Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

4 Stereotip Mahasiswa Jurusan Pertanian

Erfransdo oleh Erfransdo
2 Desember 2020
A A
4 Stereotip Mahasiswa Jurusan Pertanian Terminal Mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai mahasiswa jurusan pertanian, saya merasa sangat bersyukur. Pasalnya, saya bisa belajar sambil berinteraksi dengan berbagai ciptaan Tuhan, khususnya tanaman dan tetek bengeknya. Belajar bertani itu sangat mengasyikkan, apalagi di masa pandemi ini. Meskipun mahasiswa pertanian sering dianggap sebelah mata, sebenarnya prospek ke depan cukup menjanjikan.

Zaman sekarang sudah tidak relevan lagi kalau harus malu jadi petani. Justru dewasa ini peran petani muda sangat dibutuhkan demi meningkatkan perekonomian negara. Bahkan di masa pandemi ini, sektor pertanian memiliki peran yang sangat vital dalam keberlangsungan hidup masyarakat Indonesia. “Anak muda jangan sampai gengsi dan malu jadi petani. Jadi petani itu sungguh pekerjaan yang sangat mulia,” kata Pak Jokowi.

Saat pertama kali saya diterima sebagai mahasiswa jurusan pertanian, perasaan saya sangat senang. Apalagi saya satu-satunya orang di keluarga yang bisa kuliah di PTN. Yah meskipun tidak ada masalah mau PTN atau PTS, setidaknya ada rasa syukur yang belum pernah dirasakan orang tua saya. Pergi merantau menunaikan ibadah membuat saya lebih semangat lagi untuk pulang.

Ospek di jurusan pertanian menurut saya cukup berat, tapi juga menyenangkan. Setiap calon mahasiswa baru (maba) harus datang di fakultas tepat jam 5 pagi. Semua maba diwajibkan mengenakan kemeja kotak-kotak dengan lengan tidak digulung, baju dimasukkan, pakai celana kain hitam, dan tas serta baju diberi name tag berwarna hijau. Tas kami diisi cukup banyak barang bawaan mulai dari makanan, botol minum 1,5 liter, peralatan tulis, dan barang-barang lainnya.

Konon, peraturan memakai kemeja itu sudah turun-temurun sejak angkatan pertama. Dulu, katanya, para petani selalu mengenakan kemeja kotak-kotak dan topi koboi kalau pergi ke sawah. Pakaian ini juga sering dipakai oleh para peternak zaman dulu. Makanya ospek antara mahasiswa jurusan pertanian dengan mahasiswa jurusan peternakan hampir mirip, terutama dalam hal berpakaian. Hanya saja mahasiswa jurusan pertanian tidak memakai topi koboi seperti penggembala, beda dengan jurusan peternakan.

Yang paling malesin itu kami harus pakai atribut ospek sampai satu semester karena ada kontrak yang ditandatangani oleh ketua angkatan. Tapi satu semester itu melatih kedisiplinan, kekompakan angkatan, kebersamaan, dan juga keberanian kami. Di kampus saya, mahasiswa jurusan pertanian dikenal senagai mahasiswa yang kompak. Terlebih program studi di fakultas kami hanya ada dua dan bertambah satu tahun kemarin. Sehingga kami bisa lebih dekat satu sama lain.

Mungkin seperti itu gambaran kecil sebelum kami resmi menjadi mahasiswa jurusan pertanian. Banyak sekali pelajaran yang saya dan teman-teman dapatkan selama masa ospek. Pergi ke lahan sudah bukan hal yang baru bagi kami semenjak ospek.

Selama jadi mahasiswa jurusan pertanian, cukup banyak teman-teman dari fakultas lain yang memberi “label” kepada saya. Setidaknya ada beberapa hal yang jadi stereotip mahasiswa jurusan pertanian, khususnya di kampus saya.

Baca Juga:

Jurusan Ekonomi Pembangunan Menyadarkan Saya kalau Kemiskinan Itu Bukan Sekadar Orang yang Tidak Punya Uang

Begini Rasanya Dapat Dosen Pembimbing Skripsi Seorang Dekan Fakultas, Semuanya Jadi Lebih Lancar

#1 Kotor

Yaaa, hal pertama yang jadi stereotip mahasiswa jurusan pertanian adalah mahasiswanya kotor. Maksud kotor di sini bukan kotor pikirannya atau hal lain yang benilai negatif. Bukan. Maksud kotor di sini karena kami sering ke lahan, ke sawah, dan sudah berteman baik dengan tanah, makanya kami sering dilabeli sebagai mahasiswa yang kotor.

Mahasiswa jurusan lain kalau selesai praktikum pasti masih bersih pakai jas lab, paling cuma jas labnya saja yang kotor ketumpahan bahan kimia. Beda dengan mahasiswa jurusan pertanian, sehabis praktikum pasti bercucuran keringat, muka mendadak hitam, dan sepatu kotor karena menginjak tanah. Apalagi kalau cuaca sedang panas, rasanya tersiksa sekali jika harus praktikum di lahan. Tidak jarang kami membawa topi dan sepatu khusus jika praktikum di lahan.

#2 Anak desa

Mungkin kalau zaman dulu masih wajar jika kebanyakan mahasiswa jurusan pertanian adalah anak desa atau anak dari kampung yang orang tuanya berprofesi sebagai petani. Mereka biasanya dikirim ke kota untuk mempelajari ilmu-ilmu pertanian secara mendalam. Tapi anggapan itu sudah tidak relevan lagi di zaman sekarang ini.

