Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Jenis-jenis Pengamen Jalanan di Perempatan yang Bikin Bingung Kudu Diapain

Riyanto oleh Riyanto
10 Februari 2021
A A
Jenis-jenis Pengamen Jalanan di Perempatan yang Bikin Bingung Kudu Diapain terminal mojok.co

Jenis-jenis Pengamen Jalanan di Perempatan yang Bikin Bingung Kudu Diapain terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Resah dengan kehadiran pengamen di bis? Kayak… mereka itu nggak ada habis-habisnya dan kalau ngasih receh teros ya abis juga isi dompet gitu? Atau gini deh, misal nggak ada recehan di dompet gimana? Misal pada suka cashless gimana? Masa iya kudu transfer saldo GoPay ke si pengamen jalanan?

Milih pakai kendaraan pribadi juga belum tentu bebas dari pengamen jalanan. Kalau pengamen di bis itu punya cara sendiri buat naik dan beratraksi entah nyanyi, baca puisi, main alat musik, atau sekadar tepok-tepok tangan, pengamen yang nggak di bis jauh lebih kreatif. Sering, kan, ketemu pengamen jalanan yang unik-unik di perempatan lampu merah? Di Jogja ada banyak banget, hampir setiap lampu merah ada pengamennya. Di kota lain rasanya juga nggak jauh beda.

Nah, berikut adalah jenis-jenis pengamen jalanan di perempatan lampu merah yang unik, ajaib, pun bingung kudu diapain.

Jenis pengamen #1 Geng musisi, anak punk, dan mahasiswa yang danusan

Jenis yang satu ini meliputi orkes angklung jalanan yang mendadak bertebaran di setiap perempatan, anak punk bergitar, juga mahasiswa-mahasiswa kreatif yang main musik sambil ngasih bunga.

Para orkes angklung, sih, masih bisa dinikmati, ya. Terlihat ada usaha dan musik yang dihasilkan juga aduhai merdunya. Akan tetapi saya kerap nggak ngasih receh ke mas-mas yang keliling kalau melihat sudah ada orang lain yang ngasih. Bukannya pelit ya, tetapi saya sudah menghitung matang-matang berapa pendapatan mereka, per satu orang jika orkes itu ada tujuh personel.

Saya pernah melakukan analisis mendalam terkait penghasilan mereka yang lebih gede ketimbang UMR Jogja. Makanya, kalau sudah ada yang ngasih, ya sudah saya nggak bakal ngasih. Kecuali kalau nggak ada yang ngasih selama saya melihat, barulah saya mau ngasih itu si mas-mas.

Lain lagi anak punk. Model beginian bikin bimbang juga. Udah suaranya nggak bagus-bagus amat, main gitarnya juga biasa aja, menghibur juga nggak, masa kudu ngasih recehan, sih? Atas dasar apa kudu ngasih recehan? Iba? Itu juga nggak. Malahan mereka yang bakalan iba sama saya kalo tau pendapatan mereka dari ngamen jauh di atas penghasilan bulanan saya. Itu yang harusnya ngasih duit bukan saya, tapi mereka.

Jauh berbeda lagi dengan para mahasiswa yang ngamen ke jalan. Biasanya pada ngumpul di lampu merah Gramedia Sudirman itu. Sore-sore, pake saxophone, trombone, klarinet, dan alat musik keren lainnya. Yang nyanyi juga rame-rame, dan adalah dedek-dedek gemes yang bertugas mendatangi pengendara sambil senyum ramah dan bawa bunga. Wanjeeeng, godaan macam apa lagi itu?

Baca Juga:

Perempatan Mirota Godean, Perempatan Penuh Drama dan Paling Problematik di Jogja

Perempatan Sonosewu Bantul Adalah Maut, Bikin Pengendara yang Lewat Sini Celaka

Biasanya model beginian lagi menggalang dana, sih. Pernah saya iseng nanya, ternyata dana yang mereka kumpulkan buat ikut lomba bergengsi karena pihak kampus nggak mau membiayai full perjalanan mereka. Ah, kasihan sekali mereka. Misal menang, pasti kampus bakal membangga-banggakan mereka. Misal kalah, halah… paling disindir-sindir.

Jenis pengamen #2 Badut serem

Kalau yang jenis pertama itu masih wajar, jenis kedua ini jauh dari kata wajar. Itu loh, badut-badut yang pakai kostum boneka berkepala gede. Udah gitu kepalanya bisa goyang-goyang kayak mau copot lagi. Ditambah ekspresi kepalanya senyum mengerikan pulak. Woy, itu mau menghibur apa nakut-nakutin, sih? Kalau saya sendirian malam-malam ketemu beginian di perempatan, walah… auto melanggar lalu lintas saya.

Jenis pengamen #3 Tukang ngelap kendaraan

Entah sejak kapan jenis ini eksis di dunia ini. Pas sore-sore sepulang kerja naik Honda Beat dan berhenti di perempatan, eh mendadak ada mas-mas yang nyamperin dan mulai ngelapin bodi motor saya.

