7 Pengalaman Punya Banyak Anak, dari Dikira Tidak KB Hingga Jadi Pusat Perhatian

Artikel

Anak adalah anugerah terindah dalam suatu keluarga. Saat satu per satu anak terlahir ke dunia, rumah yang tadinya hanya dipadati suara emak dan bapaknya menjadi lebih bernyawa dengan celotehan dan canda tawa anak-anak. Ditambah kalo jumlah anaknya banyak. Huw, pasti suasana hingar dan heboh tak dapat dihindarkan lagi.

Punya banyak anak itu seru dan menyenangkan. Saat di luar hujan lebat atau dalam situasi seperti sekarang yang mengharuskan anak-anak untuk lebih banyak tinggal di rumah, mereka tidak merasakan suntuk ataupun kelabakan mencari teman bermain di luar. Cukup bermain dengan saudara-saudara kandungnya bahkan untuk jenis permainan yang membutuhkan banyak anak untuk memainkannya, mereka tidak resah.

Jumlah anak yang banyak bikin anak tidak perlu ngundang teman untuk datang ke rumah. Karena sudah ada kakak/adik yang jumlahnya banyak. Konon katanya punya banyak anak dapat mengundang banyak rejeki wallahu’alam, tiap ada yang mengatakan begitu, saya akan aminkan dengan sungguh sungguh. Dan mari yang punya anak banyak mendukung mengaminkannya.

Tetapi punya banyak anak juga tak luput mengalami hal semacam ini. Saya akan ceritakan hal-hal yang sering terjadi gara-gara punya banyak anak.

Sering ditanya “emang tidak KB?”

Yang punya banyak anak mungkin tidak asing lagi dengan pertanyaan “emang tidak KB?’ Lebih lebih bila jarak antara anak satu ke anak berikutnya cukup dekat. Saya mengalaminya sendiri, karena anak saya berjumlah empat orang dan masih kecil kecil, pertanyaan “emang tidak KB?” sudah menjadi santapan sehari hari, sudah kayak makan nasi sama lauk.

Saat saya mengguggah foto keluarga di media social rata rata teman teman pada bertanya via messenger, anakmu banyak amat, emang tidak KB?” saya hanya balas emot meringis pamerin gigi kayak model iklan pasta gigi.

Saat pergi ke pasar dengan empat orang anak mengekor di belakang saya,  seorang ibu penjual aneka peranti rumah tangga yang kebetulan saya singgahi karena saya hendak membeli tatakan gelas bertanya pula hal yang sama, “anaknya semua, Mbak?”

“Oh iya, Bu, anak saya semua.”

“Ough, emang tidak KB ?”

Huuuua

Tidak bisa bepergian menggunakan kendaraan roda dua

Ya bagaimana mungkin mengusung empat, lima, sampai enam orang anak menggunakan kendaraan roda dua. Bisa-bisa dihajar satpol PP, eh pak polisi maksudnya. Yang dihajar orangtuanya tidak mematuhi peraturan lalu lintas, mbonceng anak melebihi kapasitas. Jadi punya banyak anak tidak memungkinkan bepergian hanya dengan mengandalkan kendaraan roda dua, ingat itu.

Jika pun ada empat unit kendaraan roda dua seperti sepeda motor nisalnya, ya tetap saja tidak bisa. Memang anak anak suruh nyetir sepeda motor sendiri. Ingat batas minimal mengendarai sepeda motor juga harus sudah berusia 17 tahun dan harus punya SIM. Jika mau pergi bersama sama dengan mengajak semua anak, ya mau tak mau harus mencari alternatif kendaraan lain.

Baca Juga:  Aku Lupa Namamu, Tapi Inget Mukamu Kok

Tidak bisa tidur sekamarTidur sekamar dengan anak anak yang jumlahnya banyak rasanya sudah tidak memungkinkan. Harus memisahkan diri satu sama lain karena rata rata satu bed ukuran paling besarpun hanya memuat dua anak saja, kalo lebih dari itu tentu akan berdesakan yang tak hanya menimbulkan kekacauan tapi juga ketidaknyamanan. Misalnya saling menimpuk dan menendang satu sama lain, tahu sendiri tingkah anak anak saat tidur modelnya kayak apa. Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, mutar kanan 90 derajat, mutar kiri 180 derajat. Jadi musti memempatkan satu kamar maksimal di tempati dua anak saja. Tidak bisa sekamar bersama sama.

