Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

4 Jenis Ujian Kesabaran untuk Pasutri yang Memutuskan Tinggal Beda Rumah dengan Orang Tua

Fatma Ariana oleh Fatma Ariana
8 November 2022
A A
4 Jenis Ujian Kesabaran untuk Pasutri yang Memutuskan Tinggal Beda Rumah dengan Orang Tua (Pixabay)

4 Jenis Ujian Kesabaran untuk Pasutri yang Memutuskan Tinggal Beda Rumah dengan Orang Tua (Pixabay)

Share on FacebookShare on Twitter

Nasihat orang tua bahwa sebaiknya anak tinggal tidak serumah setelah jadi pasutri punya dua tujuan. Pertama, supaya anak dan istrinya mandiri. Kedua, untuk belajar soal kesabaran.

Urusan tinggal di mana setelah menikah itu tak cuma berdasarkan pilihan dan kata hati si anak, tapi juga urusan takdir. Contohnya, di film di “Ngeri-Ngeri Sedap”. Karena tradisi, Bapak dan Ibu Domu sangat berharap Sahat yang akan menemani masa tua mereka. Namun, pada akhirnya, Sarma yang harus menanggung tugas tersebut.

ADVERTISEMENT

Sebagai pasutri, ketika memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tua, saat itulah benar-benar terasa hidup yang benar-benar baru. Suasana baru dan orang-orang baru. Belajar mulai dari nol tentang kehidupan berumah tangga dan bertetangga. 

Banyak hal tidak menyenangkan yang mungkin akan dihadapi pasutri saat memutuskan tinggal beda rumah dengan orang tua. Misalnya empat hal ini.

#1 Tetangga yang yaa… gitu deh.

Hidup bertetangga dalam posisi sebagai pasutri dan pendatang baru tentu sangat berbeda dibanding dengan posisi sebagai warga asli. Apalagi yang dari kecil sudah sangat mengenal situasi dan orang-orang di sekitar.

Dulu, semasa masih menjadi kontraktor, alias masih mengontrak rumah, tetangga-tetangga kami kebanyakan adalah kaum pensiunan. Mbah-mbah istilah saya, karena usianya setara bahkan lebih sepuh dari almarhum bapak dan ibu saya.

Untuk tetangga model orang-orang sepuh begini, ujian kesabarannya adalah soal mendengar dan mengalah. Umumnya orang tua, mereka akan dengan mudah mengobral nasihat, cerita masa lalu, dan kadang sedikit memaksakan kehendak untuk soal-soal yang menjadi hajat hidup pasutri dan orang banyak.

Siasat untuk menghadapi adalah mendengar. Ambil nasihat yang baik dan buang yang buruk, lalu mengalah dengan pertimbangan kami ini cuma pendatang dan bukan penghuni tetap jadi tak perlu ngotot mempertahankan pendapat untuk soal-soal yang tak prinsip. Strategi mendengar dan mengalah ini sepertinya cocok untuk segala jenis tetangga yang menyebalkan.

Baca Juga:

Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Itu Jahat dan Nirempati

Di Balik Cap Manja, Anak Bungsu Sebenarnya Dilema antara Kejar Cita-cita atau Jaga Ortu karena Kakak-kakak Sudah Berumah Tangga 

#2 Rumah kontrakan (beserta pemiliknya) yang nggak banget.

Tak cuma tetangga, soal rumah kontrakan juga bisa menjadi ladang amal kesabaran bagi pasutri. Kontrakan yang sedikit-sedikit bocor, sehingga ketika hujan ruang tamu menjadi semacam kolam buatan adalah salah satu mata ujiannya. 

Belum kalau yang punya kontrakan orangnya agak sulit diajak kerja sama. Berkali-kali dilapori kerusakan tapi pura-pura tak tahu, membuat si kontraktor bingung hendak berbuat apa. Mau memperbaiki sendiri tapi tak ikut punya hak milik, kalau tidak diperbaiki kerusakannya mulai mengganggu ketentraman dan keamanan penghuni rumah. Serba salah pokoknya.