Faktanya, sebagian besar mahasiswa jurusan pertanian di kampus saya justru datang dari kota-kota besar. Bahkan tak jarang beberapa di antaranya adalah selebgram. Mahasiswa yang benar-benar datang dari desa untuk meneruskan pertanian orang tuanya bisa dihitung dengan jari. Kini, ilmu pertanian memang banyak diminati oleh kaum-kaum muda yang ingin membangun daerahnya masing-masing.

#3 Jago bercocok tanam

Hal selanjutnya yang lekat dengan mahasiswa jurusan pertanian adalah jago bercocok tanam. Ya nggak salah sih anggapannya. Namanya juga anak pertanian, pasti bisa dong kalau menanam. Tapi sebenarnya anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Kalau masih semester awal kami kan masih dalam tahap belajar.

Untuk urusan bercocok tanam yang sederhana seperti menanam sawi di lahan kecil mungkin masih bisa. Tapi kalau skalanya besar tentu kami masih perlu belajar. Kecuali memang ada beberapa mahasiswa yang sudah berkecimpung di dunia bisnis pertanian sebelum kuliah. Yang kami pelajari di kampus bukan hanya tentang tanaman, masih banyak materi lainnya.

#4 Lulusnya jadi petani

Namanya juga mahasiswa jurusan pertanian, lulusnya jadi petani dong. Benar nggak? Jawabannya bisa benar, bisa juga tidak. Dunia pertanian di perguruan tinggi tidak sesederhana lulus lantas jadi petani nyangkul di sawah. “Kalau begitu sih semua orang juga bisa, ” kata teman saya yang jurusan nonpertanian. Maksud jadi petani di sini adalah petani yang sudah profesional. Petani berdasi, kalau bahasa kerennya mah.

Nah, mungkin itu saja beberapa stereotip mahasiswa jurusan pertanian. Menjadi mahasiswa pertanian membuat saya lebih peka terhadap lingkungan. Terbukti kaaan, tanaman aja kami sayang dan pehatikan, apalagi kamu. Awowokwok.

BACA JUGA 5 Tipe Mahasiswa Saat Danusan Buat Kepanitiaan Kampus dan tulisan Erfransdo lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 2 Desember 2020 oleh

Tags: Mahasiswamahasiswa barustereotip mahasiswa
Erfransdo

Erfransdo

Lulusan pertanian yang terjun ke dunia media. Peduli isu-isu budaya dan lingkungan. Gemar baca buku dan nonton bola.

ArtikelTerkait

Derita Saya Menjadi Mahasiswa Jurusan Pertanian di Universitas Negeri

Derita Saya Menjadi Mahasiswa Jurusan Pertanian di Universitas Negeri

5 September 2023
Seragam KKN Itu Nggak Ada Faedahnya, Sumpah!

Nggak Usah Terlalu Teoretis, Begini Cara Sederhana Menemukan Masalah Warga Desa agar Proker KKN Nggak Itu-itu Aja

31 Juli 2023
Pengalaman Saya Menjadi Marbot Masjid demi Menghemat Biaya Kos yang Semakin Mahal di Kota Malang

Pengalaman Saya Menjadi Marbot Masjid demi Menghemat Biaya Kos yang Semakin Mahal di Kota Malang

15 Agustus 2024
jawaban pertanyaan yang sering ditujukan untuk mahasiswa pertanian mojok

Teruntuk Mahasiswa Pertanian, Berikut Jawaban yang Ampuh Jika Jurusanmu Diremehkan

1 Agustus 2021
Catatan Keresahan Mahasiswa Jogja yang Nggak Punya Motor di Jogja: Boros, Susah ke Mana-mana, Sulit Cari Kerja!

Mimpi Buruk bagi Mahasiswa yang Kuliah di Jogja Adalah Tidak Punya Sepeda Motor. Pasti Boros dan Sangat Merepotkan

5 Mei 2025
Tidak Ada yang Namanya Liburan untuk Anak Persma

Tidak Ada yang Namanya Liburan untuk Anak Persma

7 Maret 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tiga Tradisi Madura yang Melibakan Sapi Selain Kèrabhan Sapè yang Harus Kalian Tahu, Biar Obrolan Nggak Itu-Itu Aja

3 Tradisi Madura yang Melibatkan Sapi selain Kèrabhan Sapè yang Harus Kalian Tahu, biar Obrolan Nggak Itu-itu Aja

6 Januari 2026
Honda Civic Genio: Tampan, Nyaman, Harga 30 Jutaan, tapi Menuntut Kesabaran Mojok.co

Honda Civic Genio: Tampan, Nyaman, Harga 30 Jutaan, tapi Menuntut Kesabaran

6 Januari 2026
Omong Kosong Rumah di Desa dengan Halaman Luas Pasti Enak (Unsplash)

Punya Rumah di Desa dengan Halaman Luas Itu Malah Menjadi Sumber Keresahan, Hidup Jadi Nggak Tenang

8 Januari 2026
Daihatsu Ceria, Mobil Mungil yang Bikin Pengemudinya Benar-benar Ceria  Mojok.co

Daihatsu Ceria, Mobil Mungil yang Bikin Pengemudinya Benar-benar Ceria 

8 Januari 2026
Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Malang, sebab Selalu Dilatih dengan Menghindari Jalanan Berlubang!

Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Malang, sebab Selalu Dilatih dengan Menghindari Jalanan Berlubang!

11 Januari 2026
5 Hal yang Bisa Dibanggakan Kota Bandung meski Tata Kelolanya Buruk dan Transportasi Umumnya Tidak Layak

5 Hal yang Bisa Dibanggakan dari Kota Bandung meski Tata Kelolanya Buruk dan Transportasi Umumnya Tidak Layak

6 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata
  • Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan
  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19
  • Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah
  • Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja
  • Mengajari Siswa Down Syndrome Cara Marah, karena Dunia Tidak Selalu Ramah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.