Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

4 Alasan Saya Nggak Kangen Bukber Sama Sekali

Firdaus Al Faqi oleh Firdaus Al Faqi
9 Mei 2020
A A
4 Alasan Saya Nggak Kangen Bukber Sama Sekali Tidak Ada Ajakan Buka Bersama Hari Ini bukber ramadan

bukber ramadan

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau kemarin ada tulisan yang mengemukakan empat alasan kangen bukber, kali ini saya mau mengutarakan yang sebaliknya. Alasan-alasan ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi. Maka dari itu, di judulnya pakai ‘saya’, bukan ‘kita’. Ini dilakukan agar tidak menjadi pendapat yang mencatut nama umum, melainkan sebatas pendapat yang mengandung subjektivitas saja. Jadi kalau salah, tidak ada alasan khayalak ramai memberi respons negatif. Kalaupun benar, itu hanya kebetulan dan artinya kita senasib seperjuangan. Yok, cusss langsung saja agar tak bertele-tele.

Pertama, belum punya pencapaian.

Munculnya alasan pertama ini, karena sebatas pengalaman saya. Ketika mengadakan acara bukber, biasanya sangat mudah kita mendengar ocehan tentang kegemilangan nasib masing-masing. Sudah ada yang berpenghasilan, pakai seragam, punya lima pasangan, dan bla-bla-bla wacana yang bertema pengingkatan harga diri dan martabat pribadi. Nah, agar telinga kita tak terlalu panas, ya kita ademkan dengan hawa dingin keberhasilan dan pencapaian kita sendiri.

Tapi, saya tidak punya pencapaian dan keberhasilan apa pun selama ini. Pacar belum ada, skripsi belum kelar, tulisan belum banyak, belum jadi juragan ayam, belum jadi petani sukses, dan lain-lain. Jadi, saya tak ada bahal obrolan untuk menenangkan diri dengan membalas obrolan pencapaian kawan-kawan. Maka dari itu, saya nggak kangen dan belum mau untuk bukber dan kumpul-kumpul dulu. Kalau sudah ada pencapaian? Ya pasti hayuuu, meluncuuur.

Kedua, tiketnya kemahalan

Alasan ini berlaku saat bukbernya dilaksanakan dalam skala besar misalnya bukber se-angkatan. Kan, banyak yang hadir. Biasanya, tempat yang dipilih harus luas atau yang kira-kira cukup untuk semua. Dan, kebiasaan yang pernah saya amati, tempat yang dipilih itu harus photogenic, instagramable, dan pamer-able. Yang jelas, untuk booking tempat begituan, biaya yang dikeluarkan biasanya tak sedikit. Dan ini jelas berpengaruh pada besar kocek yang dikeluarkan bagi yang ingin hadir. Yang jelas, harga makanan di situ juga tinggi. Suatu cafe, tempat makan, atau apa pun yang sejenis, jika punya konsep baik, biasanya memang mematok tarif tinggi untuk harga makanan dan minumannya.

Kemarin, sebenarnya ada yang berinisiasi, tapi karena kondisi saat ini, akhirnya nggak jadi. Kalau tidak salah, biayanya itu sekitar Rp40.000 per orang. Nah, bagi saya itu kemahalan. Selain karena belum memiliki pendapatan yang stabil, biaya sebesar itu sebanding dengan biaya makan sekeluarga. Daripada diboros-borosin, lebih baik saya gunakan untuk hal penting lainnya misalnya beli rokok, jajan ringan seribuan, dan yang berbiaya minim lainnya. Daripada duit saya habis, mending saya pilih aja untuk nggak kangen bukber.

Ketiga, acaranya gitu-gitu doang

Ini sebenarnya yang perlu diperhatikan. Kalau dilihat-lihat, acara yang diselenggarakan paling hanya mbadog, cerita-cerita bentar, terus foto-foto. Begitu seterusnya. Paling maksimal hanya diberikan hiburan yang memang disediakan oleh tempat bukber. Kalau hanya acaranya gitu-gitu doang, sama teman kompleks atau kampung aja bisa dilakukan. Nggak perlu ribet keluarin biaya mahal, biaya bensin, tenaga untuk bukber. Ya bosen lah kalau gitu-gitu aja. Dan sepertinya, nggak bakal ada konsep terbaru dari bukber ini. Mau gimana? Bukber di atas pohon? Bukber di tengah laut? Bukber sambil kayang? Mau pakai kelelawar sebagai hidangan utama? Atau mau bukber di bawah tanah? Susah buat nyari model bukber, karena ya memang harus gitu-gitu aja. Kalau sama-sama gitu-gitu aja, mending saya buka puasa di rumah bersama keluarga yang gitu-gitu aja juga. Sama, kan?

