Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Sebuah Pertanyaan Jebakan: Bolehkah Seorang Muslim Mengikuti Tren Childfree?

Fatimatuz Zahra oleh Fatimatuz Zahra
11 Agustus 2021
A A
Sebuah Pertanyaan Jebakan: Bolehkah Seorang Muslim Mengikuti Tren Childfree? terminal mojok.co

Sebuah Pertanyaan Jebakan: Bolehkah Seorang Muslim Mengikuti Tren Childfree? terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Pertanyaan yang saya jadikan judul di atas bersumber dari akun Twitter yang mengatasnamakan sebuah rumah ibadah milik kampus negeri terkemuka, sebut saja Masjid Salam ITB. Sekilas tampak tidak ada masalah. Namun, jika kita baca berulang, ada hal mendasar yang menjadi sumber huru-hara pada diskusi berikutnya. Yaitu anggapan bahwa childfree  adalah sebuah tren yang begitu saja terjadi tanpa ada latar belakang, perdebatan, dan perkembangannya hingga hari ini.

Setidaknya oleh sang pencetus pertanyaan, perkara childfree ini bukanlah buah pikir manusia, selain sekadar kepopuleran yang akan surut dimakan zaman. Padahal pada praktiknya, orang-orang yang memutuskan childfree biasanya memiliki landasan pengambilan keputusan yang sangat rumit dan mengalami pergolakan batin. Terlepas dari boleh atau tidaknya seperti yang hendak dipertanyakan oleh pihak yang melempar diskusi ini. Akibatnya, karena sedari awal tidak dianggap sebagai buah pikir, childfree kemudian ditabrakkan secara paksa dengan tujuan utama pernikahan (setidaknya menurut admin akun Masjid Salman ITB) yaitu untuk memiliki keturunan.

Dari sepenggal cerita ini saja, sebenarnya kita sudah bisa menebak dengan jelas apa jawaban akhir dari pertanyaan besar di atas. Namun, mari kita berpura-pura belum paham dan mencoba mengupas satu per satu kejanggalannya. Tujuan pernikahan yang dimaksud oleh akun ini tentunya adalah tujuan pernikahan dalam institusi Agama Islam secara khusus. Akan tetapi, saking khususnya sampai-sampai yang digunakan di sini bukan tafsir ulama, tetapi pendapat anggota dewan pembina masjid, yang kemungkinan biasnya tidak dijelaskan secara spesifik oleh akun ini.

Di sini saya mau coba bandingkan dengan QS. Arrum ayat 20-24 (yang ayat 21-nya sering dibacakan dalam acara pernikahan). Melalui terjemahan Kemenag kita dapat memahami bahwa di sana memang disebutkan bahwa salah satu tanda kebesaran Tuhan adalah menjadikan manusia berkembang biak. Namun selain itu, ada setidaknya dua tujuan penting pernikahan yang disebut secara eksplisit yaitu mendapatkan rasa tentram dan saling berkasih sayang yang pada ayat berikutnya diberikan pula konteksnya. Oleh karena itu, pasangan dapat mewujudkan dua tujuan tersebut di dalam rumah tangganya. Jadi, apa pun yang dilakukan dalam rumah tangga hendaknya bertujuan untuk mewujudkan ketenteraman dan cinta kasih, bisa jadi termasuk atau tidak termasuk memiliki anak.

Dalam surah lain, Annisa ayat 9 juga menyebutkan dengan tegas larangan untuk meninggalkan keturunan yang lemah, yang mana hal ini juga sejalan dengan kekhawatiran orang-orang yang memutuskan untuk childfree. Keputusan childfree  bisa didasari oleh banyak petimbangan. Salah satu yang paling umum saya dengar adalah karena kita melihat dunia sudah overpopulasi yang berpotensi membawa keburukan jika kita memaksakan untuk memiliki keturunan yang berakibat akan mendekatkan dia kepada kategori “lemah” baik secara ekonomi, sosial, psikologis, dan lain-lain. Lha, kalau kekhawatiran yang sedemikian ini diabaikan, apa nggak malah mengingkari tujuan pernikahan untuk menciptakan hubungan saling kasih sayang yang menentramkan? Bisa jadi, yang ada malah kekacauan akibat ketidakmatangan berpikir sebelum memutuskan untuk memiliki keturunan.

Kita juga tidak boleh lupa bahwa Islam sebagai sebuah agama itu memiliki tujuan yang terangkum dalam maqashid syariah yang salah satu poinnya adalah “hifdz an-nafs” yaitu melindungi jiwa manusia dari berbagai ancaman dan bahaya. Kalau orang-orang yang memilih childfree itu memang dengan sadar memutuskan hal tersebut untuk menghindarkan “jiwa” yang nantinya akan jadi anak dari marabahaya, apa iya kita masih mau sebut mereka menentang hukum Islam?

