Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Buku

Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan: Cak Rusdi dan Dedikasinya Terhadap Jurnalisme

Fatimatuz Zahra oleh Fatimatuz Zahra
11 Mei 2022
A A
Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan Cak Rusdi dan Dedikasinya Terhadap Jurnalisme Terminal Mojok

Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan Cak Rusdi dan Dedikasinya Terhadap Jurnalisme (Buku Mojok)

Share on FacebookShare on Twitter

Judul: Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan
Penulis: Rusdi Mathari
Penerbit: Buku Mojok
Tebal Halaman: 258 Halaman
Tahun Terbit : 2018

Kalau ada seseorang yang menghabiskan seperempat abad dalam hidupnya untuk sesuatu, saya yakin kemungkinan alasannya hanya ada dua. Pertama, terjebak dan tidak tahu jalan keluar. Kedua, karena cinta. Dan apa yang dilakukan oleh Cak Rusdi, menjadi pewarta selama 25 tahun adalah salah satu contoh aplikasi alasan yang kedua, sekalipun beliau mengutukinya beberapa kali.

Buku Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan yang diterbitkan oleh penerbit Buku Mojok merekam pikiran Cak Rusdi tentang dunia yang ia hidupi dan menghidupinya selama seperempat abad. Kumpulan esainya yang tahun ini telah dicetak ulang untuk kedua kalinya ini dibuka dengan sebuah kata pengantar manis dari anaknya.

Adalah Voja Alfatih, yang konon “dipaksa” membaca tulisan ayahnya, baik melalui jalur permintaan tolong pemeriksaan esai maupun melalui cerita yang diperdengarkan. Voja juga menulis nasihat almarhum ayahnya yang telah membebaskannya untuk menempuh jalan karier apa pun, selama tidak menjadi wartawan. Sebuah “plot twist” yang mungkin mengagetkan pembaca, tapi tidak bagi pembaca yang sudah tahu seperti apa rupanya karier seorang wartawan.

Wartawan yang sedang mewawancarai narasumber (Muhammad Shahab/Shutterstock.com)

Pada bab pertama, Cak Rusdi menceritakan banyak kejadian di masa lampau yang ia beri judul “Menjadi Pewarta”. Membaca bagian ini dapat membantu kita memahami kenapa buku ini diberi judul Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan, karena pada praktiknya tidak ada satu berita pun yang lahir tanpa campur tangan pemilik modal yang menggerakkan usaha media. Beberapa—yang sekarang justru jumlahnya semakin banyak—justru digerakkan oleh kepentingan politik tertentu. Hal yang melucuti habis konsep ideal sebuah media dan tugas pewarta yang mestinya bebas dari segala kepentingan selain kepentingan lahirnya kejernihan informasi kepada masyarakat.

Esai pertama dalam bab ini ditulis Cak Rusdi sebagai gambaran rasa hormatnya kepada pendiri Kompas Grup, Jakob Oetama. Cak Rusdi bahkan menyimpan sebuah niat untuk suatu hari berkesempatan mewawancarai Jakob. Dalam esai ini, Cak Rusdi juga menceritakan bagaimana sikap Jakob sebagai pemilik modal sebuah media ternama yang turut menentukan arah pertumbuhan media di masa Orde Baru.

PK Ojong dan Jakob Oetama, founding fathers Kompas Gramedia Grup (Antonius Sulistyo/Shutterstock.com)

Esai lain yang tak kalah mencuri perhatian pada bab ini adalah esai tentang seorang penduduk Mesir bernama Wael dan lahirnya jurnalisme warga dalam sejarah dunia. Ada pula esai berjudul “Wartawan” yang menceritakan secara ringkas namun detail tentang perjalanan karier Cak Rusdi sebagai wartawan.

Pada bab kedua, Cak Rusdi merekam berbagai jenis borok wartawan dan dunia jurnalistik. Pada esai yang berjudul “Wartawan dan Kebohongan”, Cak Rusdi mengisahkan kebohongan seorang wartawan The Washington Post yang menghebohkan seluruh kota akibat cerita fiktifnya. Usut punya usut, cerita tersebut dilahirkan akibat tekanan terus menerus dari sang redaktur supaya reporternya menghasilkan sesuatu.

Baca Juga:

Mindfulness Parenting Mengajari Saya untuk Tidak Menurunkan Trauma kepada Anak Masa Depan Saya

Kabar Buruk Hari Ini: Perjalanan Seorang Mawa Kresna Selama Menjadi Jurnalis

Hal ini mengingatkan saya pada salah satu episode kartun SpongeBob yang berjudul “The Krabby Kronicle” yang menarasikan keserakahan Tuan Krab untuk meraup untung lebih dari media yang dibangunnya. Ia kemudian meminta SpongeBob mengarang berbagai cerita fiktif nan clickbait. Kondisi yang mirip dengan esai Cak Rusdi, pun dengan kondisi jurnalisme di Indonesia saat ini.

Lalu pada bab selanjutnya, Cak Rusdi banyak bercerita tentang berbagai peristiwa yang terjadi di media. Mulai dari penyerangan majalah Charlie Hebdo di Prancis, PHK massal wartawan Trust yang juga melibatkan dirinya, hingga Kematian Soeharto yang “menyusahkan” Tempo.

Dalam esai berjudul “Bahkan Hingga Mati, Soeharto Tak Berpihak ke Tempo” Cak Rusdi menceritakan betapa tak hanya semasa hidup Soeharto sengit kepada Tempo, saat kematiannya pun Soeharto membawa majalah Tempo mengalami kerugian finansial hingga berujung konflik dengan warga Katolik.

“Soeharto kok ya tega kepada Tempo, mati pada saat majalah itu sudah mau naik cetak,” seloroh Cak Rusdi kepada Bambang Bujono dan Nugroho Dewanto.

