Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Saya Benci Disebut Bucin!

Nursyifa Afati Muftizasari oleh Nursyifa Afati Muftizasari
3 September 2019
A A
benci

benci

Share on FacebookShare on Twitter

Di era ini, ungkapan ‘bucin’ alias ‘budak cinta’ sering sekali terdengar di masyarakat. Entah siapa yang mempopulerkan, kekuatan internet membuat penyebarannya jadi pesat. Kadang, niatnya mau romantis, tapi jadi bahan nyinyir segenap masyarakat (terutama netijen yang tidak budiman).

Sejak kecil, saya suka membaca karya sastra. Puisi dan cerpen sudah menemani kehidupan saya sejak bangku SD. Novel juga sih, tapi yang tidak terlalu tebal, yang tak sampai seratus halaman. Setelah masuk SMP, mulailah saya berkenalan dengan novel yang lebih panjang, yang beratus-ratus halaman.

Salah satu tema yang menarik untuk dijadikan karya sastra yakni cinta! Kisah atau tulisan romantis sering memiliki tempat tersendiri bagi pembaca. Semua orang pasti ingin dicintai. Membaca sastra bertema cinta sering kali membuat kita berkhayal bahwa kitalah tokoh utamanya. Saya pun demikian, ada keindahan tersendiri saat membaca dan berkhayal.

Tapi sayang, di era ini, semenjak kata bucin merajalela di Indonesia, terutama di kalangan milenial, banyak orang yang jadi ragu menuliskan hal romantis di media sosial atau di surat untuk kekasih. Kenapa? Karena malas disebut bucin.

Banyak pula orang yang mengklaim bahwa pembaca kisah cinta adalah kaum bucin. Alhasil, sebagian orang pun jadi malas membacanya. Ah, padahal minat baca warga di negeri ini sudah minim, apakah akan jadi semakin minim?

Perlahan tapi pasti, saya jadi tidak suka istilah bucin. Memang apa salahnya jika kita mengungkapkan kata romantis atau bersikap romantis melalui tindakan? Mengapa langsung diklam sebagai kaum bucin?

Saya adalah tipikal kaum milenial yang sering menggunakan media sosial sebagai tempat curhat. Salah satu topik curhat saya tulis yakni tentang cinta, meski tak terlalu sering. Tapi setiap saya menulis hal-hal berbau cinta di akun media sosial, pasti ada pesan protes yang menghampiri, kurang lebih isinya:

“Apaan sih, bucin banget!”

Baca Juga:

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

Tolong, Jadi Pengajar Jangan Curhat Oversharing ke Murid atau Mahasiswa, Kami Cuma Mau Belajar

Atau…

“Dasar bucin!”

Atau…

“Jangan bucin-bucin donk!”

Sebuah protes yang menyedihkan. Ayolah, saya hanya ingin berekspresi. Kalau sering disebut bucin, saya jadi sering menghalangi ekspresi saya. Nggak enak lho siebut bucin!

Tidak hanya saya yang protes soal ini. Banyak teman saya yang sebenarnya ingin bersikap romantis, tapi justru disebut sebagai bucin. Apaan sih, nggak asik banget hidup di zaman sekarang, apa-apa dikit di-nyinyir-in. Memangnya kalian tidak ingin diperlakukan romantis? Memangnya kalian tak ingin dicintai dengan manis? Siapa sih yang tidak ingin diperlakukan baik oleh pasangannya?

Kata-kata dan perlakuan romantis, itu kadang memang perlu lho diungkap. Sebagian pasangan justru menganggap bahwa hal tersebut merupakan salah satu “jiwa” dan “seni” dari menjalin hubungan kasih.

Bucin, alias budak cinta… nggak asik banget, ‘kan, istilahnya? Mengapa harus sebut-sebut budak? Konotasi budak, biasanya negatif. Kesannya, jadi memadu cinta dengan cara tidak sehat. Padahal, yang mereka sebut bucin itu, masih dalam tahap percintaan yang wajar menurut saya. Romantisme yang standar dari sudut pandang saya. Memangnya seperti apa sih standar mencintai bagi kalian?

Mungkin tak semua orang benci disebut bucin, tapi untuk sebagian orang… istilah bucin bisa jadi dianggap sebagai penghinaan. Ya… siapa sih yang mau disebut sebagai budak?

