Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

4 Hal Jadi Mahasiswa UGM Itu Nggak Enak

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
7 Desember 2021
A A
4 Hal Jadi Mahasiswa UGM Itu Nggak Enak terminal mojok.co
Share on FacebookShare on Twitter

Kalau ditanya siapa perdana menteri terbaik dalam sejarah nusantara, saya akan menyebut Gajah Mada dan Luhut Binsar Panjaitan. Kalau menyebut salah satu universitas terbaik Indonesia, saya akan menyebut Universitas Gadjah Mada (UGM).

Namun, jangan bayangkan FTV, apalagi kehidupan seperti film Holywood. Jadi mahasiswa UGM bukanlah drama yang penuh cita dan cinta. Jadi mahasiswa UGM memang biasa saja kalau tidak bisa dibilang tidak sesuai ekspetasi. Apalagi membayangkan Anda menabrak lawan jenis lalu jatuh cinta. Sebaiknya, Anda segera cuci muka agar tidak terlalu halu.

Jujur saja, saya bilang demikian bukan karena telat lulus. Tapi sebagai lulusan yang 7 tahun ndekem di UGM, saya merasa kompeten untuk mereview kampus dengan jas almamater yang warnanya agak “wagu” ini. Apa yang banyak dimimpikan calon Gamada memang sering berbeda dari realita, kok.

Jadi daripada sibuk berkhayal, berikut saya sampaikan realita jadi mahasiswa UGM. Tentu sesuai dengan apa yang saya lihat dan rasa. Jadi, mari saya hantarkan Anda menuju UGM undercover.

#1 Jalanan sekitar UGM bisa mengganggu kesehatan mental Anda

Mari saya buka dari perkara infrastruktur, terutaman akses jalan. Mungkin dalam benak Gamada, jalanan UGM akan semulus jalan tol. Kan kampus terbaik, pasti perkara infrastruktur akan layak dan nyaman dilalui. Sayang sekali, mimpi Anda akan dipukul telak oleh realita.

Meskipun lulusan UGM banyak yang terlibat dalam pembangunan skala nasional, tapi jalan raya di sekitar UGM jauh dari kata layak. Batako lepas dan tidak rata masih disempurnakan oleh polisi tidur yang ukurannya naudzubillah. Kalau polisi tidur biasa bisa disebut perwira muda, polisi tidur di UGM setingkat Kabareskrim

Sudah rusak, jalan kampung di sekitar UGM juga selayaknya labirin. Apabila Anda tersesat di kasultanan Pogung, saya sarankan untuk menetap sekalian. Bisa jadi, Anda tidak bisa keluar sampai Jokowi 4 periode. Sungguh, melalui jalanan UGM benar-benar menguras mental.

#2 Beda fakultas serasa beda universitas

Misalnya, Anda menjadi mahasiswa di Fakultas Teknik, apakah Anda pernah melihat kehidupan akademisi Fakultas Peternakan di kampus? Atau merasakan dinamika perkuliahan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis? Kecuali, Anda aktivis kepolen atau gabut setengah mati, semua hal tadi adalah alien bagi Anda.

Baca Juga:

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro

Inilah intinya. Ketika kampus lain lebih guyub antar fakultas, di UGM yang terasa malah seperti beda universitas. Tidak hanya manusianya, bahkan pembangunan dan fasilitas kampusnya berbeda. Satu fakultas memiliki gerai starbucks, di fakultas lain beli kopi sachet harus utang.

Jadi, jangan harap Anda bisa menabrak lawan jenis dari fakultas lain. Yang ada, Anda malah bingung mereka mahasiswa mana. Apalagi kalau Anda dari fakultas paling timur dan bertemu lawan jenis dari Fakultas Kedokteran. Benar-benar istimewa dalam ketimpangan. Persis seperti kota di mana UGM berdiri dan berada.