Yang saya pikirkan pertama kali, ternyata bukan hanya saya yang merasa motor Beat warna hitam itu kudu dibersihkan dari debu-debu. Tetapi setelah saya mikir lebih serius, lha ngapain ada mas-mas super baik yang ngelapin motor saya? Udah gitu doi langsung minta duit sesudah ngelap. Woy, itu ngelapnya cuma bodi depan doang, pun nggak sampe pelek, kok malah minta duit?

Kalau niatnya emang minta duit atas jasa yang super nanggung itu, ya mbok bilang di awal sebelum ngelap. Lha kalau udah telanjur ngelap, saya kan kudu ngasih duit juga wong sudah telanjur dilapin itu motor.

Jenis pengamen #4 Atraksi jungkir balik dan wayang orang

Ada satu bocah yang saya apal betul di perempatan Jetis Yogyakarta. Tiap sore sampai malam dia bakal duduk di pembatas jalan kalau lampu menyala hijau. Dia baru berdiri dan melakukan pemanasan ketika lampu menjadi kuning. Atraksinya selalu sama dan itu-itu saja. Joget dikit di bawah lampu merah, terus jungkir balik dan berdiri menggunakan tangan. Begitu terus diulang-ulang dan dilanjutkan meminta receh.

Lain lagi di lampu merah awal Jalan Kaliurang. Selain badut serem, ada pula mas-mas berpakaian layaknya mau pentas wayang orang. Saya yakin dia adalah penari handal, tapi entah bagaimana bisa berakhir di perempatan alih-alih di sanggar tari.

Kehadiran mereka di jalanan, bocah jungkir balik dan mas-mas wayang orang, membuat saya bingung. Mereka adalah orang-orang yang punya skill mumpuni, tetapi kenapa justru berakhir mengamen? Tanpa berniat merendahkan pengamen jalanan, orang-orang dengan skill mumpuni itu layak dapat panggung dan ditonton di pertunjukkan.

Lebih bimbangnya lagi, memberi mereka recehan berarti membiarkan mereka hidup di jalan. Namun, tidak memberi mereka recehan, apa tidak berarti membiarkan mereka mati di jalan?

BACA JUGA Lika-liku Pengamen saat Ini: Dibayar Bukan Untuk Bernyanyi, tapi Agar Segera Pergi dan tulisan Riyanto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 10 Februari 2021 oleh

Tags: pengamen jalananperempatan
Riyanto

Riyanto

Juru ketik di beberapa media. Orang yang susah tidur.

ArtikelTerkait

Perempatan Kedung Cowek, Perempatan Paling Barbar di Surabaya: Lampu Merah dan Rambu Lalu Lintas Nggak Ada Harga Dirinya di Sini

Perempatan Kedung Cowek Paling Barbar di Surabaya: Lampu Merah dan Rambu Lalu Lintas Nggak Ada Harga Dirinya di Sini

9 Maret 2024
Perempatan Mirota Godean Jogja: Ruwet dan Problematik Sejak Dulu

Perempatan Mirota Godean, Perempatan Penuh Drama dan Paling Problematik di Jogja

22 Maret 2025
Perempatan Jetis Mojokerto, Jalan Utama Penghubung Antardesa yang Mengenaskan

Perempatan Jetis Mojokerto, Jalan Utama Penghubung Antardesa yang Mengenaskan

26 Januari 2024
Perempatan Madukismo Menyimpan Bahaya bagi Pengendara: Nggak Ada Lampu Lalu Lintas, Rawan Kecelakaan

Perempatan Madukismo Menyimpan Bahaya bagi Pengendara: Nggak Ada Lampu Lalu Lintas, Rawan Kecelakaan

11 September 2023
Tak Ada yang Lebih Tabah dari Pengguna Jalan Perempatan Gedangan Sidoarjo

Tak Ada yang Lebih Tabah dari Pengguna Jalan Perempatan Gedangan Sidoarjo

16 Maret 2023
Perempatan Jetis, Perempatan Paling Berpendidikan di Jogja Sejak Masa Kolonial

Perempatan Jetis, Perempatan Paling Berpendidikan di Jogja Sejak Masa Kolonial

12 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Sidoarjo Bukan Sekadar “Kota Lumpur”, Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

14 Januari 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Fenomena Alumni Abadi di Organisasi Kampus: Sarjana Pengangguran yang Hobi Mengintervensi Junior demi Merawat Ego yang Remuk di Dunia Kerja

18 Januari 2026
Saya Pakai ThinkPad Bukan karena Saya Pekerja Keras, tapi karena Malas

Saya Pakai ThinkPad Bukan karena Saya Pekerja Keras, tapi karena Malas

20 Januari 2026
Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal mojok.co

Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal

14 Januari 2026
Guru Honorer Minggat, Digusur Negara dan Guru P3K (Unsplash) dapodik

Bantuan untuk Guru Honorer Memang Sering Ada, tapi Dapodik Bikin Segalanya Jadi Ribet dan Guru Nasibnya Makin Sengsara

20 Januari 2026
Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

17 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak
  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.