Angkot menjadi salah satu moda transportasi umum yang lazim ditemui saat berada di Jakarta. Meskipun zaman sudah semakin maju serta moda transportasi umum semakin berkembang, angkot tetap eksis di Jakarta selama puluhan tahun.
Saya pribadi sudah belasan tahun menjadi pengguna angkot Jakarta. Saya setia menjadi pengguna angkot lantaran belum memiliki kendaraan pribadi hingga sekarang. Di samping itu, saya setia menjadi pengguna angkot lantaran tak mau direpotkan dalam mengurus segala tetek bengek kendaraan pribadi seperti pajak, perawatan berkala, dan lainnya.
Belasan tahun saya menjadi pengguna moda transportasi angkot Jakarta, ada banyak suka maupun sebal yang saya dapatkan. Nah, berikut ini sejumlah hal menyebalkan yang berkali-kali saya temui ketika naik angkot di Jakarta.
Angkot Jakarta ngetem terlalu lama
Sejatinya, perilaku ngetem ini merupakan hal yang lazim terjadi tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di daerah lain. Saya pribadi tidak masalah bila sopir angkot ngetem setidaknya hingga 30 menit. Kalau lebih dari 30 menit, tentu ini akan jadi hal yang sangat menyebalkan, terlebih jika kita punya urusan penting lainnya.
Oleh karena itu, saya pribadi sangat jarang naik angkot yang tengah dalam kondisi ngetem, kecuali bila terpaksa. Dalam hal ini, saya lebih suka naik angkot yang melintas di pinggir jalan.
Menetapkan tarif angkot seenaknya
Memang tidak semua sopir angkot bersikap seenaknya dalam menetapkan tarif atau ongkos bagi penumpang. Namun, saya pribadi sangat jarang menemukan angkot yang memasang selebaran berisi ketentuan ongkos yang telah diatur oleh Organda atau pihak berwenang lainnya. Oleh karena itu, hal ini bisa menjadi celah yang rawan untuk dieksploitasi oknum sopir yang nakal untuk menetapkan tarif sesuka hatinya.
Selama saya naik angkot Jakarta, ada kalanya saya mendapati sejumlah oknum sopir yang memberlakukan ongkos di luar ketentuan. Misalnya saja ada oknum yang menetapkan tarif yang seharusnya Rp5 ribu untuk sekali perjalanan menjadi Rp6 ribu atau lebih.
Melanggar rambu lalu lintas
Lagi, salah satu hal kurang baik yang saya temukan saat naik angkot Jakarta adalah perilaku oknum sopir yang suka melanggar peraturan lalu lintas. Dalam hal ini, ada saja oknum pengemudi yang berperilaku seenaknya di jalan seperti melewati batas zebra cross ketika lampu merah menyala sampai menerobos lampu merah itu sendiri.
Hal ini tentu sangat membahayakan bagi pengguna jalan raya lainnya. Oleh karena itu, ada baiknya bila Pemprov Jakarta bisa bertindak tegas atas pelanggaran-pelanggaran tersebut atau melakukan tindakan preventif dengan memasang CCTV di setiap lampu merah atau lainnya.
Menurunkan penumpang tidak pada tempat yang semestinya
Bila kamu nanti naik angkot di Jakarta, jangan terlalu kaget bila kamu terkadang tidak diturunkan di tempat semestinya. Dalam hal ini, beberapa oknum sopir biasanya tidak akan benar-benar meminggirkan angkot yang dikendarainya ke tepi jalan. Alhasil, penumpang mau tak mau harus turun di jalan yang terbilang “nanggung” sembari melihat adanya motor atau kendaraan lain yang mungkin melintas.
Meskipun demikian, saya pribadi tak sepenuhnya menyalahkan pengemudi angkot. Pasalnya, ketika angkot hendak minggir ke kiri jalan untuk menurunkan penumpang, ada saja oknum pengendara sepeda motor yang enggan untuk mengalah alias terus menyalip. Alhasil, opsi menurunkan penumpang di jalan yang “nanggung” mau tidak mau harus diambil.
Di luar pengalaman menyebalkan yang saya dapati, keberadaan moda transportasi angkot tetap memiliki manfaat. Salah satu manfaat keberadaan para sopir angkot ini adalah menjadi indikator kualitas sebuah SPBU.
Dalam sebuah perbincangan santai, paman saya sempat berkata bila salah satu cara untuk menilai bagus atau tidaknya suatu SPBU adalah dengan melihat keberadaan para sopir angkot di sana. Bila semakin banyak sopir angkot di sebuah SPBU, hampir dapat dipastikan bila SPBU itu terhindar dari praktik curang. Dalam hal ini, sopir angkot dinilai punya semacam insting untuk mengetahui jumlah liter bensin yang masuk dalam kendaraannya.
Sebagai pengguna setia transportasi angkot hingga sekarang, tentu besar harapan saya untuk melihat adanya pembenahan moda angkot di Jakarta. Alhasil, para penumpang angkot bisa semakin nyaman dan betah, bahkan bisa saja menarik minat masyarakat umum untuk naik kendaraan umum. Semoga.
Penulis: Muhammad Fariz Kurniawan
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 3 Sikap Aneh Sopir Angkot yang Redflag Banget dan Bisa Bikin Angkot Mereka Tambah Sepi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















