Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Pengalaman Menjalani Operasi Otak Akibat Tak Sudi Pakai Helm, Sakitnya Luar Biasa, Hidup Serasa Dijilat Api Neraka

Achmad Fauzan Syaikhoni oleh Achmad Fauzan Syaikhoni
30 Maret 2024
A A
Kalau Nggak Mau Pakai Helm, Sebaiknya Jangan Jadi Orang Tua! operasi otak

Kalau Nggak Mau Pakai Helm, Sebaiknya Jangan Jadi Orang Tua! (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Bagi kalian yang masih mau menyepelekan pentingnya helm, baca pengalaman saya menjalani operasi otak yang mengerikan, semua gara-gara menolak pakai helm

Dahulu, ketika helm INK jadi tren gaya hidup anak-anak muda, saya ini termasuk anak muda yang anti sama tren itu. Bukan karena tren itu terkesan norak atau apa. Tapi saya memang malas kalau berkendara harus pakai helm, bahkan ketika mau main ke daerah kota sekalipun. Sebab bagi saya dulu, helm itu bikin gaya rambut saya rusak dan kepala terasa nggak nyaman.

Sampai suatu ketika, ada satu peristiwa yang membuat saya sadar atas pentingnya memakai helm ini. Saya mengalami kecelakaan yang cukup hebat. Kepala saya terbentur aspal dengan sangat keras lantaran saat itu kecepatan mengendara saya cukup tinggi. Kalau kalian tanya gimana rasanya saat itu, saya jelas tak ingat. Karena memang seketika itu saya langsung tak sadar.

Cuman, menurut beberapa teman yang menyaksikan saat itu, katanya saya sempat kejang-kejang. Mulut, hidung, dan kuping saya sempat mengeluarkan darah yang cukup deras. Saat dilarikan ke beberapa rumah sakit, saya pun sempat memuntahkan darah. Bahkan, beberapa rumah sakit tersebut merasa tak sanggup karena melihat kondisi saya yang cukup parah.

Jika dilihat dari kacamata orang awam, kondisi saya saat itu jelas tinggal menunggu waktu saja untuk wafat. Tapi syukurnya Tuhan berkata lain. Akhirnya ada satu rumah sakit di Kota Mojokerto, namanya RS Gatoel, yang mampu menangani saya. Saya diprediksi masih bisa selamat meski harus melalui operasi otak yang amat sangat mengerikan.

Harus menjalani operasi otak dengan biaya yang mencekik

Saya masih ingat, dokter bedah saraf yang menangani saya dulu namanya dokter Nurkholis. Panggilannya dokter Noi. Beliau amat sangat baik, tutur katanya pun selalu menenangkan saya dan keluarga agar tetap optimis. Terima kasih, Pak Noi, semoga hidup njenengan dan keluarga senantiasa sejahtera.

Pak Noi dulu bilang, bahwa selain kepala saya ini mengalami pendarahan dari luar, juga mengalami pendarahan dalam otak. Kata beliau lagi, kondisi kepala macam punya saya ini sebenarnya nggak masalah kalau nggak dirawat. Cuman, beberapa bulan ke depan, bisa dipastikan saya akan stroke secara tiba-tiba, kemudian wafat.

Pihak keluarga tentu saja tak mau saya mati duluan, meski saya dulu tampak jelas sebagai beban. Maka tidak bisa tidak, keluarga saya mengiyakan saran Pak Noi bahwa saya harus menjalani operasi otak sebanyak dua kali. Dan saya masih ingat betul, biaya yang harus dikeluarkan untuk operasi itu adalah sebanyak 60 juta. Bayangin, 60 juta!

Baca Juga:

Alasan Saya Bertahan dengan Helm Gratisan Honda yang Desainnya Norak 

Kasta Helm di Jogja: BMC dan GM Mutlak Dimiliki Gondes Bantul, Cargloss Dipakai Warga Sleman

Harus menjalani dua kali operasi otak yang cukup mengerikan

Saya nggak tahu soal nama penyakit atau operasi otak yang sempat saya jalani ini. Tapi yang jelas, operasi otak pertama ini adalah mengebor dan membuka sebagian tempurung kepala saya. Tujuannya untuk mengambil darah dalam otak dan menyembuhkan pembuluh darah yang sempat pecah.

Cuman, sebagian tempurung kepala saya ini tidak langsung dikembalikan. Tapi ditaruh di atas tempurung kepala saya bagian atas. Kenapa?

Ini kalau saya tidak salah ingat, hal itu dilakukan supaya pembuluh darah dalam otak yang sempat pecah ini tidak sampai tertekan dan membengkak lagi. Sebab kalau tertekan dan membengkak akibat ditahan oleh tempurung kepala, katanya Pak Noi, pembuluh darah akan pecah dan saya akan stroke.

Kalau kalian membayangkan sebagian area kepala saya ada yang teksturnya empuk, itu memang benar. Karena memang beneran hanya dilapisi sama kulit kepala doang. Dan kalau ditanya gimana cara tidur saya dulu, caranya adalah berbaring ke arah kanan, karena tempurung kepala yang diambil di bagian sisi kiri.

Jadi, saya benar-benar harus hati-hati selama pasca operasi pertama. Setiap saya tidur harus dijaga, setiap tindak-tanduk saya harus diawasi. Pokoknya mengerikan lah kalau saya ingat-ingat. Dan barulah kemudian tiga bulan pasca operasi otak pertama, saya harus menjalani operasi kedua yang tujuannya untuk mengembalikan tempurung kepala tersebut.

Apakah sudah? Belum.

Harus merasakan neraka dalam kepala pasca operasi

Selain hal-hal yang mengerikan tadi, ada satu lagi pengalaman buruk yang paling saya ingat sampai sekarang, yaitu merasakan neraka dalam kepala pasca operasi otak pertama.

