Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

5 Fakta yang Nggak-nggak tentang Mahasiswa Indonesia di Mesir (Bagian 2)

Rifqi Luthfianur oleh Rifqi Luthfianur
21 Juli 2020
A A
mahasiswa indonesia di mesir mojok

mahasiswa indonesia di mesir mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya. Cukup kaget karena respon yang saya dapat cukup banyak. Terima kasih masisir, akhirnya saya merasakan jadi orang yang cukup terkenal, walau dengan nama yang jelek. Hehe nggak masalah buat saya yang sudah jelek. Oh iya, masisir itu singkatan dari mahasiswa Indonesia di Mesir.

Sebagai catatan, walaupun judulnya fakta, pada hakikatnya tulisan saya ini opini pribadi, bisa saja salah dan nggak menurut kawan-kawan. Pasalnya, komentar yang hadir isinya beragam yang pada intinya saya dihujat dikritik karena membangun opini buruk. Emang dasar saya yang suka buat masalah sih.

Oke langsung saja kepada intinya. Masisir pada awalnya merupakan orang-orang pilihan dari sekian ribu calon peserta. Waktu saya mendaftar tes seleksi, terdapat sekitar lima ribuan nama yang mendaftar. Namun, yang lolos hanya sekitar 20%-nya saja. Alhamdulilah, untungnya saya termasuk ke bagian itu karena sebelumnya saya sudah merelakan SNMPTN yang saya dapat.

Orang-orang pilihan ini tentunya bukan remahan roti. Banyak yang saya temui merupakan orang berprestasi semasa sekolahnya. Ada yang sudah mengkhatamkan hafalan Qurannya, ada yang fasih dalam tiga bahasa, Indonesia, Inggris, dan Arab, atau sekalian bahasa daerahnya digabung jadi empat.

Nah, kehidupannya berubah nih setelah lulus. Soalnya kuliah di Mesir itu bebas. Sehingga tercipta kesenjangan intelektual. Kalau dia rajin, maka ilmunya bertambah banyak, dan kalau dia malas, maka ilmunya mandek di situ. Atau bahkan malah lebih buruk dari sebelum jadi mahasiswa. Emang ada yang seperti itu? Wah, nggak boleh suuzon nih, Insyaallah nggak ada.

Berikut ini fakta yang nggak-nggak tentang masisir. Ini yang keren-keren, nggak kayak saya yang benalu ini hehe.

Nggak bisa menahan diri untuk nggak beli buku

Toko-toko buku—selanjutnya kita sebut kitab saja biar Arabnya lebih terasa dan ‘bobotnya’ lebih berat—yang ada di Mesir jumlahnya nggak ketulungan, buanyak banget. Saking banyaknya, satu judul kitab bisa diterbitkan oleh beberapa penerbit, yang disebar lagi ke banyak toko buku. Kalau kita mau beli satu kitab nih, kita bukan hanya menanyakan di mana belinya, tapi juga cetakan mana.

Maka, syahwat masisir terhadap kitab benar-benar tinggi. Ditambah lagi di Mesir terdapat pameran buku yang sangat besar, terbesar kedua di dunia setelah Frankfurt. Uang ratusan ribu Rupiah untuk membeli kitab terhitung kecil. Biasanya, dalam setahun banyak masisir menghabiskan jutaan Rupiah untuk membeli kitab.

Baca Juga:

4 Catatan untuk Pemkab Bangkalan Madura agar Program Satu Desa Satu Sarjana Tidak Sia-Sia

Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan

Hasilnya, dipajang dong di dalam rumah sebagai prestise dan awal niat baik sekaligus bekal untuk meneguk ilmu. Satu mahasiswa biasanya punya rak buku untuk meletakkan kitab-kitabnya untuk dua orang, bahkan ada yang untuk satu orang saja.

