Kebumen punya segudang stereotip yang beredar di masyarakat. Entah kenapa, orang-orang punya pandangan aneh-aneh soal kabupaten yang terjepit antara Purworejo dan Cilacap ini. Padahal kalau mau menggunakan sedikit saja logikla, banyak banget pandangan tersebut yang nggak masuk akal.
Sebagai orang asli Kebumen, saya merasa punya beban moril untuk meluruskan stereotip tidak masuk akal tersebut.
#1 Orangnya pelit dan perhitungan banget
Ini stereotip klasik yang kayaknya nggak bakal pernah mati. Konon katanya, orang Kebumen itu perhitungan sampai ke sen terakhir. Pelit nggak mau rugi sedikit pun. Bahkan, ada yang bilang kalau diajak arisan sama orang Kebumen, siap-siap aja buat ngitung nominal sampai nol di belakang koma.
Padahal, ini cuma kesalahpahaman klasik. Orang dari Kota Lawet ini memang cermat dalam mengelola uang, tapi itu bukan berarti pelit. Justru mereka bijak finansial. Di era sekarang yang serba mahal ini, sikap nggak boros malah harusnya jadi teladan. Lagian, siapa yang nggak mau hidup hemat? Kalau ada orang nolak diajak jajan karena lagi nabung, bukan berarti dia pelit, tapi dia punya prioritas yang harus dipenuhi.
#2 Medok dan kampungan
Logat Kebumen yang kental sering dijadikan bahan olok-olok. Banyak yang menganggap kalau medok berarti kampungan dan nggak gaul. Pokoknya, kalau ketahuan orang Kebumen dari cara ngomongnya, langsung deh dikira kudet sama tren kekinian.
Halo, ini abad berapa ya? Logat daerah itu identitas budaya, bukan ukuran modern atau nggaknya seseorang. Justru orang yang masih kuat memegang logat aslinya patut diapresiasi karena nggak kehilangan akar budaya. Toh, banyak juga orang Kebumen yang sukses di berbagai bidang tanpa harus ngilangin logat khasnya. Medok itu unik, bukan kampungan.
#3 Di Kebumen nggak ada yang menarik
Banyak orang beranggapan Kebumen itu cuma daerah transit doang. Nggak ada tempat wisata menarik, nggak ada kuliner khas yang bikin penasaran. Pokoknya, daerahnya membosankan dan nggak worth it mampir ke sana.
Saya jamin, orang yang ngomong seperti itu pasti nggak update kondisi terkini. Kebumen punya banyak destinasi wisata menarik. Sebut saja, Pantai Menganti dengan pasir putih dan tebing karangnya yang Instagramable. Ada juga Goa Jatijajar dengan stalaktit dan stalagmit yang memukau. Waduk Wadaslintang yang tenang, sampai Benteng Van der Wijck yang punya nilai sejarah tinggi.
Belum lagi kuliner khasnya seperti sate ambal, lanting, dan sroto Kebumen yang bikin ketagihan. Jadi, sebelum bilang Kebumen membosankan, mending dicoba dulu eksplor tempatnya.
#4 Orang Kebumen tertutup dan sulit bergaul
Ada anggapan kalau orang Kebumen itu pendiam, nggak ramah, dan susah akrab sama orang baru. Katanya mereka butuh waktu lama buat buka diri dan cenderung eksklusif sama sesama orang Kebumen aja.
Ini salah besar. Orang Kebumen memang cenderung santai dan nggak lebay dalam pergaulan, tapi bukan berarti tertutup. Mereka justru hangat dan loyal kalau sudah kenal. Sikap hati-hati di awal pertemuan itu wajar, bukan berarti antisosial. Justru ini menunjukkan mereka selektif dalam berteman, yang sebenarnya hal positif. Sekali mereka percaya, orang Kebumen bisa jadi teman yang paling bisa diandalkan.
#5 Orang Kebumen kurang ambisi dan suka zona nyaman
Stereotip ini bilang kalau orang Kebumen itu kurang ambisius, suka main aman, dan nggak berani ambil risiko. Mereka dianggap lebih memilih jadi pegawai negeri atau kerja kantoran biasa daripada jadi entrepreneur atau mengejar karir tinggi.
Faktanya, banyak kok orang-orang dari Kota Lawet yang sukses di berbagai bidang, dari akademisi, pengusaha, seniman, sampai pejabat. Pilihan hidup yang lebih stabil bukan berarti kurang ambisi, tapi lebih ke preferensi pribadi. Lagian, nggak semua orang harus jadi CEO atau startup founder untuk disebut ambisius. Yang penting kan berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing. Dan percaya deh, orang Kebumen yang serius mengejar cita-cita nggak kalah gigih dari daerah manapun.
Jadi, sudah saatnya kita berhenti percaya stereotip nggak masuk akal tentang orang Kebumen. Setiap daerah punya karakteristik uniknya sendiri, dan nggak ada yang bisa digeneralisasi begitu saja. Orang Kebumen sama seperti orang-orang dari daerah lain yang beragam, dinamis, dan punya potensi luar biasa. Yuk, mulai sekarang kita lebih bijak dalam menilai orang, jangan cuma berdasarkan asal daerahnya aja.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Goa Jatijajar, Objek Wisata di Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















