5 Kebohongan Malang yang Perlu Sedikit Diluruskan

5 Kebohongan Malang yang Perlu Sedikit Diluruskan Mojok.co

5 Kebohongan Malang yang Perlu Sedikit Diluruskan (unsplash.com)

Ada perasaan geli ketika tahu bagaimana tanggapan orang-orang luar Malang tentang Malang. Mereka menganggap tempat ini pas untuk melepas penat, mencari ketenangan, dan biaya hidup murah. Bahkan, daerah ini  dianggap pas menjadi tempat menghabiskan waktu tua. 

Itu tidak salah. Sebab, pendapatan itu keluar dari mulut orang-orang yang tidak tinggal di Malang. Mereka tidak pernah benar-benar tahu yang terjadi di Kota Apel ini. 

Sayangnya, anggapan-anggapan dari “luar” itu justru lebih dipercaya banyak orang. Kota Apel jadi semacam objek romantisisasi yang sayangnya mengandung cukup banyak kekeliruan, mengandung beberapa kebohongan. Tapi, ya mau gimana lagi, lha wong Malang, seperti Jogja, memang sudah seakan jadi langganan untuk urusan romantisisasi omong-kosong ini.

Satu-satunya yang bisa dilakukan, terlebih bagi orang Malang seperti saya, ya dengan mencoba meluruskan itu semua. Makanya, lewat tulisan ini saya akan coba memaparkan sekaligus meluruskan beberapa kebohongan tentang kampung halaman saya. 

Baca juga Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar.

#1 Semua tempat di Malang itu sejuk, nyaman, dan aman

Kalau dibandingkan dengan kota-kota yang lain (seperti Jogja, Bandung, Surabaya, atau bahkan Jakarta), Malang dianggap sebagai kota yang lebih sejuk, lebih nyaman, dan aman. Itu memang nggak salah. Sebab, urusan sejuk, dibanding kota-kota itu, Malang bisa dibilang paling sejuk. Mungkin sama Bandung miriplah. Soal nyaman dan aman, sebenarnya relatif mirip,

Akan tetapi, perlu digarisbawahi, nggak semua tempat di Malang itu sejuk, nyaman, dan aman lho. Kalau kalian tinggalnya di dataran tinggi (misal dekat Batu atau di Poncokusumo), ya bakal sejuk. Tapi, kalau kalian tinggalnya di pusat kota yang padat penduduk, atau di pesisir selatan, ya jelas akan merasakan panas, lebih gerah. Nggak ada sejuk-sejuknya.

Soal nyaman dan aman, juga sama, tergantung kalian tinggal di mana. Kalau kalian tinggalnya di pedesaan Malang yang tenang, atau di perumahan bagus kayak Araya atau Permata Jingga, ya mungkin memang demikian. Tapi, kalau kalian tinggalnya di pemukiman padat penduduk kayak di Jodipan atau Muharto, saya agak ragu kalian akan merasa aman dan nyaman. Kecuali kalau kalian memang sudah dari lahir di sana, ya beda kasusnya.

#2 Masih didominasi ruang terbuka hijau

“Malang itu masih hijau, masih banyak hutan, masih didominasi ruang terbuka hijau, bla bla bla.” Ndasmu itu! Kalau bicara itu dalam konteks Kabupaten Malang, mungkin kita masih banyak menjumpai hutan, kebun, atau ruang terbuka hijau. Memang masih agak banyak. Di daerah-daerah yang dekat gunung atau pantai mungkin masih ada, meskipun keberadaannya makin terancam.

Akan tetapi, kalau kita bicara Kota Malang, di sana udah nggak ada hijau-hijaunya. Isinya bangunan semua, pemukiman semua. Kota Malang itu seperti nggak bisa lihat lahan kosong dikit, penginnya dibangun bangunan aja. Ya nggak heran kalau ruang terbuka hijau di Malang ini sudah bisa dibilang masuk ke level kritis. Makin hari makin nggak dirawat. Makin hari makin habis. Makanya kalau ada yang bilang Malang masih hijau, balas tanya aja, “Malang yang mana?”

Baca juga 4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata.

Baca halaman selanjutnya: #3 Karena berada …

#3 Karena berada di dataran tinggi, Malang jadi bebas banjir

Beberapa bulan lalu, saya pernah menulis soal banjir di Malang. Di awal tulisan, saya membukanya dengan anggapan bahwa ada masanya, Malang dan banjir itu seperti dua kutub magnet yang sama. Nggak bisa menyatu. Logikanya sederhana, daerah ini berada di dataran tinggi, dan kayaknya nggak mungkin banjir. Ternyata waktu membuktikan bahwa saya keliru. Daerah ini tetap banjir.

Banjir sudah seperti agenda tahunan biasanya di akhir tahun. Sedihnya, makin tahun, banjirnya makin parah. Banjir di akhir 2025 kemarin bahkan jadi salah satu banjir terparah di Malang dalam 5 tahun terakhir. Sialnya lagi, pihak Pemkot agak lemot dalam menangani, seakan nggak serius mengurus masalah banjir. Jadinya, ya masyarakat yang jadi korban yang sengsara.

Itu mengapa, saya kadang suka risih kalau masih ada yang bilang bahwa Kota Apel itu lebih bebas banjir hanya karena berada di dataran tinggi. Nggak! Daerah ini  tetap saja kena banjir meskipun ada di dataran tinggi. Bahkan tetangganya, Batu, yang letaknya lebih tinggi, juga beberapa kali kena banjir, kok.

#4 Biaya hidup murah

Sebenarnya, anggapan bahwa biaya hidup di Malang itu murah nggak sepenuhnya keliru. Iya, biaya hidup memang murah, apalagi kalau dibandingkan dengan Jakarta atau Surabaya. Bahkan, dibandingkan dengan Jogja, dengan menyertakan variabel UMR, biaya hidup di Malang jatuhnya lebih murah. UMR lebih tinggi, biaya hidup mirip-mirip.

Tapi, bukan berarti kita langsung bisa menyatakan bahwa biaya hidup di Malang itu murah. Nggak bisa. Kenyataannya berkata sebaliknya. Biaya hidup kini  makin mahal, dan makin nggak ngotak. Kita nggak usah ngomong harga tanah yang makin melambung tinggi, deh. Kita ngomongin harga kopi, harga makanan, atau harga sewa tempat tinggal (kos dan kontrakan) makin lama makin tinggi. Kenaikan harganya ngawur.

Harga kopi dan makan seporsi rata-rata sudah Rp20.000 ke atas. Harga sewa kos standar di Malang, rata-rata sudah di atas Rp700.000 per bulan. Sedangkan harga sewa kontrakan yang standar, yang biasa, ada di rata-rata Rp17 juta per tahun. Makin mahal, kan?

#5 Cocok buat menghabiskan waktu tua

Setelah tahu bahwa Malang itu makin nggak aman dan nyaman, punyan ancaman banjir tahunan, hingga daerah yang makin padat dan makin mahal, apakah kalian masih menganggap daerah ini cocok untuk pensiun? Menghabiskan waktu tua? Yakin? Karena makin ke sini, Malang sebagai tempat yang cocok untuk menghabiskan waktu tua itu omong kosong! Daerah ini nggak cocok buat menghabiskan waktu tua.

Itulah Malang dan beberapa “kebohongan” tentangnya. Sayangnya, hal-hal ini masih dipercayai banyak orang, dan sebagai orang Malang, kayaknya saya perlu meluruskan. Apakah nanti bakal diterima dan dipercaya, ya terserah aja, sih.

Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Alasan Orang Surabaya seperti Saya Ogah Liburan ke Malang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version