Nggak bisa diam di rumah

Kitab-kitab yang sudah dibeli sepatutnya tidak didiamkan menjadi pajangan saja hingga menjadi sarang kecoa. Tentu saja dibaca dong, dan dipelajari. Bagaimana caranya? Pergi ke majelis ilmu—selanjutnya disebut talaqqi—dan mengaji langsung dengan seorang syekh yang mengampu sebuah kitab yang harus dipelajari di bawah bimbingan seorang guru agar tidak melenceng. Syekh yang ada di Mesir ini bukan ustadz-ustadz biasa yang nongol karena viral saja. Seorang syekh pengampu talaqqi biasanya sudah menyelesaikan hafalan Qurannya sejak usia dini, belajar kepada banyak guru, mengulang-ulang apa yang telah dipelajari hingga siap untuk menyebarkan ilmunya.

Kalau sudah niat jadi ulama, seorang masisir tidak mencukupkan diri dengan kuliah di kampus. Bakalan bolak-balik majelis ilmu, bahkan hingga pulang ke rumah setelah Isya. Rumah hanya menjadi tempat persinggahan untuk istirahat dan makan. Terus, buang airnya di mana? Masjid banyak kok di sini.

Selain keliling talaqqi, ada juga yang sibuk organisasi. Mahasiswa kura-kura lah. Entah memang niatnya kepengen jadi politikus atau nyari relasi, yang jelas masisir macam ini sering mondar-mandir ketika ada seminar atau acara, jadi panitia soalnya. Kalau sukses, yang biasa mondar-mandir ini ke depannya bisa menduduki kursi Presiden PPMI. Kalau nggak, minimal banyak sertifikat lah.

Nggak punya banyak waktu kosong

Karena kegiatan yang bertumpuk dari pagi hingga malam, waktu kosong hanya sedikit. Buka hape bisa dihitung hanya sekitar satu jam saja. Sisanya, digunakan untuk waktu produktif. Ada yang setelah pergi talaqqi, pulangnya langsung mengulang kembali dars (pelajaran) yang di dapat selama talaqqi. Ada yang langsung ditulis, dan ada juga yang hanya disimpan sendiri.

Saya nggak tahu apa di hpnya ada game moba atau PUBG, yang jelas tulisan di media sosial mereka berbobot. Nggak receh kayak tulisan-tulisan yang saya buat. Apalagi kalau sudah berada di jenjang S2, saya nggak yakin kalau hape beliau-beliau dipakai buat nge-yutub konten-konten tak berfaedah.

Nggak biasa mengerjakan maksiat

“Hah, maksiat!? Astaghfirullah, ya akhi, antum jauh-jauh menuntut ilmu kok masih bisa maksiat? Ingat orang tua antum, ingat masyarakat, ingat umat nanti, gimana nasib mereka.”

Maksiat yang ada di masisir nggak separah mahasiswa yang di Indonesia kok. Bisa dikatakan se-nakalnya masisir, mereka tetap masuk kategori saleh kalau dibandingkan dengan mahasiswa yang di Indonesia.

Contohnya, kalau ada cewe seksi lewat— biasanya warga lokal—kebanyakan pada tundukkin pandangan. Nggak ada yang sampai fokus ngeliatin. Terus juga nggak suka ngomong kotor, sukanya zikir sama salawat. Adem…

“Tapi katanya kemarin, nggak saleh-saleh amat?”

Ya iyalah. Saya merasa kalau saya nggak saleh-saleh amat kok. Soalnya ekspektasi kebanyakan orang Indonesia terhadap masisir ya jadi saleh banget, mirip ulama dah. Entah bagaimana dengan antum, iya antum yang dm Instagram saya.

Nggak melupakan orang tua, sanak kerabat, tetangga, dan masyarakat sekampung

Teman saya, hampir setiap sore terlihat sedang menelepon keluarganya. Entah itu orang tuanya, pamannya, teman-temannya, semuanya ditelepon. Saya bertanya apa alasannya menghubungi orang-orang yang jauh di sana hampir setiap waktu.

“Keluarga saya termasuk orang awam. Saya sebagai pelajar tentu berkewajiban untuk selalu mendakwahi mereka. Kan, dakwah itu dimulai kepada keluarga dekat terlebih dahulu,” begitu jawabnya.