Lagian ya, setiap fiqh itu ada ushul-nya. Janganlah buru-buru klaim ini boleh atau nggak, tanpa ada pertimbangan ilmiah yang jelas, filsafat hukum yang matang, dan kontesktualisasi yang sepadan. Pengambilan hukum itu tidak bisa kita dasarkan pada satu pendapat kering saja. Ada “mengapa” dan “bagaimana” yang sangat luas untuk dijadikan bahan pertimbangan sebelum kita tanya halal dan haramnya.

Sebenarnya, pernyataan dewan pembina masjid yang dijadikan landasan dalam twit ini sudah dibuka dengan pertanyaan yang cukup substansial yaitu “kenapa pernikahan harus menunggu aqil baligh?” Sayangnya, beliau jawab sendiri pertanyaan ini, dan langsung dijadikan poin utama oleh sang penulis artikel. Padahal, kosakata aqil baligh ini bagus sekali. Ia merujuk pada anggapan bahwa pada usia tertentu pertumbuhan akal manusia sudah dapat dikatakan sempurna sehingga dapat mengambil keputusan. Bisa jadi, sebab dari disyaratkan aqil baligh untuk melaksanakan pernikahan justru karena kita sebagai manusia dianggap bisa memberi keputusan yang paling tepat untuk keluarga yang kita bangun: apakah ingin memiliki keturunan atau tidak? Bukan hanya karena penis dan vaginanya sudah bisa digunakan untuk melakukan aktivitas reproduksi semata.

Baca Juga:

Nekat Kuliah S3 di Taiwan Berujung Syok, tapi Saya Merasa Makin Kaya sebagai Manusia

Goa Jatijajar, Objek Wisata di Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi

Terakhir, menyoal kesimpulan yang diambil oleh akun ini baik melalui Twitter maupun artikel websitenya bahwa childfree  tidak diperbolehkan dalam Islam karena bertentangan dengan fitrah manusia. Saya cuma mau mengingatkan, selain bereproduksi, manusia itu punya fitrah yang namanya berpikir. Jadi, jangan juga dilupakan proses penting ini sebelum mengambil keputusan untuk memiliki anak atau tidak. Tuhan tidak saja memberikan tanda kebesaran berupa kapabilitas manusia untuk berkembang biak, tapi bahkan mendahulukan seruan kepada manusia untuk mempergunakan akalnya untuk memahami lingkungan sekitarnya, dirinya, dan agamanya. Dan akal itulah yang membedakan manusia dengan spesies lainnya, meskipun sama-sama memiliki organ reproduksi untuk berkembang biak.

BACA JUGA Biaya Membesarkan Anak Katanya 3 Miliar: Itu Matematika Manusia, Matematika Tuhan Bisa Berbeda dan tulisan Fatimatuz Zahra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 30 Agustus 2021 oleh

Tags: muslimpilihan redaksiPojok Tubir TerminalTren Childfree
Fatimatuz Zahra

Fatimatuz Zahra

Sedang belajar tentang manusia dan cara menjadi manusia.

ArtikelTerkait

4 UMKM Klaten yang Berhasil Go Digital, Ada yang Sukses Jualan sampai ke Luar Negeri!

4 UMKM Klaten yang Berhasil Go Digital, Ada yang Sukses Jualan sampai ke Luar Negeri!

9 Oktober 2025
Klitih Tidak Hilang dengan Ditangkapi, tapi Diberi Ruang Berekspresi terminal mojok.co

Klitih Tidak Hilang dengan Ditangkapi, tapi Diberi Ruang Berekspresi

28 Desember 2021
Surat Balasan Bambang Sukrasana untuk Bambang Sumantri terminal mojok.co

Surat Balasan Bambang Sukrasana untuk Bambang Sumantri

6 September 2021
Pengalaman Saya Terjebak Belasan Aplikasi Pinjol dan Cara Menyelesaikannya

Pengalaman Saya Terjebak Belasan Aplikasi Pinjol Sampai Rp60 Juta

2 Februari 2023
Yamaha NMAX Itu Motor Overrated dan Nggak Spesial Sama Sekali, kok Bisa Penggunanya Arogan di Jalan? kendaraan dinas kades yamaha all new nmax 155 honda vario

Hari Gini Beli Honda Vario? Ah, Nggak Maen, Patah Nanti Rangkanya. Nih, 3 Rekomendasi Motor yang Lebih Worth It!

13 September 2023
Tokopedia, Marketplace Terbaik buat Jual-Beli Produk Lokal mojok.co

Tokopedia, Marketplace Terbaik buat Jual-Beli Produk Lokal

5 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama pengajian berbayar

Maaf Saya Berubah Pikiran, Konsep Pengajian Berbayar Memang Lebih Masuk Akal dan Layak untuk Diikuti

16 Mei 2026
Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan Mojok.co

Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan

19 Mei 2026
Mending Naik Bluebird daripada Taksi Online untuk Lanjut Perjalanan dari Stasiun atau Bandara, Lebih Minim Drama Mojok.co

Mending Naik Bluebird daripada Taksi Online untuk Lanjut Perjalanan dari Stasiun atau Bandara, Lebih Minim Drama

14 Mei 2026
Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

18 Mei 2026
Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

14 Mei 2026
Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau Mojok.co

Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau

16 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.