Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Administrasi Ribet di Indonesia Itu Sebuah Keharusan. No Fotocopy No Party

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
17 April 2021
A A
administrasi ribet Indonesia mojok

administrasi ribet Indonesia mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Apa yang tidak mungkin terjadi di dunia ini? Kesetaraan kemakmuran seluruh manusia. Apa yang lebih tidak mungkin dibanding hal tersebut? Administrasi ribet di Indonesia menghilang.

Baik, paragraf di atas mungkin tidak bisa dianggap kalimat yang baik atau kalimat yang bunyi. Tapi, saya kesulitan untuk menuliskan hal ini tanpa emosi. Dan sesuatu yang dituliskan dengan emosi seringkali tak berbuah hal baik. Tapi, lupakan hal tersebut sejenak, saya akan menyampaikan uneg-uneg saya perkara administrasi ribet di Indonesia.

Saya yakin pembaca pasti punya pengalaman terkait administrasi ribet di negara ini. Mengurus hal-hal sepele di Indonesia bisa menghabiskan waktu yang lama dan butuh proses yang panjang. Belakangan ini memang mulai digalakkan pemangkasan administrasi, tapi realitasnya sama aja. Fotokopi KTP, surat pengantar RT, fotokopi NPWP/BPJS/KK/buku rekening, tanda tangan RT/camat/kelurahan/Hokage, adalah hal-hal yang tak akan lepas dari mengurus satu hal yang sebenarnya kelar dalam hitungan detik.

Saya kasih contoh mengurus ujian dan yudisium saja, biar anak umur 18-24 can relate. Beberapa yang umur lebih dari itu juga bisa relate kok. Saya ujian skripsi umur 26. Nggak penting, lanjut.

Ketika skripsi saya akhirnya di-acc untuk ujian, saya harus mengurus daftar nilai dan tanda tangan tiap dosen. Gampang ya? Baik, lanjut. Begitu kelar ujian skripsi, inilah ujian administrasi ribet di Indonesia mulai menerpa saya.

Begini, agar saya bisa ikut yudisium, saya harus mengurus surat bebas pembayaran kuliah ke rektorat, surat bebas perpustakaan dari dua perpustakaan, daftar nilai yang disahkan, tanda tangan dekan di skripsi, tanda tangan Kaprodi dan Kajur, bayar yudisium dan wisuda di bank, foto beberapa lembar, upload skripsi hanya bisa di satu tempat, plus tetek-bengek lain yang saya sudah lupa.

Coba, proses sebanyak itu yang harus saya lalui itu bisa nggak dipersingkat jadi hanya dua-tiga langkah saja? Bisa banget.

Surat perpustakaan bisa banget prosesnya dipotong. Surat bebas pembayaran apalagi, nggak perlu ngurusnya ke kantor pusat rektorat. Tanda tangan itu bisalah dipotong jadi satu doang, entah dekan doang atau penguji doang. Upload skripsi bisa dibikin diupload di mana saja, lha kalau yang mau upload hari itu katakanlah ada seribu, mau gimana? Mau bikin tenda di depan gedung biar dapet antrian awal?

Baca Juga:

11 Istilah Penyakit dalam Bahasa Jawa yang Terdengar Lucu

Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

Itu baru ngurus administrasi di satu tempat yang nggak semua orang akses. Bayangin betapa ribetnya ngurus admistrasi di pelayanan umum lainnya.

Oh, pengalaman itu nggak valid? Saya kasih satu pengalaman lain, perkara bikin SKCK.

Dulu ketika saya keterima kerja di Jogja, saya diwajibkan untuk memberikan SKCK sebagai keperluan administrasi. Lucunya, saya sudah hidup di Jogja selama tujuh tahun, tapi saya harus ngurus SKCK di Wonogiri, tempat saya lahir. Lah, ngapain saya ngurusnya di Wonogiri kalau saya menghabiskan 99 persen waktu saya di Jogja?

Kan logikanya, saya ngurusnya di Jogja, orang hidupnya di situ. Tapi tidak, hanya Polres Wonogiri yang bisa mengeluarkan SKCK. Saya hanya bisa memberikan pengantar berbentuk softfile dari kantor polisi Jogja yang nantinya dikirimkan ke Wonogiri. Surat fisiknya ya yang bisa mengeluarkan ya hanya Wonogiri.

Coba kalau administrasi ribet itu dipersingkat, kayak kantor polisi Jogja bisa mengeluarkan SKCK untuk saya—sebagai pendatang, atau Kepolisian selalu memutakhirkan data penduduk di situsnya. Katakanlah, ketika perusahaan masuk ke situs Polri gitu, lalu mengetik nama “Prayit Yanto Akuarium”, keluarlah catatan kepolisiannya. Mudah kan? Mudah lah.

