Merapikan Kenangan Mantan dengan Metode Marie Kondo – Terminal Mojok

Merapikan Kenangan Mantan dengan Metode Marie Kondo

Artikel

Pada satu titik, usai membaca The Life Changing Magic of Tidying-Up, saya seolah mendapatkan pencerahan, entah lewat matahari siang yang muncul dari celah-celah jendela atau lampu kamar yang cuma berdaya tiga watt. Saya pikir dengan metode yang dicetuskan oleh Marie Kondo, mengapa tidak mencoba membereskan kenangan mantan?

Toh, proses ini, nantinya akan lebih mudah daripada menyortir baju. Soalnya, dengan metode spark joy, kita harus membedakan antara baju-baju yang mengeluarkan kebahagiaan dengan yang tidak. Sementara itu kenangan mantan? Ah, semuanya pahit, bukan? Dulu memang kenangan-kenangan itu memberikan saya kebahagiaan, tetapi sekarang tidak lagi.

Jadi, berbekal buku tersebut dan serial terbaru Marie Kondo yang tayang di Netflix, Tidying Up with Marie Kondo, maka, seraya menghela napas, saya akan mulai untuk membersihkan kenangan-kenangan yang berserakan itu. (dan saat menulis ini, saya sedang menahan banjir keputusasaan yang ingin menyeruak dari dada. Ah, kenangan).

Pertama-tama, saya kembali pada saat pertama kali kami bertemu. Sederhana saja, kok, pertemuan itu. Hanya sebuah pertemuan yang berlangsung di tempat kursus. Inginnya sih, bertemu di peron kereta, kafe, atau museum sekalian supaya manis di cerita. Nyatanya, hidup tidak selalu romantis.

Kami masih kanak pada saat itu. Saya ingat bahwa kami berdua mengenakan seragam sekolah yang sudah bercampur keringat sejak pagi. Aroma anak-anak, aroma matahari. Ya tidak ada yang spesial seharusnya, kecuali saat dia bilang bahwa dia suka menyisihkan waktu luang dengan nonton Amélie berkali-kali di laptop.

Bayangkan. Anak Sekolah Menengah Pertama. Nonton film Amélie Poulain. Kebetulan saya juga sudah tahu sosok itu, dan memang hanya saya saja yang tahu di kelas itu. Apa tidak gila? Apa ini bukan pertanda jodoh yang tertunda?

Ingatan kemudian berjalan, menyusuri hari-hari yang kami lewati. Mengobrol bersama. Cerita tentang keluarga. Kemudian berdebat ala anak remaja. Mengobrol lewat BBM dan pesan (maaf, waktu itu belum ada WhatsApp messenger apalagi Instagram stories).

Hubungan kami sebetulnya aneh. Soalnya, saya pernah nembak dia, kemudian ditolak dengan alasan yang tidak jelas, lalu selang dua hari kemudian, dia menerimanya. Tidak lama kami putus karena merasa hubungan ini lebih asyik kalau dijalankan sebagai teman, tetapi dua minggu kemudian balikan lagi. Sampai tiga tahun lalu.

Kami memang tumbuh bersama, tetapi beberapa hal rupanya tumbuh ke arah berbeda. Misalnya, persepsi tentang hidup, pandangan karier, cara menyelesaikan masalah, dan untungnya tidak termasuk perbedaan pilihan dalam pemilu. Itulah yang membuat kami saling meragu dan dia semakin yakin untuk mundur. Lalu begitulah, kisah mengapa kami berdua jadi orang asing.

Lucu ya? Bagaimana mendeskripsikan orang asing yang tumbuh bersama? Namanya apa kalau bukan pura-pura gila?

Oh ya, metode Marie Kondo ini saya gunakan pula untuk menyortir beberapa barang. Ya, dia pernah memberikan saya barang-barang berguna. Misalnya, tas Eiger saat ulang tahun. Terus, oleh-oleh pertukaran pelajar berupa karuta dan boneka daruma. Ada pula buku 7 Habits of Highly Effective People-nya Stephen R. Covey yang waktu itu dia berikan saat saya galau memilih jurusan kuliah.

Saya mau membuang barang-barang itu, tetapi ah, semuanya masuk kategori spark joy. Misalnya seperti boneka daruma. Boneka yang pernah diberikan nenek Nobita kepada cucunya yang pemalas ini akan selalu berdiri walau dijatuhkan. Penyemangat untuk saya yang sering menyerah. Kalau boneka daruma saja selalu berusaha berdiri, mengapa kamu tidak?

Lalu, soal kenangan. Dipikir-pikir, rasa perih yang tersisa saat dia meninggalkan saya justru merupakan penyemangat. Berkatnya, saya jadi semakin gigih mengejar karier, memperbaiki kehidupan yang tadinya berjalan agak lambat karena terseok-seok rasa kasmaran.

Maka, beginilah jadinya saya. Seseorang yang lebih sukses, tetapi merasa kosong. Kuat, tetapi akan jatuh bila tersentuh kenangan tentang mantan. Dan hal-hal kontraktif lainnya.

Pada akhirnya, metode Marie Kondo hanya menyisihkan beberapa barang kenangan mantan seperti tiket nonton bekas, pesan-pesan singkat, dan struk minimarket. Lainnya? Masih tertinggal. Termasuk kenangan kenangan.

Maaf, Marie Kondo. Mungkin Anda lupa bahwa beberapa hal memang spark joy sekaligus spark sadness, alias menimbulkan kesedihan. Kalau sudah begitu, menurut Anda, saya harus tetap menyimpannya atau membuangnya saja?




Komentar

Comments are closed.