Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Ortu Bebal Rating yang Masih Ngeyel Nonton Joker Bareng Anak Kecil

Awal Hasan oleh Awal Hasan
7 Oktober 2019
A A
joker film review bioskop kekerasan rating R D 17 bawa anak ke bioskop kekerasan joaquin phoenix

joker film review bioskop kekerasan rating R D 17 bawa anak ke bioskop kekerasan joaquin phoenix

Share on FacebookShare on Twitter

Ngajak anak kecil nonton film Joker yang ratingnya 17 tahun ke atas, si anak nangis pas adegan sadis, tapi nggak dibawa keluar studio sampai film bubar. Monmap, sampean waras?

[Spoiler alert]

Ada beberapa adegan yang menjadi puncak eskalasi kekerasan sekaligus makin meresmikan perubahan Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) menjadi Joker dalam film Joker (2019). Yang paling berkesan, menurut saya, adalah pembunuhan di kamar apartemen.

Korbannya kawannya sendiri, Randal, badut penghibur di bekas tempat kerja Arthur. Arthur tampak masih menyimpan dendam. Randal memberinya pistol secara cuma-cuma untuk perlindungan diri, tapi kemudian mengklaim Arthur membelinya dengan cara berutang.

Metodenya efektif sekaligus sadis: leher dan mata kiri Randal ditusuk gunting kecil, lalu kepalanya dihantam-hantamkan beberapa kali ke tembok. Cipratan darah menodai wajah Arthur yang sudah dipoles riasan warna putih. Ia lalu duduk sambil terengah-engah di samping mayat Randal.

Saya menyaksikan adegan itu di bioskop, pekan lalu. Sementara saya dan penonton lain terkesan, tangisan seorang anak kecil pecah. Volumenya lumayan keras. Durasinya juga cukup lama. Saya yang awalnya geleng-geleng heran “Kok bisa anak kecil nonton film rating dewasa?” lama-lama terganggu. Penonton di kursi sebelah atas sampai ada yang setengah teriak “Keluar, keluar aja.”

Apakah si anak dan pendampingnya benar-benar keluar? Tentu tidak. Mereka lanjut nonton sampai tuntas, yang artinya si anak berhadapan dengan adegan kekerasan vulgar lain dalam karya terbaru sutradara Todd Phillip itu.

Film selesai. Lampu studio XXI Kemang Village dinyalakan. Saya akhirnya bisa melihat si anak itu, dan lebih syok lagi. Usianya mungkin baru 4-5 tahun. Ia satu rombongan bersama bapak, ibu, dan sepertinya kakak perempuan yang berumur remaja.

Baca Juga:

Pesan dari orang tua untuk sesama orang tua, stop paksa anak yang baru masuk SD jadi juara kelas

Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer

Mereka keluar studio dengan gerakan cepat, menggagalkan rencana saya yang mau nanya-nanya untuk menghindarkan pikiran suuzon bahwa si ortu adalah tipe buta atau bebal rating.

Keduanya spesies yang serupa tapi tak sama. Ortu buta rating bisa mengajak anak kecilnya nonton Deadpool (2016) tanpa rasa bersalah karena memang tidak tahu atau tidak mau mencari tahu ratingnya.

Mereka barangkali cuma termakan hype bahwa ada film superhero Marvel baru, tingkahnya konyol, kostumnya keren, aktornya ngguanteng pula, lalu berpikir: Ayo, ayo, ke bioskop, ajak anak-anak!

Deadpool film anti-hero, btw.

Kedengarannya bodoh ya. Tapi ini nyata terjadi, dan terulang lagi pada pemutaran Deadpool 2 (2018). Tahu-tahu mereka ngomel di medsos karena film menampilkan badan dibelah pedang, isi kepala berhamburan pas diterjang peluru, makian kasar, sampai adegan telanjang.

YA HELLOWW~~ Namanya aja film dengan rating R (restricted) yang artinya, penonton di bawah usia 17 tahun harus didampingi oleh orang tua atau orang dewasa (yang tidak pekok, tentu saja).

Joker juga diberi rating R. Tapi itu di Amrik. Kalau si ortu mau meluangkan waktu untuk mengecek laman Cinema XXI atau Lembaga Sensor Film (LSF), ia pasti tahu Joker dilabeli rating D+17. Film kategori ini halal untuk penonton di atas 17 tahun tapi haram untuk yang di bawah 17 tahun. Jadi ya maklum adegan kekerasannya nggak disensor.

Problemnya: Lebih percaya rating R atau D+17?

Dalam kasus Joker, saya mendukung yang kedua. Ceritanya jauh lebih gelap ketimbang Joker versi Heath Ledger di The Dark Knight (2008). Bahkan boleh dibilang film adaptasi komik dengan narasi paling depresif.