#3 Ngaku Jogja tapi di Sleman

“Wah kuliah di Jogja, ya?” ujar banyak orang saat mendengar saya mahasiswa UGM. Yah wajar sih, karena di benak orang Jogja itu kota yang besar dan megah. Dan di dalamnya bertaburan berbagai universitas terkemuka. Dari UGM, UNY, dan Sanata Dharma. Maklum, gelarnya saja kota pendidikan.

Nyatanya nggatheli. Ketiga kampus tadi berada di Sleman! Alias di kabupaten dan bukan kota. Yah kalau kita menyebut Jogja sebagai provinsi, sih ada benarnya. Tapi kalau bicara kota, UGM hanyalah kampus kabupaten. Tapi gimana lagi. Kalau menyebut “kuliah di Sleman” malah dibalas “Sleman itu mana?”

Ya, nggak apa-apa kalau mau berhalusinasi kuliah di kota besar biar berani bersaing dengan UI dan ITB. Tapi di balik halu kalian, Anda semua sedang kuliah di kabupaten yang UMR-nya dua jutaan saja.

#4 Ekspetasi ketinggian, padahal biasa saja

Mahasiswa UGM itu luar biasa kata orang. Penuh dengan cendekiawan muda yang sepanjang hari berdialektika membawa pengetahuan masing-masing. Tapi itu kan jarene. Nyatanya UGM tak ubahnya kampus lain. Dengan dinamika perkuliahan yang sama saja.

Di UGM tetap ada lift yang bunyinya cekit cekit. Di UGM tetap ada mahasiswa plonga-plongo macam saya. Di UGM tetap ada candaan receh yang jauh dari nuansa intelektualitas. Kuliah di UGM ya sama seperti kampus lain, kok. Meskipun tetap ada yang membuat UGM lebih istimewa. Misalnya, perkara fasilitas riset dan UKT yang setinggi Merapi.

Dan kalau bicara lulusannya, tidak semua jadi Jokowi. Tidak semua jadi Anies. Tetap ada mahasiswa mangkir. Tetap ada yang telat lulus. Tetap ada mahasiswa yang kemalingan helm.

Sumber Gambar: Unsplash

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Desember 2021 oleh

Tags: MahasiswaUGM
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Culture Shock Orang Indonesia yang Kuliah di Thailand Mojok.co

Culture Shock Orang Indonesia yang Kuliah di Thailand

31 Desember 2024
4 Tipe Motivator Indonesia Menyebalkan yang Biasanya Ada di Seminar Perkantoran terminal mojok.co

Forum Diskusi Anak Jurusan Tasawuf Nggak Kalah Absurd dari Anak Filsafat

15 November 2020
Mahasiswa Harus Coba Ikutan Program Kampus Mengajar

Mahasiswa Harus Coba Ikutan Program Kampus Mengajar

11 Mei 2023
4 Opsi Pekerjaan biar Dapat Pemasukan sambil Kuliah terminal mojok.co

Menyoal Kuliah: Mau Ambisius Apa Chill Aja Ya?

26 Agustus 2019
Skripsi souvenir informan Perhatikan 5 Hal Ini Kalau Nggak Mau Ditolak Responden Penelitian terminal mojok.co

4 Alasan Kenapa Mahasiswa Sastra Mudah Punya Pacar

3 Mei 2019
IPB romantis

IPB, Kampus Paling Romantis se-Indonesia

8 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Unsplash)

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan

8 April 2026
Toyota Hiace, Mobil Toyota yang Nyamannya kayak Bawa LCGC (Unsplash)

Derita Pemilik Hiace, Kerap Menghadapi “Seni” Menawar Harga yang Melampaui Batas Nalar

8 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

8 April 2026
Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja Mojok.co

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

3 April 2026
Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter: Dihina tapi Jadi Motor Tangguh buat Bahagiakan Ortu, Ketimbang Bermotor Mahal Hasil Jadi Beban
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup
  • Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.