Keempat, males aja mau datang bukber

Kadang-kadang memang saya, kan, tiba-tiba lagi mood untuk nggak ngapa-ngapain, mager, dan kepengin di rumah aja. Untuk buka puasa? Ya sama keluarga aja, lah. Makanan tinggal ngambil, jajan tinggal comot, dan bisa membalaskan dendam karena seharian penuh berlapar-lapar dan berhaus-haus. Nah, kalau bukber? Masih harus keluarin motor, pakai helm, pakai baju rapi, harus macak karena siapa tahu ada yang kepincut, pakai parfum, nyetir, lewat jalan raya, macet, banyak polusi, harus berlagak easy going biar disukai teman lama, pura-pura senyum padahal mangkel, harus makan berdempetan, dan nunggu makanannya kadang juga lama. Kalau harus ngelakuin itu semua, kan, kek males aja gitu. Jadi ya, kalau males, saya jadi nggak kangen bukber. Paling mentok kangennya sama ciwi-ciwi yang dulu pernah saya deketin tapi gagal. Hampir pacaran tapi tiba-tiba ditinggal.

Sebenarnya, saya nggak kangen acara bukbernya saja. Tapi, untuk orang-orang yang hadir, konco lawas, konco plek, konco sak geng, konco mesra, dan konco edan, saya kangen puol!. Namun, kangen ini bisa dihadapi tidak hanya dengan bukber. Bisa ngopi, nyangkruk di rumahnya, silaturahmi, dan acara-acara non-formal lainnya untuk melepas kangen setelah sekian lama tak bersua entah karena sibuk kuliah, kerja, atau mengurusi rumah tangga.

Baca Juga:

Warak Ngendog, Mainan “Aneh” di Pasar Malam Semarang yang Ternyata Punya Filosofi Mendalam

Tolong Jangan Paksakan Joget Velocity dalam Agenda Buka Bersama, Plis Banget!

BACA JUGA Tidak Ada Ajakan Buka Bersama Hari Ini dan tulisan Firdaus Al Faqi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2020 oleh

Tags: Buka BersamaBukberRamadan
Firdaus Al Faqi

Firdaus Al Faqi

Sejak lahir belum pernah pacaran~

ArtikelTerkait

berbuka puasa dengan yang manis

5 Alternatif Mengawali Berbuka Puasa Selain Dengan yang Manis

22 Mei 2019
anak bertanya

Bimbo: Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya sebagai Playlist Musik Ramadan

8 Mei 2019

Jangan Sedih jika Tidak Ada yang Mengirimkan Hampers Lebaran untuk Kamu

5 Mei 2021
5 Kebiasaan Unik Orang Madura Saking Antusiasnya Sambut Ramadan Terminal Mojok.co

5 Kebiasaan Unik Orang Madura Saking Antusiasnya Sambut Ramadan

6 April 2022
Lebaran Tahun Ini: Meski Raga Tak Bersama, Silaturahmi Tetap Harus Terjaga Berlutut dan Pakai Bahasa Jawa Kromo Adalah The Real Sungkeman saat Lebaran Selain Hati, Alam Juga Harus Kembali Fitrah di Hari yang Fitri Nanti Starter Pack Kue dan Jajanan saat Lebaran di Meja Tamu Mengenang Keseruan Silaturahmi Lebaran demi Mendapat Selembar Uang Baru Pasta Gigi Siwak: Antara Sunnah Nabi Atau Komoditas Agama (Lagi) Dilema Perempuan Ketika Menentukan Target Khataman Alquran di Bulan Ramadan Suka Duka Menjalani Ramadan Tersepi yang Jatuh di Tahun Ini Melewati Ramadan dengan Jadi Anak Satu-satunya di Rumah Saat Pandemi Memang Berat Belajar Gaya Hidup Eco-Ramadan dan Menghitung Pengeluaran yang Dibutuhkan Anak-anak yang Rame di Masjid Saat Tarawih Itu Nggak Nakal, Cuma Lagi Perform Aja Fenomena Pindah-pindah Masjid Saat Buka Puasa dan Salat Tarawih Berjamaah 5 Aktivitas yang Bisa Jadi Ramadan Goals Kamu (Selain Tidur) Nanti Kita Cerita tentang Pesantren Kilat Hari Ini Sejak Kapan sih Istilah Ngabuburit Jadi Tren Ketika Ramadan? Kata Siapa Nggak Ada Pasar Ramadan Tahun Ini? Buat yang Ngotot Tarawih Rame-rame di Masjid, Apa Susahnya sih Salat di Rumah? Hukum Prank dalam Islam Sudah Sering Dijelaskan, Mungkin Mereka Lupa Buat Apa Sahur on the Road kalau Malah Nyusahin Orang? Bagi-bagi Takjil tapi Minim Plastik? Bisa Banget, kok! Nikah di Usia 12 Tahun demi Cegah Zina Itu Ramashok! Mending Puasa Aja! Mengenang Kembali Teror Komik Siksa Neraka yang Bikin Trauma Keluh Kesah Siklus Menstruasi “Buka Tutup” Ketika Ramadan Angsle: Menu Takjil yang Nggak Kalah Enak dari Kolak Nanjak Ambeng: Tradisi Buka Bersama ala Desa Pesisir Utara Lamongan

5 Aktivitas yang Bisa Jadi Goals Kamu di Bulan Ramadan (Selain Tidur)

11 Mei 2020
bukber ramadan, kangen bukber

Bukber Biasa Saja

26 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan

4 Februari 2026
Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026
5 Bentuk Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang  MOjok.co

5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

2 Februari 2026
Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib Mojok.co

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib

1 Februari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.