Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Baliho Sebagai Media Kampanye Sudah Usang, Berikut 5 Rekomendasi Penggantinya

Muhammad Bagir Shadr oleh Muhammad Bagir Shadr
26 Juni 2021
A A
Baliho Sebagai Media Kampanye Sudah Usang, Berikut 5 Rekomendasi Penggantinya terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Penentuan siapa presiden dan wakil presiden Indonesia selanjutnya masih tiga tahun lagi. Namun, nama-nama calon presiden dan calon wakil presiden sudah mulai berseliweran di mana-mana. Beberapa partai politik juga mulai bergerilya menentukan siapa calon yang akan diusung dan dengan siapa mereka akan berkoalisi nanti. Bahkan baru-baru ini, media sosial dikejutkan (((pada terkejut nggak, sih?))) oleh foto baliho-baliho di pinggiran jalan dengan wajah Puan Maharani. Beberapa orang percaya bahwa baliho-baliho tersebut merupakan upaya kampanye blio untuk maju di Pilpres 2024 mendatang.

Saya sih nggak pengin bilang bahwa saya risih dengan pencalonan Mbak Puan, karena itu sudah pasti. Saya justru ingin menyoroti gaya kampanye politisi di Indonesia yang nggak pernah berubah dari dulu. Kalau nggak baliho, ya paling mentok posting foto dengan editan jelek di akun medsos masing-masing. Duh!

Saya orang yang paling nggak suka dengan model kampanye yang menggunakan baliho sebagai medianya. Mulai dari bikin perjalanan yang sudah sumpek makin sumpek lihat orang yang munculnya kalau butuh suara doang, bikin jalanan jadi jelek, bahkan ada yang sering pasang baliho atau brosur di pohon. Bukankah harusnya politisi itu memberi contoh yang baik dengan memperindah dan merawat lingkungan? Oh iya lupa, kalau di Burkina Faso mah nggak gitu, ya.

Jadi, pada tulisan ini saya akan memberikan beberapa rekomendasi media kampanye antimainstream kepada para politisi. Biar bervariasi gitu, loh.

#1 Kartun & komik animasi

Kartun sebagai media pembawa pesan sudah nggak perlu ditanyakan lagi besar jangkauan dan keefektifannya, termasuk membawa pesan politik. Bahkan, Presiden Jokowi pun menggunakan komik sebagai media sosialisasi kebijakannya dalam menangkal Covid-19. Selain itu, melimpahnya animator dan komikus di Indonesia juga seharusnya menjadi suatu berkah bagi para politisi yang ingin memuat pesan kampanye dalam bentuk animasi. Tapi, pastikan tokoh animasinya nggak memakai baju muslim, takutnya nanti ada yang sewot terus teriak-teriak Taliban.

#2 Komunitas K-Popers

Kita semua pasti tahu seberapa besar jumlah dan antusiasme K-Popers dalam negeri. Lihat saja betapa magisnya budaya K-Pop untuk mendapatkan atensi khalayak luas. Contoh terbaik tentu saja kolaborasi McD X BTS yang tentunya jauh lebih menarik perhatian ketimbang baliho dengan foto mas-mas atau mbak-mbak politisi yang kemungkinan besar bakalan dicuekin oleh pengguna jalan.

Politisi juga bisa mulai membangun image sebagai K-Popers, loh. Mulai dari posting foto bias di medsos, beli album boyband atau girlband favorit, atau bahkan nonton konser artis K-Pop. Tapi, jangan sampai pas oppa-oppa Korea lagi nyanyi ada yang matiin mic kayak… Kayak siapa, ya?

#3 Industri sepak bola

Sebelum para artis menginvasi industri sepak bola, politisi sudah lebih dahulu menggunakannya untuk menaikkan nama. Mulai dari Rendra Kresna yang berhasil menjadi Bupati Malang setelah menjadi petinggi Arema, hingga yang terkenal belakangan Edy Rahmayadi yang akhirnya menjadi Gubernur Sumut. Walaupun modalnya besar, tapi tingkat keberhasilannya jauh lebih terbukti.

Baca Juga:

Baliho di Jogja Ambruk, Sudahkah Waktunya Mengkaji Jumlah Baliho dan Menertibkannya?

Culture Shock Orang Kediri Ketika Pertama Kali Singgah di Kabupaten Trenggalek

Politisi yang kepingin menjadikan industri sepak bola sebagai media kampanye memiliki dua pilihan, yaitu membeli klub sepak bola atau berusaha menjadi Ketum PSSI. Pilihan kedua agak sulit karena sepertinya yang sekarang jadi ketum juga lagi nunggu giliran. Seandainya ketum yang sekarang sudah dapat giliran, kayaknya slot selanjutnya juga sudah dipesan, deh.

FYI, PSSI yang saya maksud di paragraf atas adalah Persatuan Sepakbola Seluruh Islandia, yaaa. Nggak mungkin dong PSSI-nya Indonesia bisa dijadikan batu loncatan karier untuk berpolitik. Ya, kan?

