4 Alasan Esports Harus Jadi UKM di Kampus – Terminal Mojok

4 Alasan Esports Harus Jadi UKM di Kampus

Artikel

Avatar

Dalam dunia esports, Indonesia bagaikan Brazil di khazanah sepakbola internasional. Superioritas tim-tim Indonesia sudah melegenda sejak zaman Point Blank, atau game-game warnet lainnya.

Sekitar tahun 2012, kita mengenal JinX*|Pro-Amanda sebagai selebriti di kalangan anak warnet. Bahkan nickname in-game-nya kerap digunakan para gamers sebagai awalan nickname mereka, JinX*|Pro-Luhut misalnya. Sekarang, seleb esports Indonesia dihiasi dengan nama-nama beken seperti Ihsan Lemon, duo kembar Luxxy-Zuxxy, Kiky InYourDream, Rizky Faidan alias Zeus, dan lain-lain.

Terkait nama-nama di atas, tentu perlu dedikasi yang tinggi supaya bisa berada di posisi yang mereka tempati saat ini. Berbeda dengan saya, player yang cuma main di warung kopi (pesan es teh tapi nongkrong sampai pagi), tentu bukan tandingan mereka, apalagi sampai bermimpi berada di posisinya. Terlebih saya ini seorang mahasiswa, kesibukan ngegame saya masih harus terganggu dengan tugas-tugas kuliah. Terkadang saya pun sampai tidak sempat bahkan hanya untuk sekadar login di gim-gim kesayangan saya, menyebalkan memang.

Di zaman teknologi ini, aktivitas bermain gim masih sering mendapat stigma kurang baik dari banyak orang. Banyak yang masih beranggapan bahwa bermain gim itu hanya membuang-buang waktu, ora mutu babar blas.

Tentu anggapan seperti sebenarnya sudah usang, sebab berkat berkembangnya industri esports, justru membuat gim-gim online ini sekarang bisa membawa prestasi yang membanggakan.

Di kampus, tempat untuk mewadahi minat dan bakat mahasiswa berada di unit kegiatan mahasiswa (UKM). Sudah banyak prestasi yang ditorehkan oleh UKM demi membanggakan kampusnya. Sayangnya, belum banyak kampus yang memiliki UKM esports di dalamnya. Maka inilah beberapa alasan mengapa setiap kampus saat ini wajib punya UKM esports di dalamnya.

#1 Memiliki prospek cerah

Pertama kita harus sepakat bahwa saat ini esports memiliki prospek yang lebih cerah dibanding prospek persepakbolaan di Indonesia. Selain prospek karir yang mana kini setiap Pro Player memiliki nilai kontrak yang fantastis, eSport sekarang menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan di event olahraga multicabang bergengsi.

Di Asia sendiri cabang olahraga ini pernah dipertandingkan pada Asian Indoor Games 2007, kemudian di Asian Indoor-Martial Arts Games sejak 2013. Di tahun 2018 kemarin pun esports turut menjadi ajang eksibisi di Asian Game. Setelah ini, esports rencananya akan benar-benar dipertandingkan untuk memperebutkan medali pada Asian Games 2022. Bahkan kabarnya, esports sedang menjadi bahan diskusi untuk dipertandingkan di Olimpiade Paris 2024.

#2 Scene yang kompetitif

Pasti kita ingat kenangan main Winning Eleven di Playstation 2 bareng teman-teman sejawat, di situ kita saling berlomba untuk menasbihkan diri sebagai “penguasa wilayah”. Tentu saya dulu pernah merasakan jadi penguasa satu kompleks perumahan dong, hehehe~

Budaya seperti ini, ternyata terlahir kembali pada di era game online ini. Dari mulai kampung, kota, provinsi, negara, sampai tiap benua punya jagoannya masing-masing. Panggung kompetitif yang telah mengakar sampai tingkat sosial masyarakat yang paling kecil ini menegaskan bahwa eSport memang sudah waktunya masuk ke dalam kampus. Lomba 17-an pun sekarang banyak yang melombakan olahraga jari ini, loh.

#3 Indonesia merupakan juara dunia

Sejak dulu, kiprah tim Indonesia di kancah esports internasional selalu diperhitungkan. Bagaimana tidak, tim Indonesia selalu menjadi langganan juara di banyak gim daring yang dipertandingkan. Maka maklum banyak anak muda yang sekarang mulai bermimpi menjadi pro player, sebab negaranya memiliki prestasi menonjol di bidang ini.

Jelas prestasi ini wajib dipertahankan, tentunya dengan melakukan regenerasi dan pembinaan pemain esports lokal yang tersebar di seluruh Indonesia. Salah satu caranya ialah dengan menghimpun mereka kedalam wadah yang profesional seperti komunitas atau UKM dalam kampus. Lewat cara ini, potensi lahirnya banyak pemain hebat bakal lebih besar. Sebab salah satu cara major esports merekrut pemain baru mereka adalah dengan melakukan scouting di komunitas atau berburu bakat lewat turnamen lokal.

#4 Uang

Kalau perkara ini sengaja ditaruh belakang, biar nggak jadi rebutan. Sebab uang di industri esports ini nilainya besar. Mulai dari prize pool turnamen besar yang sering menembus jutaan dolar, bisnis uang in-game, sampai harga slot untuk tim yang ingin berlaga di liga nasional pun senilai ratusan juta. Bahkan nilai transfer pemain, yang mana ibarat digunakan untuk membeli jari pemain, beberapa nilainya mencapai milyaran rupiah. Ssttt.. jangan dibaca keras-keras~

Untuk saat ini, khayalan saya masih terbang jauh membayangkan apabila orang-orang gabut seperti saya, yang siang-malam akrab dengan pose “HP miring” ini terwadahi secara profesional atau bahkan mewadahi mahasiswa lain yang memiliki minat dan bakat di dunia gim. Jadi buat mahasiswa yang masih sempat bermain gim karena tidak kebagian posisi jadi panitia di event ormawa, tidak ada salahnya untuk mulai bergerak merintis UKM esports. Daripada setiap hari cuma main asal-asalan terus jadi beban tim kalian, iya kan?

BACA JUGA Dikenang Bak Pahlawan karena Tambal Ban.

Baca Juga:  Panjat Pinang: Hadiahnya Nggak Seberapa, Sakitnya Luar Biasa
Terminal Mojok merupakan platform Use Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
40


Komentar

Comments are closed.