat bisa meluangkan waktu untuk memberikan simulasi mitigasi bencana di sekolah-sekolah. Dalam hal ini, Jepang bisa menjadi contoh yang ideal untuk diteladani.

Edukasi bencana kepada masyarakat menjadi suatu keharusan yang tidak boleh ditawar. Masyarakat pun harus menerima edukasi ini dengan pikiran jernih dan mengamalkannya dengan sepenuh hati, bukan malah menuduh pemerintah sengaja menakut-nakuti masyarakat. Pada akhirnya, mitigasi merupakan upaya terbaik untuk meminimalisir kerugian akibat bencana. Sebab prediksi tidak bisa memberikan jawaban yang pasti kapan bencana akan terjadi.

Penulis: Erma Kumala Dewi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Kesaksian Korban Gempa Cianjur: Maaf Kami Terlambat Membawamu ke Rumah Sakit.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 25 November 2022 oleh

Tags: cianjuredukasi bencanagempa bumigempa cianjurmitigasi
Erma Kumala Dewi

Erma Kumala Dewi

Penggemar berat film kartun walaupun sudah berumur. Suka kulineran dan kekunoan.

ArtikelTerkait

Kesaksian Korban Gempa Cianjur Maaf, Kami Terlambat Membawamu ke Rumah Sakit Terminal Mojok

Kesaksian Korban Gempa Cianjur: Maaf, Kami Terlambat Membawamu ke Rumah Sakit

24 November 2022
Sejarah Terowongan Lampegan dan Misteri Keberadaan Nyi Sadea

Sejarah Terowongan Lampegan dan Misteri Keberadaan Nyi Sadea

18 Januari 2022
Japan Sinks: People of Hope: Pentingnya Peran Negara dalam Menangani Bencana

Demi Hidup yang Aman dari Bencana, Baiknya Kita Tidak Antisains

27 November 2022
Siap Sedia Hadapi Bencana dengan Tas Siaga Bencana Terminal Mojok

Siap Sedia Hadapi Bencana dengan Tas Siaga Bencana

22 November 2022
Keresahan Saya Jadi Orang Cianjur, Daerah dengan SDM Terendah di Jawa Barat: Nggak Terima, sekalipun Itu Benar

Keresahan Saya Jadi Orang Cianjur, Daerah dengan SDM Terendah di Jawa Barat: Nggak Terima, sekalipun Itu Benar

16 Mei 2025
Keunikan Stasiun Lampegan, Stasiun dengan Terowongan Kereta Api Tertua di Indonesia

Keunikan Stasiun Lampegan, Stasiun dengan Terowongan Kereta Api Tertua di Indonesia

28 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja (Unsplash)

Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja karena Semua Menjadi Budak Validasi, Bikin Saya Rindu Mudik ke Lamongan

24 Februari 2026
Tebet Eco Park, Spot Hits Jakarta Selatan yang Sering Bikin Bingung Pengunjung Mojok.co

Tebet Eco Park Adalah Mahakarya yang Tercoreng Bau Sungai yang Tak Kunjung Dibenahi

20 Februari 2026
3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain Mojok.co

3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain

21 Februari 2026
Rapat Pejabat Indonesia, Mahal di Konsumsi, tapi Minim Substansi. Lebih Fokus ke Gedung Rapat dan Konsumsi ketimbang Isi Rapat!

Orang Indonesia Suka Banget Rapat, tapi Nggak Suka Ambil Keputusan, Akhirnya ya, Rapat Lagi!

22 Februari 2026
Al Waqiah, Surah Favorit Bikin Tenang Meski Kehilangan Uang (Unsplash)

Al Waqiah, Surah Favorit yang Membuat Saya Lebih Tenang Meski Kehilangan Uang

20 Februari 2026
Jalan Mojokerto Mulai Banyak yang Berlubang, Gus Barra, Njenengan di Mana?

Jalan Mojokerto Mulai Banyak yang Berlubang, Gus Barra, Njenengan di Mana?

20 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur
  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT
  • Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi
  • Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.