Terkadang, saya tak masalah jika disebut bucin. Saat mood sedang baik, itu tak masalah, anggap saja bahan bercanda. Tapi ada masa dimana saya sedang benar-benar ingin mengekspresikan perasaan melalui kata-kata, lalu diejek sebagai bucin. Di saat itulah, saya benci istilah bucin.

Ah, saya sudah mulai muak dan benci dengan kata bucin. Saya akui, memang kadang kata romantis saya berlebihan, atau malah garing. Tapi tolong donk, jangan sebut saya bucin. Saya jadi benci dengan istilah bucin.

Untuk kalian yang sering mengejek dengan kata bucin, coba deh mulai dikurangi. Bisa jadi, kalian telah menghalangi seseorang dalam mengekspresikan cintanya. Padahal, mungkin dia butuh waktu sangat panjang untuk berani berekspresi pada orang yang dia cinta. Tidak semua orang mulus dalam pendekatan, sering kali harus melalui proses panjang.

Mungkin, sebagian dari kalian hanya iseng mengucap kata bucin. Mungkin, kalian justru marah ketika mendapat protes dari pihak yang kalian sebut bucin. Memang sering dianggap sepele, tapi coba bayangkan efeknya, bisa jadi berefek buruk pada sang lawan bicara. Bisa jadi setelahnya, dia selalu penuh keraguan dalam memperlakukan pasangannya. Atau parahnya, bisa jadi dia benar-benar kehilangan sisi romantisnya.

Coba kalian bayangkan jika kekasih kalian ada di posisi itu. Bayangkan jika dia jadi malas untuk mencintai kalian dengan romantis. Nggak asik ‘kan? Masa sih kalian tidak ingin diperlakukan dengan berbagai sisi romantisme?

Ya, sebaiknya, mulai berpikir dari berbagai sisi, tentang penggunaan kata bucin dalam kehidupan bermasyarakat. Kalau memang kalian sudah paham betul sifat lawan bicara, sudah yakin bahwa dia tak akan sakit hati, mungkin tidak apa, asal jangan berlebihan juga. Semua yang berlebihan itu tidak baik. (*)

BACA JUGA Hewan-hewan Ini Lebih Bucin dari Fiersa Besari atau tulisan Nursyifa Afati Muftizasari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 September 2019 oleh

Tags: anak mudabencibucinBudak CintaCurhatPacaran
Nursyifa Afati Muftizasari

Nursyifa Afati Muftizasari

Lahir di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Mahasiswa Universitas Padjadjaran. Ikuti saya di instagram @afa_mufti.

ArtikelTerkait

Museum Date di Museum Sonobudoyo Jogja, Ide Kencan yang Nggak Bikin Kantong Jebol. Cocok untuk Kaum Mendang-mending Mojok.co

Museum Date di Museum Sonobudoyo Jogja, Kencan yang Nggak Bikin Kantong Jebol. Cocok untuk Kaum Mendang-mending

7 Februari 2024
membuang makanan

Membuang Makanan itu Melukai Kemanusiaan Kita

7 Agustus 2019
Forecasting Love and Weather Jangan Pacaran dengan Teman Sekantor Terminal mojok

Forecasting Love and Weather: Jangan Pacaran dengan Teman Sekantor

19 Februari 2022
Telepon Ditakuti Anak Muda, Lebih Nyaman Bicara Melalui Chat

Telepon Ditakuti Anak Muda, Banyak yang Lebih Nyaman “Bicara” Melalui Chat

20 September 2024
tato

Tato Bukan Ukuran Seseorang Jahat atau Tidak

17 Juli 2019
divisi perlengkapan

Panitia Kegiatan yang Paling Capek itu Divisi Perlengkapan

19 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Dilema Warga Brebes Perbatasan: Ngaku Sunda Muka Tak Mendukung, Ngaku Jawa Susah karena Nggak Bisa Bahasa Jawa

Brebes Punya Tol, tapi Tetap Jadi Kabupaten Termiskin di Jawa Tengah

10 April 2026
Jalan Godean Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat Mojok

Jalan Godean yang Ruwet Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat

8 April 2026

Di Jajaran Mobil Bekas, Kia Picanto Sebenarnya Lebih Mending daripada Suzuki Karimun yang Banyak Dipuja-Puja Orang

8 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Bangun Rumah Istana di Grobogan Gara-gara Sinetron, Berujung Menyesal karena Keadaan Aneh dan Merepotkan
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.