Saya pikir tidak ada pembelaan yang bisa dikeluarkan oleh pelaku administrasi tentang kenapa untuk mengeluarkan satu surat, kita butuh buanyak pendukung dan proses panjang yang harus dilalui. Nggak perlu surat pengantar RT, nggak perlu tanda tangan camat, nggak perlu lapor ke A ke B, padahal urusannya nggak bersinggungan dengan itu.

Saya pernah menulis bahwa watak feodal abdi negara adalah alasan kenapa administrasi ribet jadi budaya di Indonesia. Saya yakin sampai sekarang alasan administrasi tetaplah ribet ya karena watak feodal tersebut. Proses bisa kok dipotong, setidaknya nggak perlu seribet itu. Katakanlah surat pengantar tetap harus ada, kenapa coba nggak ada yang bikin template surat pengantar yang bisa dikeluarkan kapan saja? Ya biar ditemui dan merasa dibutuhkan aja, biar merasa penting dan bisa ngentul orang.

Sudah prosesnya panjang, orang yang dibutuhkan untuk verifikasi administrasinya kadang nggak di tempat. Padahal ya kantornya di situ. Coba, kalau, katakanlah, kepala desa nggak ada di kantornya, kita suruh nyari di mana?

Kalau begini, kata-kata “negara 4.0” dan “kemajuan algoritma dan artificial intelligence” tak lebih dari omong kosong yang nggak lagi lucu. Kemajuan apaan kalau ngurus beginian aja ribetnya kayak jaman nggak ada teknologi. Betapa lucunya orang yang mau kerja di Bukit Algoritma nanti kudu bawa fotokopi e-KTP, NPWP, BPJS, fotokopi KK, surat pengantar RT, kelurahan, camat, bupati, dan kepala preman setempat. Hadeh.

Di negara ini, suatu perusahaan diberi kemudahan berinvestasi dan membabat hutan, tapi rakyat yang mengurus SKCK akan menemui jalan berliku nan terjal.

BACA JUGA Bukan Birokrasi, Watak Feodal Abdi Negara yang Bikin Kita Sakit Hati dan artikel Rizky Prasetya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 17 April 2021 oleh

Tags: administrasi ribetfotokopi KKIndonesia
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Founder Kelas Menulis Bahagia. Penulis di Como Indonesia.

ArtikelTerkait

6 Rekomendasi Gim Agate yang Perlu Kamu Rasakan Sensasi Budaya Indonesia-nya terminal mojok.co

6 Rekomendasi Gim Agate yang Perlu Kamu Rasakan Sensasi Budaya Indonesia-nya

8 Desember 2020
5 Alasan Orang Jepang Betah Kerja di Indonesia Terminal Mojok

5 Alasan Orang Jepang Betah Kerja di Indonesia

22 Desember 2022
11 Kosakata Sehari-hari yang Sebenarnya Berasal dari Bahasa Belanda Mojok.co

11 Kosakata Sehari-hari yang Sebenarnya Berasal dari Bahasa Belanda

20 Desember 2023
Orang Jakarta Baperan: Panggilan ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar Mojok.co

Orang Jakarta Baperan: ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Panggilan dalam Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

8 Mei 2026
7 Tempat Wisata Tersembunyi di Indonesia yang Belum Terjamah Netizen

7 Tempat Wisata Tersembunyi di Indonesia yang Belum Terjamah Netizen

6 April 2023
merdesa

Merdesa, Indonesia

6 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Karyawan Indomaret Pekerja Paling Underrated di Indonesia (Unsplash)

Karyawan Indomaret adalah Pekerja Paling Underrated di Indonesia

2 Juni 2026
Andai Suzuki Burgman Street 125 Ganti Logo Jadi Honda, Pasti Laris di Indonesia

Suzuki Burgman 150 Terbaru yang Rilis di Kolombia Jadi Bukti Bahwa Suzuki Makin Persetan dengan Penjualan dan Tampilan. Desainnya Jelek Banget!

5 Juni 2026
Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian  Mojok.co

Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian 

6 Juni 2026
5 Ekspektasi Orang Saat Pindah ke Solo yang Ujung-ujungnya Salah Total Mojok.co

5 Ekspektasi Orang Saat Pindah ke Solo yang Ujung-ujungnya Salah Total

3 Juni 2026
5 Kuliner Malang yang Jarang Disantap Warga Lokal, bahkan Dihindari Mojok.co

Malang Dingin Itu Seharusnya Wajar, tapi Kini Justru Jadi Anomali

3 Juni 2026
5 Barang Unik yang Saya Temukan di Facebook Marketplace, Surga yang Underrated

Facebook Marketplace, Titik Kumpul Barang Unik dan Berguna, sekaligus Surganya para Penipu

4 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.