Bicara Surabaya, bukan cuma perkara aspalnya yang mampu menggoreng telur di siang bolong. Namun, ada juga soal level kuliner khas Surabaya yang kali lebih pas buat acara uji nyali.
Awalnya, saya percaya kalau bumbu medok dan rasa yang kaya adalah jaminan mutu penganan di Kota Pahlawan. Namun, setelah pernah menetap di sana selama satu semester, saya sadar bahwa petualangan menjajal kuliner khas Surabaya nggak jodoh buat orang bermental tempe.
Percayalah, lidah manja macam saya yang lama terbuai oleh makanan Semarang dan Jogja, nggak cocok dengan kuliner khas Surabaya. Urusannya nggak sebatas soal pedas yang mengalahkan omongan tetangga. Bahkan, nama dan visualnya saja sempat bikin saya mundur teratur.
Sejauh yang saya ingat, ada empat kuliner khas Surabaya yang red flag dan sukses bikin agenda wisata kuliner saya jadi simulasi siksa neraka.
Baca juga: Lontong Kupang Makanan Jawa Timur Paling Red, tapi Anehnya Banyak yang Suka
#1 Lontong kupang, pengalaman tak terlupakan menelan pasukan kerang mini
Membayangkan ratusan kerang sekecil kuku kelingking yang berenang dalam kuah petis asam manis mungkin terdengar eksotis. Namun, bagi yang nggak familier, berhadapan dengan kuliner khas Surabaya ini sama artinya dengan deklarasi perang. Pasalnya, penjual yang kurang ahli dalam membersihkan kupang akan berakhir pada suguhan karya yang cacat.
Pertama, munculnya sensasi kriuk di antara gigi yang kurang nyaman lantaran pasir yang masih tersisa. Kedua, kerang punya reputasi buruk buat memicu alergi. Belum lagi, seporsi lontong kupang tampak seperti ramuan aneh yang memadukan bau amis laut dan aroma petis yang menusuk hidung. Mungkin saja, teror kuliner ini terjadi karena saat itu saya nggak menyediakan segelas es kelapa muda sebagai obat penawar.
#2 Nasi cumi hitam, kuliner khas Surabaya yang mampu mengubah senyum manis jadi mirip adegan horor
Nasi cumi hitam adalah definisi nikmat yang membawa sengsara. Khususnya, buat urusan penampilan.
Memang betul, banjir tinta hitam yang menghiasi sepiring hidangan ini adalah kunci kegurihan yang paripurna dari kuliner khas Surabaya ini. Sayangnya, tinta hitam tadi juga jadi pewarna alami yang menempel di bibir dan gigi.
Kalau kelepasan bicara di tengah aktivitas makan, otomatis, senyum akan berubah mirip adegan hantu nyengir di film horor. Masalahnya, ini bukan satu-satunya penanda red flag nasi cumi. Yang lebih parah adalah eksistensi rasa pahit atau getir yang tertinggal di daging cumi.
Umumnya, trauma lidah tersebut diakibatkan oleh daging cumi yang nggak segar. Atau, bisa jadi karena kantong tinta yang pecah dengan cara yang salah saat pembersihan.
#3 Kikil sapi, perburuan kolagen dari seporsi kuliner khas Surabaya yang berujung penumpukan lemak
Mengklaim makan kikil sebagai pencarian kolagen alami demi kecantikan adalah bentuk penyangkalan diri saya yang luar biasa. Di Surabaya, kikil sapi hadir dengan ukuran yang berani dan kuah dengan minyak yang seolah baru saja disedot langsung dari kilang. Jujur, teksturnya memang kenyal dan menggoda.
Sedihnya, di balik kenikmatan yang hakiki dari kuliner khas Surabaya ini, terselip timbunan lemak yang siap menyumbat pembuluh darah dalam satu kali suapan. Bagi saya yang sudah melewati usia kepala dua saat itu, makan kikil berpotongan besar dan berselimut minyak rasanya seperti sedang menandatangani surat perjanjian dengan dokter spesialis jantung.
Baca juga: Rujak Cingur, Makanan Aneh Surabaya yang Paling Nggak Disarankan untuk Pendatang
#4 Rujak cingur, tantangan mengunyah moncong sapi yang bikin bulu kuduk berdiri
Rujak cingur adalah juara mimpi buruk paling nyata bagi saya. Untuk bumbu petis pekat, masih bisa saya terima. Namun, saat sudah harus menggigit bintang utama santapan ini, nyali saya tiba-tiba menciut. Mengetahui arti cingur sebagai moncong sapi saja sudah bikin saya ngeri.
Apalagi, ada sensasi ajaib saat mengunyah bagian wajah mamalia besar yang kenyal-kenyal itu. Sudah begitu, rasa kenyal bin alot ini bikin saya butuh waktu lebih lama untuk menelan ketimbang menit yang dihabiskan untuk memesannya.
Namun, karena ogah rugi sudah jauh-jauh ke Surabaya dan takut kehilangan momen, akhirnya saya nekat juga mencicipi kuliner ekstrem tersebut.
Segala red flag kuliner yang bertebaran di sepanjang jalanan Surabaya hanyalah bentuk ujian bagi siapa saja yang mengaku pecinta kuliner sejati. Ingat, Surabaya bukan tempat bagi mereka yang terlalu terobsesi dengan pola makan sehat.
Sebaliknya, ibu kota Jawa Timur ini jadi titik balik logika kesehatan yang harus mengaku tunduk pada pengalaman rasa. Meski, sebagian kuliner khas Surabaya terkesan ganjil dan berbahaya, mereka senantiasa menyisipkan kejujuran yang mungkin nggak ditemukan di kota-kota lainnya.
Penulis: Paula Gianita
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















