Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Bystander Effect, Alasan Seseorang Enggan Menolong Orang Lain di Keramaian

Muhammad Harits Hikmawan oleh Muhammad Harits Hikmawan
12 Juli 2021
A A
bystander effect menolong orang kecelakaan mojok

bystander effect menolong orang kecelakaan mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Sepanjang hidup saya, entah sudah berapa kali saya melihat kecelakaan. Syukurnya saya belum pernah mengalami sendiri. Setiap kali peristiwa ini terjadi, kerumunan akan terbentuk seolah-olah peristiwa ini adalah magnet yang menarik perhatian publik. Tak jarang, kerumunan yang terjadi ini bisa sangat banyak sehingga menghambat laju lalu lintas atau mengganggu pengguna jalan lainnya.

Jika kita amati di antara ramainya kerumunan ini, tak semuanya menolong orang yang sedang mengalami kecelakaan. Atau setidaknya membantu menghubungi pihak terkait untuk membantu menyelesaikan bila terjadi pertikaian antara dua pihak yang mengalami kecelakaan misalnya. Kebanyakan hanya sekadar bertanya dan melihat-lihat saja. Ada juga mungkin yang memilih merekam dan memotret kondisi di sekitar tempat kecelakaan terjadi. Bahkan, ada juga yang tak peduli dengan kecelakaan atau keramaian ini dan lebih memilih pergi begitu saja.

ADVERTISEMENT

Jika kita coba-coba bertanya kepada orang-orang tersebut tentang mengapa dia tak mencoba menolong orang yang terlibat kecelakaan itu, mungkin kebanyakan menjawab “ah sudah ada yang nolong” atau “nanti juga ada orang lain yang nolongin”. Saya pun juga pernah mengalami hal yang sama. Ketika terjadi kecelakaan saya biasanya hanya melihat-lihat saja dari rumah saya yang kebetulan di pinggir jalan. Saya merasa tidak perlu ikut terlibat dalam peristiwa tersebut karena sudah banyak orang yang membantu.

Rupanya, para psikolog sosial juga mengamati fenomena ini. Dalam psikologi sosial pembahasan tentang fenomena ini masuk dalam kajian mengenai prososial. Fenomena ketika seseorang enggan menolong orang lain di keramaian karena merasa bahwa akan ada atau sudah ada orang lain yang menolong disebut dengan bystander effect atau efek pengamat. Istilah ini sendiri pertama kali dicetuskan oleh dua orang ilmuwan bernama Bibb Latane dan John M. Darley dalam suatu jurnal penelitian yang pertama kali diterbitkan pada 1968.

Lalu sebenarnya apa penyebab dari bystander effect ini? Dijelaskan dalam jurnal yang ditulis oleh Latane dan Darley tersebut, bahwa secara sederhana bisa kita jelaskan bahwa penyebab dari adanya efek pengamat ini adalah persepsi yang terbentuk dari informasi yang kita dapatkan. Informasi tersebut adalah ada orang lain yang juga sedang melihat suatu peristiwa darurat yang kita lihat, sehingga dengan demikian terjadi difusi tanggung jawab. Difusi tanggung jawab ini adalah berkurangnya rasa tanggung jawab karena kita merasa bahwa ada orang lain yang akan menolong seseorang yang sedang kesulitan tersebut.

Sebagai contoh, ketika secara tiba-tiba terjadi suatu kecelakaan, dan kita menyaksikan kecelakaan tersebut, kita terlebih dahulu mengamati sekitar. Jika kita mengetahui bahwa ada banyak orang lain yang juga turut menyaksikan kecelakaan tersebut, difusi tanggung jawab pun terjadi. Kita merasa tidak memiliki keharusan untuk menolong seseorang yang tengah mengalami kecelakaan tersebut karena ada orang lain yang akan menolong inilah kemudian yang mendorong terjadinya bystander effect.

Hal yang berbeda akan terjadi jika ternyata kita adalah satu-satunya orang yang menyaksikan kecelakaan atau suatu peristiwa darurat. Kecenderungan untuk menolong akan semakin meningkat karena tidak terjadi difusi tanggung jawab yang merupakan penjelasan utama dari terjadinya bystander effect. Semisal saat kita tengah berada di supermarket, kemudian di salah satu lorong yang sepi kita melihat salah seorang pengunjung yang hendak mengambil suatu barang. Besar kemungkinan kita akan memberikan pertolongan terhadap orang tersebut, entah dengan menolongnya dengan mengambilkan secara langsung barang tersebut, atau membantu memanggil karyawan supermarket tersebut.

Lebih lanjut, dalam buku Social Psychology yang ditulis oleh Robert A. Baron dan Nyla R. Branscombe, ada lima tahapan yang dilalui seseorang dalam memutuskan untuk menolong atau tidak seseorang yang sedang berada dalam kondisi darurat. Pertama, kita harus mengetahui atau menyadari bahwa sedang terjadi kondisi darurat yang membutuhkan pertolongan. Baru setelahnya kita memasuki tahap kedua, yakni menginterpretasikan apakah kondisi darurat tersebut sangatlah membutuhkan pertolongan segera atau tidak. Jika kita merasa bahwa kondisi darurat yang kita lihat tidak membutuhkan pertolongan segera, kita tidak akan membantu orang tersebut.

