Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Sarkasme terhadap Generasi Trending

Novri Karyadi Sahputra oleh Novri Karyadi Sahputra
1 November 2019
A A
Sarkasme terhadap Generasi Trending
Share on FacebookShare on Twitter

Sopan dan santun adalah indentitas bangsa ini, yang perlahan berubah haluan menjadi spam dan santuy. Kita gemar “menyampah” di media sosial untuk mendapatkan pengakuan yang absolut dan ketenaran kontemporer yang sebetulnya fana, lantas menjadi trending. Sampai akhirnya kita menjadi selebtweet atau influencer. Sulit memang menemukan kesopanan dan kesantunan dalam kolom komentar di platform media sosial mana pun.

Andai saja Nadiem Makarim yang “mengerti masa depan” itu sudah menjadi menteri pendidikan sebelum internet sebesar ini, beliau pasti sudah merancang program sopan santun dalam bermedia sosial di pendidikan dasar kita. Niscaya, sila keempat sedang kita nikmati di era digital sekarang.

Sudahlah, tidak berguna juga jika berandai-andai, setidaknya kita adalah generasi santuy bukan? Biarkan saja akal jari kita berdansa di atas ponsel pintar kita. Tidak perlu memikirkan perasaan orang lain, pun tidak perlu sok paling benar menasehati generasi sekarang. Toh tidak juga mempengaruhi yang bersangkutan, lagi pula ini kan negara demokrasi.

Ya begitulah, banyak hal yang dapat kita jadikan sebagai tameng yang jauh dari substansi. Namun terlihat masuk akal karena dibumbui dengan bahasa yang sok akademik nan arogan sehingga terjadilah penggiringan opini yang membuat kita menjadi generasi latah.

Wajar tidak saya sebut kita generasi latah? Wajar saja saya pikir mengingat kita bukan lagi generasi pecandu kokain, tapi pecandu konten. Di samping itu, kita semua memiliki passion yang sama: komen.

Jika Anda tidak setuju, coba saya tanya, tidakkah Anda ikut nimbrung saat Netijen Kesatuan Republik Indonesia ini memiliki public enemy? Inilah akar penyakit dari penghujatan duniawi. Kita selalu memandang suatu drama secara subjektif.

Namun kalau dipikir-pikir, apa jadinya Netijen Kesatuan Republik Indonesia ini tanpa drama? Bisa-bisa kita tidak mempunyai bahan untuk berjulid-ria dan akan sangat memprihatinkan sekali orang-orang kreatif di Twitter saat ini. Mereka tidak akan memiliki bahan untuk membuat meme atau tweet receh, yang kemudian di-repost oleh akun tweettagram untuk menambah pundi-pundi kekayaan.

Admin-admin tweettagram itu gemar menampung “sampah” di Twitter untuk mendapatkan pengakuan media sosial yang absolut dan ketenaran kontemporer, sampai akhirnya trending, mereka memiliki engagement rate yang tinggi dan sukses menjadi media partner. Panjang umur pembajakan!

Baca Juga:

4 Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Medsos X, dari Titip Menfess sampai Jasa Spam Tagih Utang

Drama Cina: Ending Gitu-gitu Aja, tapi Saya Nggak Pernah Skip Menontonnya

Tidak hanya menjadi generasi latah, perilaku sosial maya ini juga membentuk sifat yang plin-plan, tidak berani mengambil sikap. Beropini demi eksistensi dilakukan sekali, tapi pembelaan diri dilakukan berkali-kali. Sebab kita semua mungkin sudah menyadari bahwa sudah tidak ada lagi titik tengah bagi kebijaksanaan. Sebab, kita terlalu sibuk mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Oleh karena itu, di zaman sekarang kata “kritis” bukan lagi primadona.

Maka kita sudah sepakat dari awal, berselancar di media sosial bukanlah untuk mencari suatu kebenaran, melainkan panggung perhelatan silat jari antar dua kubu yang beradu atas suatu fenomena. Pemenang di antara kedua-belah kubu ini biasanya diukur dari kubu mana yang paling mayoritas.

