Tidak tepat waktu, budaya ngaret yang melelahkan
Skenarionya selalu seperti ini: sudah sepakat kumpul jam lima sore. Tapi jam lima lewat lima belas masih banyak yang bilang “OTW ya.” Ada yang datang tepat saat azan berkumandang. Bahkan ada yang muncul setelah semua orang selesai makan.
Yang datang tepat waktu jadi menunggu lama. Buka puasa tidak lagi kompak. Ada yang sudah minum duluan, ada yang masih menunggu teman.
Hal kecil seperti ini sebenarnya sepele, tapi kalau berulang terus setiap tahun, rasanya melelahkan. Ramadan itu waktunya sudah pasti. Kita tahu persis jam berapa magrib. Seharusnya justru lebih mudah untuk disiplin.
Saya sering merasa budaya ngaret ini mengurangi esensi kebersamaan yang seharusnya jadi inti bukber.
BACA JUGA: Bukber Sebagai Ajang Unjuk Diri
Diskusi panjang hanya untuk menentukan tempat dan tanggal bukber
Yang paling menguras energi justru sebelum acara terjadi. Grup WhatsApp bisa ramai berhari-hari hanya untuk menentukan tanggal dan lokasi. Ada yang hanya bisa awal Ramadan. Lalu ada yang maunya pertengahan. Ada yang tidak bisa akhir pekan. Ada yang minta weekday.
Sudah voting, tetap saja ada yang protes. Sudah sepakat tempat A, tiba-tiba ada yang bilang terlalu mahal. Pindah ke tempat B, dibilang terlalu jauh. Tempat C penuh reservasinya. Diskusi bisa berulang sampai tiga atau empat kali tanpa keputusan final yang benar-benar disepakati semua orang. Rasanya seperti rapat kecil, bukan perencanaan acara santai.
Belum lagi saat H-1 masih ada yang bertanya, “Jadi fix di mana?” Padahal sudah dibahas panjang lebar. Kadang energi mental sudah habis sebelum bukber itu sendiri terlaksana.
Bukber bukan hal buruk. Bahkan saya akui, ada momen-momen yang menyenangkan ketika suasananya hangat dan obrolannya tulus. Tapi ketika prosesnya terlalu ribet, mahal, penuh drama kecil, dan terasa seperti kewajiban sosial, wajar kalau muncul rasa malas. Ramadan seharusnya tentang kesederhanaan, ketenangan, dan kebersamaan yang apa adanya. Bukan tentang tempat paling mewah, bukan tentang siapa paling berhasil, dan bukan tentang siapa paling sibuk.
Mungkin saya bukan tidak suka bukber. Saya hanya lebih memilih pertemuan yang sederhana, tidak terlalu banyak debat, tidak terlalu memaksakan semua orang hadir, dan benar-benar nyaman.
Yang membuat momen itu berkesan bukan lokasi atau harga makanannya, tapi rasa tulus untuk bertemu dan menjaga silaturahmi. Kalau memang suasananya hangat dan tanpa beban, saya pasti datang. Tapi kalau sudah terasa melelahkan sejak awal, rasanya lebih baik memilih buka puasa dengan tenang bersama keluarga atau orang-orang terdekat. Dan menurut saya, itu juga tidak salah.
Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Buka Bersama Itu Tak Seburuk yang Kalian Pikirkan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