Baca Juga:

8 Alasan Jurusan Psikologi Pantas Disebut Jurusan Paling Green Flag

6 Sisi Gelap Jurusan Psikologi yang Tidak Masuk Brosur Promosi

Jika kita merasa bahwa orang tersebut membutuhkan pertolongan sesegera mungkin, maka baru akan masuk ke tahap ketiga, yakni memutuskan apakah tanggung jawab kita untuk menolong orang tersebut atau tidak. Di tahap ini lah biasanya terjadi bystander effect atau difusi tanggung jawab tadi. Baru setelah kita menyimpulkan bahwa merupakan tanggung jawab kita untuk menolong orang tersebut, kita masuk ke tahap keempat yakni memutuskan kita akan membantu dengan cara apa, atau memikirkan apakah kita mampu menolong orang tersebut. Tahap terakhir adalah penentuan keputusan akhir apakah kita akan menolong orang tersebut atau tidak.

Meskipun ada lima tahap yang kita lalui sebelum kita memutuskan akan menolong seseorang atau tidak, tentunya pada kejadian nyatanya, kelima tahap tersebut terjadi hanya dalam waktu sekian detik saja. Ini menunjukkan betapa cepatnya proses kognitif yang berlangsung dalam upaya mengambil keputusan. Dengan demikian bystander effect dan serangkaian tahap inilah yang menjelaskan alasan kenapa kita enggan menolong orang lain di keramaian.

BACA JUGA Return Trip Effect : Alasan Waktu Berangkat Lebih Lama dari Waktu Pulang atau tulisan Muhammad Harits Hikmawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2021 oleh

Tags: bystander effectfenomenaHiburan TerminalkecelakaankeramaianpertolonganPsikologi
Muhammad Harits Hikmawan

Muhammad Harits Hikmawan

ArtikelTerkait

Terima Kasih, Kobe Bryant!

Terima Kasih, Kobe Bryant!

28 Januari 2020
Wisata Mendunia, Jalanan Gunungkidul (Tetap) Gelap Gulita

Wisata Mendunia, Jalanan Gunungkidul (Tetap) Gelap Gulita

31 Agustus 2022
kesurupan

Kenapa Orang Kesurupan Tidak Dihajar Saja Sampai Sadar?

13 Desember 2022
Rekomendasi Podcast Anak Daerah yang Seru dan Sebaiknya Kamu Dengarkan terminal mojok.co

Rekomendasi Podcast Anak Daerah yang Seru dan Sebaiknya Kamu Dengarkan

9 Agustus 2021
kesurupan

Kesurupan Bukan Cuma Terjadi Karena Kerasukan Setan, Bisa Juga Karena Stress dan Banyak Pikiran

29 Mei 2020
Bukan ASN Atau TNI_POLRI, Bang Jarwo Adalah Representasi 'Idamanmu' yang Sesungguhnya terminal mojok

Bukan ASN Atau TNI/POLRI, Bang Jarwo Adalah Representasi ‘Idamanmu’ yang Sesungguhnya

3 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Geprek Olive Fried Chicken, Pilihan Ayam Geprek yang Tak Kalah Favorit dari Bu Rum Jogja Mojok.co

Geprek Olive Fried Chicken, Pilihan Ayam Geprek yang Tak Kalah Favorit dari Bu Rum Jogja

29 Juni 2026
4 Rekomendasi Motor Second yang Cocok untuk Mahasiswa Pertama Kali Merantau Mojok.co

4 Rekomendasi Motor Second yang Cocok untuk Mahasiswa Pertama Kali Merantau

25 Juni 2026
4 Kuliner Ayam Panggang Favorit di Klaten: Enak, Murah, dan Bikin Nagih!

4 Kuliner Ayam Panggang Favorit di Klaten: Enak, Murah, dan Bikin Nagih!

26 Juni 2026
Kutukan Cristiano Ronaldo: Kenapa Kita Harus Tahu Diri, sekalipun Menyakitkan

Kutukan Cristiano Ronaldo: Kenapa Kita Harus Tahu Diri, sekalipun Menyakitkan

28 Juni 2026
Menelusuri Dosa-Dosa Orde Baru pada Alam Indonesia Lewat Buku “32 Tahun Menjarah Alam” Mojok.co

Menelusuri Dosa-Dosa Orde Baru pada Alam Indonesia Lewat Buku 32 Tahun Menjarah Alam

25 Juni 2026
8 Kuliner Legendaris di Solo yang Sering Disebut dan Beneran Enak  Mojok.co

8 Kuliner Legendaris di Solo yang Sering Disebut dan Beneran Enak 

28 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.