Kita masih percaya bahwa kebenaran mutlak adalah kebenaran yang berasal dari kubu mayoritas. Kita sudah mulai tidak percaya pada media pemberitaan yang kredibel dengan alasan hoaks. Padahal, nyatanya hoaks banyak berkembang dari kelompok mayoritas itu sendiri, yang dengan infonya telihat masuk akal karena dibumbui dengan bahasa yang sok akademik nan arogan sehingga terjadilah penggiringan opini.

Kita juga lupa atau mungkin tidak tahu bahwa hakikat dari kebebasan masih memiliki batasan dan tanggung jawab. Masalahnya adalah kita bukanlah sekelompok homo sapiens modern yang paham akan hal itu. Kita tidak mau dinasehati karena kita merasa nasehat sama dengan mengatur. Akui saja bahwa kita memang manja dan selalu ingin menang sendiri. Perlahan membentuk kita menjadi orang-orang yang tidak peka dan berperilaku cuek.

Perilaku cuek di dunia maya ini yang akhirnya menular ke kehidupan nyata kita. Kita cuek terhadap lingkungan, cuek terhadap tradisi budaya, cuek terhadap moral, cuek dengan tata krama, dan cuek dengan apa yang dikatakan orang lain. Ya, untuk yang terakhir itu tentu kita harus cuek. Itu kunci kesuksesan.

Lalu apa yang benar? Saya tidak tahu. Kita hidup di mana kita disuguhkan banyak pilihan. Benar dan salah sudah tidak ditimbangan yang sama lagi. Semua sama benarnya dan semua sama salahnya. Pertanyaan sebenarnya adalah Anda, saya, dan mereka berada di kubu yang mana? Tidak perlu muluk-muluklah berbicara soal ideologi, sekarang ideologi sudah dapat sefleksibel klarifikasi. Saya yakin masalah dan perilaku sosial seperti sekarang ini sudah ada sejak dulu. Bedanya adalah, di zaman ini kita lebih narsistik.

Tenang saja, sikap sinis saya ini bukan untuk menyudutkan generasi sekarang. Ini bukan salah kita. Ini salah pemerintah. Panjang umur antek-antek kambing hitam! Bukan. Ini bukan soal politik. Saya tahu itu menarik, tapi perilaku sosial lebih menggelitik.

BACA JUGA Twitter adalah Rumah dari Media Sosial atau tulisan Novri Karyadi Sahputra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 November 2019 oleh

Tags: Media Sosialtrendingviral
Novri Karyadi Sahputra

Novri Karyadi Sahputra

ArtikelTerkait

Grup Facebook Warga Demak Nggak Kalah Gayeng dari Info Cegatan Jogja terminal mojok.co

Menuai Banyak Likes, Tapi Mampus Dikoyak Sepi

5 September 2019
Living in a Bubble: Ketika Media Sosial Digunakan Penguasa untuk Membungkam Demokrasi

Living in a Bubble: Ketika Media Sosial Digunakan Penguasa untuk Membungkam Demokrasi

18 Desember 2019
Dari Friendster Sampai Instagram: Mixtape Nostalgia Media Sosial dari10 Tahun Lalu terminal mojok.co

Dari Friendster Sampai Instagram: Mixtape Nostalgia Media Sosial dari 10 Tahun Lalu

2 Desember 2020
Repost Story Hampers Kiriman Sendiri Itu Maksudnya Gimana_ terminal mojok

Mohon Maaf, Repost Story Hampers Kiriman Sendiri Itu Maksudnya Gimana?

13 Mei 2021
3 Ciri Giveaway Abal-abal yang Bikin Orang Tertipu terminal mojok.co

3 Ciri Giveaway Abal-abal yang Bikin Orang Tertipu

28 November 2020
4 Dosa Besar yang Sering Dilakukan oleh Motivator

4 Dosa Besar yang Sering Dilakukan oleh Motivator

27 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi

6 Februari 2026
Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan Mojok.co

5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.