Masisir macam teman saya ini mempunyai rasa tanggung jawab yang besar. Dia paham kalau keberangkatannya ke negeri orang bukan untuk main-main. Karena ketika pulang nanti, tugasnya bukan lagi belajar, melainkan mengajar. Tidak ada lagi sisa waktu yang cukup untuk belajar.

Sudah saatnya masyarakat kita mengenal diaspora Indonesia yang berada di negeri yang jauh-jauh. Pengalaman unik tentunya banyak dan bisa menjadi bahan cerita nanti.

BACA JUGA Mengenal Hacker Turki yang Sering Bikin Repot Artis Indonesia dan tulisan Rifqi Luthfianur lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 Juli 2020 oleh

Tags: diasporaMahasiswamesir
Rifqi Luthfianur

Rifqi Luthfianur

ArtikelTerkait

Kerugian yang Bakal Diderita Mahasiswa kalau Program KKN Ditiadakan terminal mojok.co presma ketua BEM UGM organisasi mahasiswa

KKN Itu Momen Belajar Jadi Warga, Bukan Ajang Sok-sokan Mengubah Sistem Desa

29 Juli 2023
Jasa Titip dan Antar Jemput Jadi Profesi Dadakan Mahasiswa UNNES yang Kepepet Butuh Duit

Jasa Titip dan Antar Jemput Jadi Profesi Dadakan Mahasiswa UNNES yang Kepepet Butuh Duit

17 April 2024
Ngumpulin Sumbangan Bencana Alam kok Ngedarin Kardus di Lampu Merah. Kreatif, dong! terminal mojok.co

Gelar Aktivis Bukan Buat Gaya-Gayaan

12 Mei 2019
6 Jas Almamater Kampus Paling Keren di Indonesia

6 Jas Almamater Kampus Paling Keren di Indonesia

29 Juli 2024
Checklist Mahasiswa Semester Akhir: Siapkan Semua Berkas Ini Kalau Mau Lulus

5 Sifat Mahasiswa Semester Akhir yang Menjengkelkan, Segera Intropeksi Diri Jika Tidak Ingin Dijauhi Teman

12 Mei 2026
agen perubahan

3 Sisi Positif Ngomongin Dosen yang para Mahasiswa Perlu Tahu

31 Mei 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Keloran Selatan Bantul, Ujian Terberat Pengendara Bermata Minus seperti Saya

Para Pengendara Motor di Jogja Itu Terkenal dengan Santainya, kecuali Orang Bantul Selatan

9 Juni 2026
Selempang Cum Laude untuk Wisuda: Penting, tapi Tidak Sepenting Itu biaya wisuda, malang, kampus di malang

Dulu Wisuda Milik Sarjana, Kini Dirayakan di Setiap Jenjang, dan Itu Tak Masalah, tapi Ada yang Lebih Penting

8 Juni 2026
4 Hal yang Bakal Saya Rindukan setelah Lulus dari UM Malang kkn

UM BBM: Program KKN ala UM Malang yang Punya Banyak Celah dan Penuh Masalah!

7 Juni 2026
Bukan Jakarta, Tempat Paling Cocok untuk Memulai Karier Adalah Cilegon. Ini Alasannya!

Cilegon, Kota Industri yang Nggak Kompetitif dan Terlihat Miskin

8 Juni 2026
Bekas Pasar Burung dan Hal-hal Lain yang Jarang Dibicarakan Soal Pasar Ngasem, Tempat Sarapan Paling Kalcer di Jogja Mojok.co

Bekas Pasar Burung dan Hal-hal Lain yang Jarang Dibicarakan Soal Pasar Ngasem, Tempat Sarapan Paling Kalcer di Jogja

7 Juni 2026
5 Rahasia yang Perlu Diketahui sebelum Membuka Warung Madura, Eksklusif dari Juragannya Langsung usaha warung

Punya Usaha Warung di Desa Harus Siap dengan Risiko Banyak Orang Ngutang yang Entah Kapan Dibayarnya

9 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.