4 Hal yang Patut Anda Cantumkan dalam Resolusi Tahunan

Ada banyak kota di dunia ini. Anda bisa memasukkan sejumlah nama kota untuk dikunjungi dalam resolusi tahunan Anda.

Featured

Erwin Setia

Saya tidak pernah membikin resolusi. Tapi, berhubung saya banyak melihat orang-orang menyusun resolusi tahun demi tahun, saya terpancing melakukan sesuatu. Sesuatu yang selintas akan membuat saya terlihat seperti Mario Teguh atau Merry Riana atau seorang tokoh dalam novelnya Paulo Coelho. Saya hendak memberikan sejumlah saran mengenai penyusunan resolusi.

Saya tidak tahu apakah saran-saran saya ini bakal berguna atau tidak. Namun, itu bukan soal. Tugas saya hanya menuliskannya saja. Perkara bakal pembaca praktikkan atau tidak, tentu itu di luar kuasa saya. Oke, berikut daftarnya:

Satu: Buku yang Hendak Dibaca

Saya tidak tahu apa hal yang lebih menyenangkan dan lebih baik ketimbang membaca buku. Makan pizza di restoran temaram bersama orang tercinta tentu menyenangkan, tetapi kesenangan yang bisa didapat dari membaca buku adalah kesenangan yang khas. Suatu kenikmatan dan kebahagiaan yang sulit dipaparkan dengan kata-kata tertentu.

Saya tidak peduli apakah Anda suka membaca atau tidak. Saya tetap bakal meneruskan saran nomor satu ini. Mula-mula soal jumlah. Dalam setahun ada kurang lebih 50 minggu atau 12 bulan. Dengan waktu sepanjang itu, saya kira seseorang—siapapun dia, asalkan tidak buta huruf—semestinya bisa membaca paling tidak 30 buku dalam setahun. Anda tahu, Bill Gates dan Mark Zuckerberg yang kekayaannya tumpah ruah dan sibuk bukan main itu, mereka tetap menyempatkan membaca banyak buku. Jadi, kenapa kita tidak?

Mengenai judul buku, tentu ada banyak sekali buku-buku bagus yang perlu dibaca. Saya belum membaca banyak buku. Namun, kalaulah harus memberi semacam rekomendasi, saya kira buku-buku karya Yuval Noah Harari, Yusi Avianto Pareanom, Eka Kurniawan, Arthur Schopenhauer, dan Puthut EA adalah buku-buku yang sepatutnya dimasukkan dalam daftar teratas karya yang perlu segera dibaca.

Baca Juga:  Kepada Sony Pictures, Spider-Man Sudah Tak Membutuhkanmu Lagi Meski Pernah Jalan Bersama

Dua: Film yang Hendak Ditonton

Menonton sinetron semacam Tukang Ojek Pengkolan atau Dunia Terbalik sebetulnya bukanlah hal buruk. Jika Anda terbiasa menonton sinetron-sinetron sejenis itu, bukanlah sebuah dosa apabila mempertahankannya. Namun, sebagaimana bacaan, memilih tontonan yang tepat dan bagus adalah sebentuk rasa syukur kita kepada Tuhan atas nikmat melihat dan berbahasa yang Dia karuniakan.

Konon, situs streaming film bajakan terkenal di Indonesia bakal dibekukan. Tapi Anda tak perlu cemas. Dari apa-apa yang sudah terjadi, kita tahu bahwa segalanya seperti apa yang katakan Banda Neira, “yang patah tumbuh, yang hilang berganti”. Jadi, kalem saja. Anda tetap bisa menonton dan menyusun film-film yang akan Anda tonton tahun depan. Tontonlah setidaknya 50-100 film. Ada 3 film yang layak Anda tonton di tahun depan (jika Anda belum menontonnya): Parasite (2019), Psycho (1960), dan Pan’s Labyrinth (2006). Itu film-film yang populer. Adapun kenapa semuanya berawalan ‘p’, tentu saja itu sebagai alternatif bagi Anda bila seorang teman tiba-tiba ngirim pesan ‘p’. Anda teruskan saja pesan itu dengan judul-judul film tersebut, lalu bilang, “Maksud kamu Parasite, Psycho, atau Pan’s Labyrinth”.

Tiga: Kota yang Hendak Dituju

Ada banyak kota di dunia ini. Anda bisa memasukkan sejumlah nama kota untuk dikunjungi dalam resolusi tahunan Anda. Percayalah, perjalanan itu sesuatu yang penting. Perjalanan bakal memperluas yang sempit dan mencerahkan yang gelap. Terdengar berlebihan, sih. Tapi begitulah adanya. Kadang, Anda bisa melihat kualitas seseorang dari sebanyak apa kota yang pernah dia kunjungi. Kecuali pengusaha bengis dan pejabat korup yang doyan jalan-jalan. Mereka tak masuk hitungan.

Tidak perlu memasukkan kota-kota yang jauh. Mulailah perjalanan dari yang dekat-dekat. Jika Anda mukim di Jakarta, pergilah ke Karawang. Jika Anda mukim di Banjarmasin, pergilah ke Samarinda. Jika Anda mukim di Makassar, pergilah ke Manado. Sila susun daftar kota impian Anda sendiri.

Baca Juga:  Fenomena Pembajakan Film di Indonesia

Empat: Penemuan-Penemuan dan Karya-Karya

Manusia adalah makhluk, secara etimologi berarti “yang diciptakan”. Namun, tidak seperti pohon sawo, trenggiling, ataupun batu kali, manusia punya pikiran dan daya untuk mencipta; menemukan. Manusia bisa berkarya. Manusia bisa menulis, melukis, menenun, dan sebagainya.

Saya kira penting untuk menulis penemuan atau karya apa yang akan Anda hasilkan di tahun depan. Mungkin sebuah novel atau sebingkai lukisan abstrak atau sebuah foto pemandangan atau sehelai tenunan. Apa pun. Untuk menemukan atau menghasilkan karya tertentu tidak harus seperti Thomas Alva Edison atau Leonardo Da Vinci. Temuan-temuan atau karya-karya kecil dan sederhana pun tetap merupakan sebuah penemuan dan karya.

Demikianlah. Barangkali 4 saran di atas bisa sedikit memberi arahan atau gambaran tentang resolusi yang ingin Anda capai di tahun depan. Semoga bermanfaat. Kalaupun tidak bermanfaat, ya nggak apa-apa juga, sih.

BACA JUGA Resolusi Tahun Baru Anti-mainstream dan Anti Gagal Ala Mojok atau tulisan Erwin Setia lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
6


Komentar

Comments are closed.