Pada saat proses operasi pertama, saya memang nggak merasakan apa-apa, karena dibius total. Tapi setelahnya, sakitnya itu benar-benar memabi buta. Kalau kalian pernah merasakan migrain atau demam berdarah, saya bisa bilang rasanya jauh lebih menyakitkan daripada itu. Dan rasa sakit itu, harus saya lalui selama berminggu-minggu.

Bahkan, saking hebatnya saya meronta-ronta merasakan sakit itu, saya masih ingat orang tua saya sampai memohon sambil nangis-nangis ke Pak Noi agar saya diberikan obat penghilang nyeri paling manjur. Orang tua saya sempat bilang akan menjual rumah kalau memang obat penghilang nyeri yang manjur itu ada dan bisa dibeli.

Tapi sayangnya, Pak Noi bilang bahwa saya sudah diberikan obat penghilang nyeri yang paling ampuh. Beliau juga menambahkan, orang yang habis operasi otak kayak saya ini memang mau tak mau harus merasakan sakit itu sebagai proses penyembuhannya.

Saya nggak tahu, apa penyebab secara detail dari rasa sakit itu. Tapi kalau dipikir-pikir, wajar saja rasa sakit itu menyelimuti saya. Ha wong kepala saya habis terbentur, dibedah, lalu dibor sambil diotak-atik, kok.

Saya benar-benar menyesal sempat menyepelekan helm

Ya meski akhirnya saya bisa kembali sehat dan segera membalas budi orang tua, saya tetap menyesal karena dulu sempat menyepelekan helm. Kecelakaan saya memang sudah terjadi. Tapi setidaknya, kalau saya pada saat itu pakai helm, mungkin kondisi saya tak akan separah itu. Saya juga tak akan menjadi anak yang paling merepotkan dan bikin menderita orang tua.

Maka itu, saya ingin berpesan pada kalian. Tolong banget jangan menyepelekan helm. Kecelakaan itu benar-benar tidak mengenal jarak, tidak pula mengenal sepinya lalu lintas. Ia cukup bebas menerjang siapapun, apalagi ketika kalian berhadapan dengan pengendara berjenis setan.

Helm memang bukan sepenuhnya alat penyelamat. Tapi setidaknya, ia bisa meminimalisir risiko kematian dan terkurasnya duit ketika (amit-amit) kalian terkena musibah. 

Penulis: Achmad Fauzan Syaikhoni
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kalau Nggak Mau Pakai Helm, Sebaiknya Jangan Jadi Orang Tua!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 30 Maret 2024 oleh

Tags: helmkecelakaanoperasi otakPengalaman
Achmad Fauzan Syaikhoni

Achmad Fauzan Syaikhoni

Pemuda setengah matang asal Mojokerto, yang selalu ekstase ingin menulis ketika insomnia. Pemerhati isu kemahasiswaan, lokalitas, dan hal-hal yang berbau cacat logika.

ArtikelTerkait

Jalan Perak, Jalan Paling di Berbahaya di Surabaya Sekaligus Tempat Orang Surabaya Mengasah Skill Berkendara

Jalan Perak, Jalan Paling di Berbahaya di Surabaya Sekaligus Tempat Orang Surabaya Mengasah Skill Berkendara

28 Januari 2024
Tipe-tipe Orang saat Menjaga Helm Kesayangannya agar Tidak Hilang di Parkiran

Tipe-tipe Orang saat Menjaga Helm Kesayangannya agar Tidak Hilang di Parkiran

5 Juni 2020
Jembatan Layang Trosobo Sidoarjo, Titik Temu Berbagai Masalah Lalu Lintas, Lewat Sini Serasa Masuk Arena Pertaruhan Nyawa

Jembatan Layang Trosobo Sidoarjo, Titik Temu Berbagai Masalah Lalu Lintas, Lewat Sini Serasa Masuk Arena Pertaruhan Nyawa

25 September 2024
Terima Kasih, Kobe Bryant!

Terima Kasih, Kobe Bryant!

28 Januari 2020
jalan jogja-solo, Ilusi Jalan yang Suka Menyebabkan Orang Kesasar Hingga Mengalami Kecelakaan

Mengulas Beberapa Jalan Jogja-Solo yang Sering Terjadi Kecelakaan dan Terkenal Angker

10 Juni 2020
Anggapan 'yang Besar yang Salah' dalam Kecelakaan Itu Bodoh

Anggapan ‘yang Besar yang Salah’ dalam Kecelakaan Itu Bodoh

27 April 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup Mojok.co

5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup

23 April 2026
Harga Plastik Naik Bikin Kebiasaan Bawa Wadah Sendiri Diapresiasi Pedagang Pasar, padahal Dulu Sempat Dianggap Aneh

Harga Plastik Naik Bikin Kebiasaan Bawa Wadah Sendiri Diapresiasi Pedagang Pasar, padahal Dulu Sempat Dianggap Aneh

21 April 2026
Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

27 April 2026
Kebumen Itu Cantiknya Keterlaluan, tapi Nggak Bisa Jual Diri (Unsplash)

Kebumen, Kabupaten yang Cantiknya Keterlaluan tapi Nggak Bisa Menjual Dirinya Sendiri

27 April 2026
Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit Mojok.co

Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit

27 April 2026
Derita Gen Z Bernama Sri- Sering Dikira Bibi Kantin dan Pembantu (Unsplash)

Derita Gen Z Punya Nama Sri yang Sering Dikira Bibi Kantin dan Pembantu

21 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman
  • Alifa Moslem Babypreneur Daycare Jadi Penyelamat Orang Tua yang Harus Kerja dan Jogja yang Minim Ruang Bermain Anak
  • Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka
  • 4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun
  • UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang
  • Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.