Patung Soeharto yang ada di Sleman Yogyakarta (Syarif Abdurrahman/Shutterstock.com)

Pada bagian akhir buku Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan, Cak Rusdi mengabadikan beberapa cerita yang menerangkan kepada kita, akan seperti apa masa depan media di Indonesia. Salah satu tulisan yang mengakhiri buku ini adalah esai berjudul “Mari Menjual Agama Bu Hera” yang memotret kejadian pra-pilpres yang diwarnai dengan “gorengan” isu SARA, khususnya pada pilpres 2010 yang melibatkan identitas pribadi Herawati Boediono (istri cawapres Boediono). Ternyata, hal serupa dalam versi lebih parah, dapat kita rasakan sendiri hingga hari ini. Betapa politik identitas telah menjadi bagian tak terpisahkan untuk mendongkrak elektabilitas calon pejabat.

Sebagai seorang pewarta pemula, membaca buku ini membuat saya ikut tertawa getir atas apa yang saya kerjakan belakangan ini. Tapi juga membuat saya lebih lega, karena ternyata jadi pewarta nggak harus selalu idealis-idealis amat. Toh, apalah artinya idealisme seorang wartawan di hadapan para pemilik modal dan para redaktur pendulang klik.

Buku ini membawa saya menjelajah ke berbagai suasana yang mungkin tidak dapat saya temukan dari layar depan media, atau kalaupun ada, akan tertumpuk jutaan artikel clickbait lainnya.

Cak Rusdi dalam karyanya ini juga menampakkan kegelisahannya akan masa depan media di Indonesia yang sudah mulai terlihat kurang baik, bahkan saat ia masih menjadi pewarta.

Buku ini sekaligus menjadi saksi bahwa Cak Rusdi adalah orang yang mendedikasikan dirinya untuk kepentingan jurnalisme di Indonesia.

Penulis: Fatimatuz Zahra
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 3… 2… 1… Action! Membaca Perspektif Mantan Kru TV tentang Dunia TV.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 10 Mei 2022 oleh

Tags: Buku Mojokcak rusdiKarena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan
Fatimatuz Zahra

Fatimatuz Zahra

Sedang belajar tentang manusia dan cara menjadi manusia.

ArtikelTerkait

Anatomi Perasaan Ibu oleh Sophia Mega: Ibu Tak Harus Selalu Sempurna

Anatomi Perasaan Ibu oleh Sophia Mega: Ibu Tak Harus Selalu Sempurna

15 September 2023
Melawan Nafsu Merusak Bumi : Menggali Makna Ekologis dari Ayat Al-Qur'an dan Hadis

Melawan Nafsu Merusak Bumi: Menggali Makna Ekologis dari Ayat Al-Qur’an dan Hadis

3 Juli 2022
Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam Menjelajahi Beragam Reportase Bersama Cak Rusdi Terminal Mojok

Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam: Menjelajahi Reportase Beragam Kisah Bersama Cak Rusdi

31 Mei 2022
Parade yang Tak Pernah Usai Teriakan dari Mereka yang Dipinggirkan Terminal Mojok

Parade yang Tak Pernah Usai: Teriakan dari Mereka yang Dipinggirkan

7 Juni 2022
Semua Lelah yang Perlu Kita Rasakan Saat Dewasa oleh Mila Alkhansah: Belajar Bertumbuh Bersama Luka

Semua Lelah yang Perlu Kita Rasakan Saat Dewasa oleh Mila Alkhansah: Belajar Bertumbuh Bersama Luka

15 September 2023
Tidak Apa-apa Sebab Kita Saling Cinta

Tidak Apa-apa Sebab Kita Saling Cinta: Kejujuran yang Megah dan Mahal

28 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Motor Supra, Motor Super yang Bikin Honda Jaya di Mata Rakyat (Sutrisno Gallery/Shutterstock.com)

Tanpa Motor Supra, Honda Tidak Akan Menjadi Brand Motor Terbaik yang Pernah Ada di Indonesia

16 Januari 2026
Sisi Gelap Nama Purwokerto dan Purwakarta yang Bikin Pusing (Unsplash)

Sisi Gelap dari Kemiripan Nama Purwokerto dan Purwakarta yang Bikin Pusing

19 Januari 2026
Kasta Nescafe Kaleng di Indomaret dari yang Berkelas sampai yang Mending Nggak Usah Ada

Kasta Nescafe Kaleng di Indomaret dari yang Berkelas sampai yang Mending Nggak Usah Ada

19 Januari 2026
Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

15 Januari 2026
Belanja Furnitur Mending di IKEA Atau Informa? Ini Dia Jawabannya

Belanja Furnitur Mending di IKEA Atau Informa? Ini Dia Jawabannya

18 Januari 2026
UT, Kampus Terbaik Tempat Mahasiswa Tangguh yang Diam-diam Berjuang dan Bertahan Demi Masa Depan

UT, Kampus Terbaik Tempat Mahasiswa Tangguh yang Diam-diam Berjuang dan Bertahan Demi Masa Depan

19 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Berkah di Luar Arena: Ojol Jakarta Terciprat Bahagia dari “Pesta Rakyat” Indonesia Masters 2026 di Istora
  • Sebaiknya Memang Jangan Beli Rumah Subsidi, sebab Kamu Akan Rugi Berkali-kali
  • Warga Madiun Dipaksa Elus Dada: Kotanya Makin Cantik, tapi Integritas Pejabatnya Ternyata Bejat
  • Indonesia Masters 2026: Cerita Penonton Layar Kaca Rela Menembus 3 Jam Macet Jakarta demi Merasakan Atmosfer Tribun Istora
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.