#3 Perjuangan menemukan jodoh rumah

Setelah lima tahun mengontrak sebagai pasutri, di tahun terakhir kami mulai menetapkan target untuk memiliki rumah sendiri. Targetnya rumah di desa, bukan KPR, bentuknya bisa berupa tanah, syukur-syukur kalau sudah ada rumahnya.

Mau di desa atau KPR, itu pilihan pribadi. Setiap orang pasti punya alasan tersendiri. Untuk saya yang lahir dan besar di sebuah gang di tengah kota dan sudah bosan dengan segala bentuk keramaian di alun-alun, memiliki rumah dengan banyak pohon buah dan halaman tempat anak-anak bisa bermain dengan bebas adalah impian yang saya yakin akan terwujud dengan tinggal di desa.

Mulailah ujian kesabaran menemukan jodoh rumah. Dibilang jodoh karena proses menemukannya mirip menemukan jodoh. Rumitnya sama.

Saya rajin menitipkan pesan pada teman-teman kantor bahwa saya sedang mencari tanah atau rumah. Berkali-kali ditawari, melihat langsung ke lokasi, dan bertemu si empunya untuk nego harga, berkali-kali pula gagal. Sebabnya kebanyakan karena satu, nego harga gagal dan dua, ibu mertua saya tidak sreg.

Alasan kedua sepertinya agak ganjil ya? Tapi itulah yang terjadi. Meskipun saya dan suami sudah oke, harga bisa dinego, tapi bila ibu mertua saya bilang tidak, maka gagal pula transaksi jual beli.

Oke, mungkin ini sekilas terlihat seperti semacam salah satu bentuk kediktatoran ibu mertua terhadap anak mantunya seperti yang sering kita lihat di sinetron-sinetron. Tapi, ketika kamu paham bahwa anak laki-laki selamanya adalah milik ibunya dan karenanya harus patuh padanya, dan ini adalah aturan agama, maka soal semacam ini adalah hal biasa yang tak perlu dipermasalahkan. Dan saya harus mengakui jika insting ibu mertua saya soal pembelian tanah dan bangunan jauh lebih tajam dan terasah daripada kami berdua.

#4 Tukang Bangunan yang semaunya sendiri

Setelah susah payah menemukan jodoh rumah, mulailah ujian baru baru pasutri dalam wujud tukang bangunan. Jadi, ternyata ada jenis tukang bangunan yang semaunya sendiri. Diarahkan begini, dia mengerjakannya begitu, dan karena lokasi rumah itu lumayan jauh dengan kontrakan, kami tak bisa memantau pembangunannya setiap hari. 

Akibatnya, beberapa lokasi harus dibongkar ulang bahkan ada satu lokasi yang sampai tiga kali harus dibongkar karena hasil pekerjaannya jelek banget. Tak cuma rugi biaya, tapi juga waktu dan emosi.

#5 Reality bites yang ternyata sakit.

Saya pribadi menganggap masa membangun rumah adalah masa tirakat. Ketika mulai membangun rumah, mau tak mau kebiasaan membeli barang-barang tak penting harus direm karena alokasi anggaran praktis dialihkan menjadi semen, pasir, batu bata, dan kawan-kawannya.

Sekadar memasukkan barang incaran ke keranjang Shopee tanpa dilanjut dengan check out apalagi diakhiri dengan pembayaran sudah cukup menghibur. Anggaran lain diperketat. Jadwal piknik cukup ke taman terdekat dan alun-alun yang tak perlu keluar biaya banyak. Agenda makan di luar paling banter menunya mie dan nasi goreng.

Sampai di sini sepertinya sudah selesai ya. Rumah idaman sudah bisa ditempati setelah serangkaian ujian kesabaran. Salah satu bonus terbesar dari rumah itu adalah saya sekaligus mendapat asisten rumah tangga yang rumahnya pas di depan rumah saya. Sebuah kemewahan hakiki untuk ibu bekerja yang punya anak kecil. 

