4 Alasan Saya Nggak Kangen Bukber Sama Sekali

Artikel

Firdaus Al Faqi

Kalau kemarin ada tulisan yang mengemukakan empat alasan kangen bukber, kali ini saya mau mengutarakan yang sebaliknya. Alasan-alasan ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi. Maka dari itu, di judulnya pakai ‘saya’, bukan ‘kita’. Ini dilakukan agar tidak menjadi pendapat yang mencatut nama umum, melainkan sebatas pendapat yang mengandung subjektivitas saja. Jadi kalau salah, tidak ada alasan khayalak ramai memberi respons negatif. Kalaupun benar, itu hanya kebetulan dan artinya kita senasib seperjuangan. Yok, cusss langsung saja agar tak bertele-tele.

Pertama, belum punya pencapaian.

Munculnya alasan pertama ini, karena sebatas pengalaman saya. Ketika mengadakan acara bukber, biasanya sangat mudah kita mendengar ocehan tentang kegemilangan nasib masing-masing. Sudah ada yang berpenghasilan, pakai seragam, punya lima pasangan, dan bla-bla-bla wacana yang bertema pengingkatan harga diri dan martabat pribadi. Nah, agar telinga kita tak terlalu panas, ya kita ademkan dengan hawa dingin keberhasilan dan pencapaian kita sendiri.

Tapi, saya tidak punya pencapaian dan keberhasilan apa pun selama ini. Pacar belum ada, skripsi belum kelar, tulisan belum banyak, belum jadi juragan ayam, belum jadi petani sukses, dan lain-lain. Jadi, saya tak ada bahal obrolan untuk menenangkan diri dengan membalas obrolan pencapaian kawan-kawan. Maka dari itu, saya nggak kangen dan belum mau untuk bukber dan kumpul-kumpul dulu. Kalau sudah ada pencapaian? Ya pasti hayuuu, meluncuuur.

Kedua, tiketnya kemahalan

Alasan ini berlaku saat bukbernya dilaksanakan dalam skala besar misalnya bukber se-angkatan. Kan, banyak yang hadir. Biasanya, tempat yang dipilih harus luas atau yang kira-kira cukup untuk semua. Dan, kebiasaan yang pernah saya amati, tempat yang dipilih itu harus photogenic, instagramable, dan pamer-able. Yang jelas, untuk booking tempat begituan, biaya yang dikeluarkan biasanya tak sedikit. Dan ini jelas berpengaruh pada besar kocek yang dikeluarkan bagi yang ingin hadir. Yang jelas, harga makanan di situ juga tinggi. Suatu cafe, tempat makan, atau apa pun yang sejenis, jika punya konsep baik, biasanya memang mematok tarif tinggi untuk harga makanan dan minumannya.

Baca Juga:  Terima Kasih kepada Tim Pencari Hilal!

Kemarin, sebenarnya ada yang berinisiasi, tapi karena kondisi saat ini, akhirnya nggak jadi. Kalau tidak salah, biayanya itu sekitar Rp40.000 per orang. Nah, bagi saya itu kemahalan. Selain karena belum memiliki pendapatan yang stabil, biaya sebesar itu sebanding dengan biaya makan sekeluarga. Daripada diboros-borosin, lebih baik saya gunakan untuk hal penting lainnya misalnya beli rokok, jajan ringan seribuan, dan yang berbiaya minim lainnya. Daripada duit saya habis, mending saya pilih aja untuk nggak kangen bukber.

Ketiga, acaranya gitu-gitu doang

Ini sebenarnya yang perlu diperhatikan. Kalau dilihat-lihat, acara yang diselenggarakan paling hanya mbadog, cerita-cerita bentar, terus foto-foto. Begitu seterusnya. Paling maksimal hanya diberikan hiburan yang memang disediakan oleh tempat bukber. Kalau hanya acaranya gitu-gitu doang, sama teman kompleks atau kampung aja bisa dilakukan. Nggak perlu ribet keluarin biaya mahal, biaya bensin, tenaga untuk bukber. Ya bosen lah kalau gitu-gitu aja. Dan sepertinya, nggak bakal ada konsep terbaru dari bukber ini. Mau gimana? Bukber di atas pohon? Bukber di tengah laut? Bukber sambil kayang? Mau pakai kelelawar sebagai hidangan utama? Atau mau bukber di bawah tanah? Susah buat nyari model bukber, karena ya memang harus gitu-gitu aja. Kalau sama-sama gitu-gitu aja, mending saya buka puasa di rumah bersama keluarga yang gitu-gitu aja juga. Sama, kan?

Keempat, males aja mau datang bukber

Kadang-kadang memang saya, kan, tiba-tiba lagi mood untuk nggak ngapa-ngapain, mager, dan kepengin di rumah aja. Untuk buka puasa? Ya sama keluarga aja, lah. Makanan tinggal ngambil, jajan tinggal comot, dan bisa membalaskan dendam karena seharian penuh berlapar-lapar dan berhaus-haus. Nah, kalau bukber? Masih harus keluarin motor, pakai helm, pakai baju rapi, harus macak karena siapa tahu ada yang kepincut, pakai parfum, nyetir, lewat jalan raya, macet, banyak polusi, harus berlagak easy going biar disukai teman lama, pura-pura senyum padahal mangkel, harus makan berdempetan, dan nunggu makanannya kadang juga lama. Kalau harus ngelakuin itu semua, kan, kek males aja gitu. Jadi ya, kalau males, saya jadi nggak kangen bukber. Paling mentok kangennya sama ciwi-ciwi yang dulu pernah saya deketin tapi gagal. Hampir pacaran tapi tiba-tiba ditinggal.

Baca Juga:  Simulasi Jika Pelatih MU Ikut Indonesian Idol, Master Chef, dan Ajang Cari Bakat Indonesia Lain

Sebenarnya, saya nggak kangen acara bukbernya saja. Tapi, untuk orang-orang yang hadir, konco lawas, konco plek, konco sak geng, konco mesra, dan konco edan, saya kangen puol!. Namun, kangen ini bisa dihadapi tidak hanya dengan bukber. Bisa ngopi, nyangkruk di rumahnya, silaturahmi, dan acara-acara non-formal lainnya untuk melepas kangen setelah sekian lama tak bersua entah karena sibuk kuliah, kerja, atau mengurusi rumah tangga.

BACA JUGA Tidak Ada Ajakan Buka Bersama Hari Ini dan tulisan Firdaus Al Faqi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
17


Komentar

Comments are closed.