Kalo beli makanan harus dalam jumlah banyak

Banyak anak mengharuskan setiap orangtua membeli makanan sesuai standar jumlah anak yang mereka miliki atau lebih. Misalnya aja membeli donat, berhubung jumlah anaknya delapan, ya membelinya pun kudu delapan biji atau lebih dari itu, untuk mengantisipasi anak anak yang mau menambah makan donatnya.

Dulu saat anak masih dua tiap belanja makanan atau jajanan anak anak satu kantong plastik setengah kiloan juga sudah cukup. Tapi tidak dengan sekarang. Dengan empat orang anak saya harus meminta kantong plastik ukuran lebih besar untuk wadah makanan yang saya beli. Kalo masuk swalayan keluar-keluar kayak orang baru borong makanan untuk stok satu bulanan padahal cuma buat sehari doang. Sebab kalo belinya tidak sesuai dengan jumlah anak, mereka akan saling berebutan minta jatahnya masing masing.

Misalnya es krim. Semua anak punya selera yang berbeda. Ada yang suka rasa kacang hijau, coklat, pelangi, vanila, durian dan macam macam. Ya jadilah semua rasa yang jadi kegemaran anak anak saya beli. Kalo nggak bisa pecah tuh perang Baratayudha edisi masa kini. Beneran.

Kalo menyebut jumlah anak sering membuat orang tercengang

Coba kamu sebutkan jumlah anakmu yang banyak itu saat teman lama yang tidak pernah ketemu menanyakannya, atau orang yang duduk bersebelahan di ruang tunggu dokter langgananmu membuka percakapan:

Anaknya berapa, Mba?

Delapan. Hehe…

Perhatikan reaksinya, pasti tercengang. Kalo sampai nggak, saya berani ajak kalian makan cilok sampai kenyang. Kalo belum kenyang tidak boleh pulang.

Baca Juga:  Gondrong itu Identitas, Bukan Sekedar Gaya-Gayaan

Suatu kali saya bertemu dengan teman SMA di sebuah acara. Biasa kalo bertemu teman lama yang ditanyain sehabis kamu tinggal di mana sekarang, ya menanyakan jumlah anak. Begitu saya sahut ” empat”, tercenganglah teman saya. Tapi syukurlah tidak sampai pingsan.

Pengeluaran menjadi lebih banyak

Banyak anak secara langsung mempengaruhi pengeluaran yang juga menjadi banyak. Dari biaya makan, pakaian, sekolah, jajanan sampai pada tagihan air, listrik, dan pengobatan.  Belum kalo harus bepergian menggunakan kendaraan umum seperti pesawat, kereta api, bus, yang lazimnya dihitung perkepala. Misalnya tiket pesawat Jogja-Jakarta 1.032.400/orang. Jumlah anak ada 5 orang, ditambah bapak sama emaknya. Ya, tinggal notalin doang.

Demikian halnya dengan biaya sekolah, jika 5 orang anak bersekolah semua tinggal jumlahin aja kalo masing masing anak SPP perbulannya 250 ribu, belum uang gedung, seragam, buku paket, alat tulis, dan segala tetek bengeknya. Ah, napa jadi saya yang pusing ya.

Jadi pusat perhatian

Saat keluar jalan bersama keluarga, saya berasa seperti selebriti yang tengah tebar pesona, banyak yang memperhatikan kami, bukan GR lho ya. Banyak anak mengharuskan kita terus memantau dan mengatur mereka ketika berada di tempat umum.

Misalnya saat ngantri masuk pusat permainan yang mengharuskan anak anak berbaris tenang, memperhatikan depan dan itu kadang membuat kami sebagai orang tua dikit dikit kudu mengeraskan suara untuk sekedar menegur atau mengingatkan anak anak. Yang dua orang anak tenang, eh yang duanya lagi malah beradu aksi, ada saja yang diperebutkan entah gelang karetlah, botol minumanlah, HP emaknya, dan apa saja yang sontak membuat orang orang pada mengalihkan pandangan ke arah kami, malah kadang ada yang senyum senyum sembari menghitung jumlah anak yang berjejer kayak mau berangkat demo.

Itu adalah beberapa hal yang saya alami karena punya banyak anak. Bagi kalian yang pengin punya anak yang banyak, boleh-boleh saja asalkan siap dengan semuanya. Harus beneran siap, nggak cuma siap pas bayangin lucunya doang. Kalau mau cari lucu doang mah nonton Warkop bisa.

BACA JUGA 5 Penderitaan Punya Wajah Awet Muda, Dari Dianggap Memalsukan SIM Sampai Dicap “Anak Kecil Punya Anak” dan tulisan Muntarsih Zakiyya Sakhie lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
4


Komentar

Comments are closed.