Hilang sudah kekhawatiran ART mendadak tidak datang dan menghilang tanpa kabar. Terima kasih pada almarhum ibu mertua. Insting beliau belum pernah salah sejauh ini. Kisah pasutri seperti ini bisa diakhiri dengan kalimat “And they happily lived ever after.”

Eh, tapi sebentar. Tunggu dulu. Tak ada yang sempurna di kolong langit. Seminggu kami menempati rumah itu, tiba-tiba datang tetangga baru, memperkenalkan diri sekaligus berutang sejumlah uang. Wow banget ya rasanya. 

Tapi tetap tenang. Hirup nafas dalam-dalam dan embuskan. Apapun bentuknya, setiap ujian kesabaran harus disyukuri dan dinikmati. Perjalanan masih panjang, Mase dan Mbake. Season baru dalam drama kehidupan baru saja dimulai. Tetap semangat yaa!!!

Penulis: Fatma Ariana

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Trik Bermanuver kalau Tiba-tiba Ada Sidak Mertua

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 8 November 2022 oleh

Tags: mertuaOrang Tuapasutri
Fatma Ariana

Fatma Ariana

Seorang ibu yang senang bercerita lewat tulisan.

ArtikelTerkait

menjadi bapak

Menjadi Bapak

21 Mei 2019
baca buku orang tua anak minat baca mojok

Bertobatlah wahai Orang Tua yang Tidak Suka Baca Buku tapi Menuntut Anaknya Suka Baca

14 Oktober 2020
Ada Apa dengan Anak SD Zaman Sekarang?

Ada Apa dengan Anak SD Zaman Sekarang?

17 Desember 2019
Sudah Selayaknya The Return of Superman Menjadi Referensi Tontonan Orang Tua yang Sedang dan Akan Mendidik Anaknya

The Return of Superman, Tontonan Terbaik bagi para Orang Tua dalam Mendidik Anak

10 Juli 2023
Ilmu Parenting Hanya untuk Orang Kaya? Ngawur! anwar zahid

Ilmu Parenting Bukan Ajang untuk Menyalahkan Orang Tua, tetapi untuk Bekal Menjadi Orang Tua yang Baik!

23 Juli 2023
5 Pasutri yang Terjebak dalam Drama Korea yang Salah Terminal Mojok

5 Pasutri yang Terjebak dalam Drama Korea yang Salah

25 September 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kandang Ayam Datang Belakangan, Rusak Kenyamanan (Unsplash)

Rumah Saya Perlahan Kehilangan Rasa Nyaman Akibat Kandang Ayam yang Datang Belakangan

21 Juni 2026
Konsep Gramedia Jalma Semarang Menarik, tapi Jujur Agak Sedih ketika Tempat Favorit Saya Berubah Wajah Mojok.co

Konsep Gramedia Jalma Semarang Menarik, tapi Jujur Agak Sedih ketika Tempat Favorit Saya Berubah Wajah

26 Juni 2026
Palembang Bikin Pangling, Banyak Berubah padahal Baru Ditinggal Merantau Setahun Mojok.co sumatera selatan

Kalau Orang Sumatera Selatan Terus-terusan Ngaku dari Kota Palembang, Daerah Lain Kapan Dikenalnya?

21 Juni 2026
TransJatim Dibenci, tapi Ia Penyelamat Mahasiswa Surabaya (Wikimedia Commons)

Ugal-ugalan Sopir TransJatim Menyelamatkan Masa Depan Mahasiswa Mojokerto yang Kuliah di Surabaya

22 Juni 2026
Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi itu hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi Itu Hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

24 Juni 2026
Dosa Indomie Ayam Bawang: Nggak Ada Bawang Goreng sebagai Pelengkap

Orang yang Bilang Indomie Warkop Lebih Enak Itu Aneh, Beneran

22 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.