#4 Financial planner

Gagasan untuk menjadikan financial planner sebagai bagian dari kampanye nggak mengada-ada, melainkan sesuai dengan realita di masyarakat kalangan bawah yang sudah lelah dibohongi terus oleh para politisi. Ketimbang menjanjikan dunia utopia kepada kalangan bawah, kenapa nggak memberikan realita ekonomi mereka dengan teknik gaslighting ala financial planner saja?

“Umur 40 masa belum punya rumah, sih? Coblos si A lah, yang programnya untuk mempermudah milenial untuk membeli rumah itu, loh.”

#5 JRX

Ada peribahasa “simpan yang terbaik untuk dijadikan yang terakhir”, karenanya, saya menaruh gagasan terbaik yang ada di kepala saya untuk JRX. Menjadikan JRX sebagai bagian dari kampanye saya jamin berkali-kali lipat lebih baik daripada menyewa buzzer. Bagaimana tidak? Buzzer mudah ketahuan sebagai bagian dari kampanye dan biasanya memiliki mental penjilat, sementara JRX sudah memiliki citra sebagai artis anti-endorse.

Pengikut blio juga banyak, dan biasanya bisa memunculkan teori-teori out of the box yang mungkin bisa berguna untuk memenangkan pemilihan. Jika dijadikan bagian dari tim sukses, bisa dipastikan pendukung lawan akan ketar-ketir saat berdebat melawan blio. Hanya dengan kata “Sat!” saja JRX bisa bikin jubir lawan jiper sampai memohon ampunan.

Segini dulu tulisan saya. Jika ada yang kurang berkenan, silakan DM, Sat!

Sumber Gambar: YouTube JTV Madiun

BACA JUGA Gofar Hilman dan Monyet di Kebun Binatang dan artikel Muhammad Bagir Shadr lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Agustus 2021 oleh

Tags: BalihoKampanye PolitikPojok Tubir Terminal
Muhammad Bagir Shadr

Muhammad Bagir Shadr

Seorang pemuda dengan banyak sambatan dalam kepala.

ArtikelTerkait

teori konspirasi chemtrails teluuur mojok

Alasan Teori Konspirasi Chemtrails yang Didengungkan Teluuur Bisa Dipercaya dan Diterima Banyak Orang

11 Juli 2021
Sebuah Pertanyaan Jebakan: Bolehkah Seorang Muslim Mengikuti Tren Childfree? terminal mojok.co

Sebuah Pertanyaan Jebakan: Bolehkah Seorang Muslim Mengikuti Tren Childfree?

11 Agustus 2021
Bikini Dinar Candy dan Mental Aji Mumpung Influencer untuk Kritis pada Pemerintah terminal mojok.co

Bikini Dinar Candy dan Mental Aji Mumpung Influencer untuk Kritis pada Pemerintah

7 Agustus 2021
Dilema Pagar Alun-alun Jogja: Takhta untuk Rakyat atau Halaman Rumah Sultan? terminal mojok.co

Dilema Pagar Alun-alun Jogja: Takhta untuk Rakyat atau Halaman Rumah Sultan?

5 Juli 2021
baliho puan maharani branding usang mojok

Puan Maharani, Baliho, dan Branding yang Usang

29 Juli 2021
Mas Leon Alvinda Putra, Plis Jangan Jadi Artis Jalur Aktivis terminal mojok

Mas Leon Alvinda Putra, Plis Jangan Sampai Jadi Artis Jalur Aktivis

30 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Hal yang Bakal Saya Rindukan setelah Lulus dari UM Malang kkn

UM BBM: Program KKN ala UM Malang yang Punya Banyak Celah dan Penuh Masalah!

7 Juni 2026
5 Rahasia yang Perlu Diketahui sebelum Membuka Warung Madura, Eksklusif dari Juragannya Langsung usaha warung

Warung Madura Terlalu Percaya Diri, padahal Warung Tetangga Bisa Menggulingkannya Kapan Saja

6 Juni 2026
Derita Jadi WNI: Pelayanan Publik Tutup di Akhir Pekan, Saat Kebanyakan Warga Baru Punya Waktu Luang Mojok,co

Derita Jadi WNI: Pelayanan Publik Tutup di Akhir Pekan, Saat Kebanyakan Warga Baru Punya Waktu Luang

5 Juni 2026
10 Hari di Taiwan Bikin Sadar kalau Kualitas Hidup di Indonesia Sudah Tertinggal Jauh Mojok.co

10 Hari di Taiwan Bikin Sadar kalau Kualitas Hidup di Indonesia Sudah Tertinggal Jauh

10 Juni 2026
Bekas Pasar Burung dan Hal-hal Lain yang Jarang Dibicarakan Soal Pasar Ngasem, Tempat Sarapan Paling Kalcer di Jogja Mojok.co

Bekas Pasar Burung dan Hal-hal Lain yang Jarang Dibicarakan Soal Pasar Ngasem, Tempat Sarapan Paling Kalcer di Jogja

7 Juni 2026
6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang Terminal

6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang

8 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.