Bayangkan anak usia 4-5 tahun menonton karakter yang dibanting-banting tanpa ampun, secara fisik maupun mental, oleh orang asing maupun yang terdekat, lalu di beberapa momentum ia sebuas para penyiksa jenderal di film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI (1984).

Adegan kekerasannya tidak dilakukan for-the-sake-of-humor alias lucu-lucuan seperti Deadpool, lho. Gangguan psikologis hingga praktik bullying membuat Arthur melakukan kekerasan, dan itu perbuat karena ia menyukainya. Begitulah Joker. Ia punya standar humor yang tidak manusiawi sejak menjadi pasangan benci-tapi-rindu-nya Batman di komik DC.

Jika bukan buta, ortu si anak yang nangis mungkin tipe bebal rating. Ortu jenis ini tahu rating Joker versi LSF, paham kalau anak kecil dilarang ikut nonton, tapi tetap membandel dengan alasan akan melakukan pendampingan sesuai pedoman menonton film rating R.

Tapi, Pak, Bu, pendampingan itu gampang di teori, susah di praktik.

Untuk film dewasa yang adegan kekerasannya sering datang tiba-tiba, amat sangat mungkin si pendamping akan terlambat menutup mata si anak.

Lha gimana, yang dewasa aja sering dibikin copot jantung. Contohnya di adegan pembunuhan Randal, penonton dewasa aja sampai merinding disko, ya wajar lah kalo si anak mewek gak uwis-uwis.

Lebih krusial lagi, pendampingan harus tetap memperhatikan reaksi si anak setelah kecolongan melihat adegan yang seharusnya tidak ia lihat.

Kalau si anak sampai nangis, ya segera dikeluarkan dari bioskop to, Pak, Bu…. Reaksi itu tanda si anak mengalami trauma. Kata psikolog, trauma punya kemungkinan akan bertahan sampai dewasa, juga mampu memengaruhi perkembangan emosionalnya.

Atau jangan-jangan sampean memang sedang mendidik si anak biar gedenya jadi Joker juga? Idih, jadi ortu yang bener dulu, nggak usah sok edgy!

BACA JUGA Joker Kali Ini Humanis dan Kita Banget atau tulisan Awal Hasan lainnya. Follow Facebook Awal Hasan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Ilustrasi dari @jokermovie

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2019 oleh

Tags: AnakBioskopjokerOrang Tua
Awal Hasan

Awal Hasan

ArtikelTerkait

tuyul orang tua bungkuk hantu mojok

Penjelasan tentang Mitos Orang yang Jalannya Bungkuk Tandanya Memelihara Tuyul

15 Juli 2020
Nonton Film Horor di Mall Mati Pengalaman Unik di Mall Hermes Place Polonia Medan

Nonton Film Horor di Mall “Mati”: Pengalaman Unik di Mall Hermes Place Polonia Medan

3 November 2025
Mengenal Fase Falik pada Anak dan Tips Menghadapinya Terminal Mojok

Apa Itu Fase Falik pada Anak dan Cara Menghadapinya

8 November 2022
J-Walk Mall Jogja Bikin Kapok Pengunjung yang Datang

J-Walk Mall Jogja Bikin Kapok Pengunjung yang Datang

22 Februari 2024
4 Pesan Drakor Juvenile Justice yang Penting untuk Parenting Terminal Mojok.co

4 Pesan Drakor Juvenile Justice yang Penting untuk Parenting

1 Maret 2022
Alasan Orang Tua Tidak Memasukkan UT sebagai Pilihan Kampus Anaknya

3 Ciri Orang Tua yang Nggak akan Dihormati Anak Muda

7 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa?

Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa?

7 Agustus 2026
Bendungan Rowo Jombor Klaten Membahayakan Pengunjung (Unsplash)

Stigma orang yang nongkrong di Rowo Jombor adalah jamet itu konyol, tapi dampaknya luar biasa

6 Agustus 2026
Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam menyimpan keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga Mojok.co

Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam punya keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga

5 Agustus 2026
Sadar nggak, hampir tiap stasiun punya outlet Roti O, ternyata ini alasannya Mojok.co

Sadar nggak, hampir tiap stasiun kereta punya outlet Roti O, ternyata ini alasannya

5 Agustus 2026
5 Peringatan untuk wargi Jakarta yang nafsu pindah ke Salatiga (Unsplash)

5 Peringatan untuk wargi Jakarta yang nafsu banget mau pindah ke Salatiga

2 Agustus 2026
Nonton timnas Indonesia di Youtube Reza Arap memang aneh (Wikimedia Commons)

Nonton timnas Indonesia di Youtube Reza Arap memang aneh, komentator nggak jelas, tapi jangan menghujat dulu

1 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.