3 Minuman Tegal yang Aman untuk Lidah Orang Semarang yang Nggak Suka Kuliner Menantang

3 Minuman Tegal yang Aman untuk Lidah Orang Semarang yang Nggak Suka Kuliner Menantang Mojok.co

3 Minuman Tegal yang Aman untuk Lidah Orang Semarang yang Nggak Suka Kuliner Menantang (unsplash.com)

Sebagai warga Semarang yang akrab dengan gurihnya tahu gimbal dan lumpia, kunjungan perdana saya ke Tegal akhir bulan lalu terasa seperti uji nyali. Reputasi Kota Bahari yang sangat lekat dengan aneka olahan daging kambing sempat membuat saya ragu untuk kulineran.. Pasalnya, kondisi kesehatan yang kurang prima memaksa saya agar lebih selektif memilih santapan.

Akan tetapi, kekhawatiran saya ternyata sia-sia belaka. Tegal ternyata jauh lebih kaya ketimbang sekadar sate kambing, tahu aci, atau kacang pilus. Akhirnya, saya berhasil menemukan pelarian paling cocok. Yakni, deretan minuman es khas Tegal. Kalau orang lain mungkin langsung menyerbu teh poci yang tersohor, kali ini saya memilih untuk menambatkan hati pada segarnya es-es lokal yang bikin saya jatuh cinta seketika.

#1 Es sagwan, ramuan legendaris Tegal yang bertahan dari zaman ke zaman

Sepintas, tampilannya sangat mirip es dawet karena ada campuran yang menyerupai cendol di dalamnya. Namun, begitu es sagwan masuk ke mulut, perbedaannya langsung terasa jelas. Kalau cendol dawet lazimnya berbahan dasar tepung beras, es sagwan Tegal justru mengandalkan tepung tapioka sebagai bahan utama.

Komposisi inilah yang bikin saya sulit buat nggak ketagihan. Kalau dawet cenderung kenyal, cendol sagwan menawarkan sensasi unik yang agak padat, renyah, dan sentuhan gurih untuk menyeimbangkan rasa manisnya. Bisik-bisik, sebutan kuliner ini sendiri diambil dari nama sang pelopor yang resepnya terus dipertahankan secara turun-temurun.

Saking enaknya, es ini konon jadi primadona anak muda sejak era Presiden Soekarno. Sampai hari ini, keaslian es sagwan Tegal masih terjaga meski pelanggan dibebaskan memilih variasi penyajian. Mulai dari campuran es serut dengan sirup atau gula merah, hingga tambahan topping seperti tape atau potongan roti tawar yang bikin rasanya makin sempurna.

#2 Es lontrong, minuman dengan vibes ceria yang lahir dari gang sempit

Seperti es sagwan yang punya sejarah, nama lontrong juga dicatut dari gang sempit tempat kuliner ini bermula. Isiannya cukup meriah. Satu porsi es lontrong Tegal terdiri dari rebusan kacang hijau, agar-agar, dan potongan roti tawar. Es batunya sendiri diserut atau digosrok, lalu disiram dengan santan dan diberi pemanis sirup merah.

Ajaibnya, racikan es lontrong Tegal yang seperti adegan tabrak lari tersebut malah menghasilkan harmoni rasa yang luar biasa lezat. Bagi lidah orang Semarang yang mengira rasanya bakal mirip es bubur kacang hijau biasa, es lontrong membuktikan jati diri yang berbeda.

Katanya, ada dua cara menikmati kuliner Tegal satu ini. Yang pertama, langsung mencampurkan potongan roti seperti saya. Lainnya, mencelupkan roti tawar lalu menyesap kuah es yang telah meresap ke dalam roti. Mana saja cara yang dicoba, keduanya memberikan pengalaman rasa istimewa.

#3 Es dawet beras asal Tegal punya karakter beda dari es dawet di kota lain

Meski namanya terdengar akrab di telinga, jangan samakan es dawet beras asal Tegal ini dengan es dawet di kota lain. Berbeda dengan dawet pada umumnya yang mengandalkan tepung kanji atau hunkwe, dawet khas Tegal ini diolah dari tepung beras. Hasilnya berupa tekstur yang jauh lebih mantap saat dikunyah, dibarengi dengan aroma khas yang sulit diimitasi.

Yang bikin saya lebih takjub lagi adalah cara penyajiannya yang unik. Sebelum disajikan, wadahnya akan diusap atau dipukul-pukul dulu menggunakan jeruk purut. Tujuannya supaya aroma segar jeruk purut tersebut langsung membelai indra penciuman begitu pembeli mulai menyesap esnya.

Kabarnya, harum semerbak jeruk purut ini juga sengaja dihadirkan sebagai terapi alami untuk meredakan stres dan kecemasan. Entah mitos atau fakta, yang jelas saya benar-benar merasakan sensasi relaksasi yang nyata saat meminumnya. Benar-benar perpaduan yang cerdas sekaligus menenangkan.

Tiga jenis es di atas adalah bukti nyata bahwa Kota Bahari punya sisi lain yang lebih lembut, bukan sekadar deretan kuliner yang menguji keberanian. Pastinya pula, alternatif menyeruput es khas Tegal sangat ramah buat lidah orang Semarang seperti saya yang ingin tetap aman selama berwisata.

Sebab, pada hakikatnya, sesekali memanjakan lidah dengan yang manis dan dingin adalah hak segala bangsa. Terutama bagi wisatawan yang sedang butuh kesejukan di tengah teriknya Tegal yang panas mataharinya sebelas dua belas dengan Kota Atlas.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 4 Kuliner Khas Tulungagung yang Disukai Warlok, tapi Kurang Cocok di Lidah Pendatang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

 

Exit mobile version