Saya kira, tinggal hampir 10 tahun di Semarang akan membuat saya terbiasa dengan huru-hara jalanannya. Ternyata saya salah besar. Setelah lama tinggal di Semarang, saya menyadari jalanan kota ini kompleksnya minta ampun sehingga membawa berbagai cobaan tersendiri.
Perkara banjir rob dan banjir dadakan sudah rahasia jadi rahasia umum yang perlu segera dicari solusinya. Namun, ada juga perkara lain yang diam-diam bikin jalanan Semarang semakin merepotkan.
Perkara yang tak banyak dibicarakan, tapi begitu terasa ketika berkendara langsung di sana. Berikut tiga cobaan lain selain banjir dan rob, yang cuma kalian temui di Semarang.
#1 Tanjakan lurus Semarang yang menantang
Sebagai mantan warga Demak, saya sungguh ingin menangis ketika berkendara di Semarang. Demak dan Semarang itu bertetangga dekat, pikir saya, kontur tanahnya tidak begitu berbeda. Begitu pula lika-liku jalannya.
Begitulah pemikiran polos saya. Dan, ternyata saya salah besar. Semarang bukan Demak yang tanjakannya cuma ada di jembatan untuk menyebrang kapal aja. Di Semarang, tanjakan bukanlah hal yang asing. Sebut saja, di sana ada tanjakan Gombel, tanjakan Silayur, tanjakan Jangli, tanjakan Tanah Putih, dan masih ada beberapa lainnya.
Tanjakan-tanjakan ini variatif dari mulai ukuran sampai juga modenya, dan kebanyakan tanjakannya bukan tipikal tanjakan santuy yang berkelok ala pegunungan. Tanjakannya kebanyakan mode lurus panjang yang bikin nafas pengendara harus tenang. Rem tangan, kaki, harus ready dan steady. Itu buat saya, tapi kalau untuk warlok mereka tenang dan santuy.
Jadi kalau ada yang was-wes di tanjakan dan turunan sudah pasti warlok, mereka seolah punya nyawa serep jadi main seluncur aja.
#2 Patahan akibat sesar Kaligarang di beberapa wilayah
Selain tanjakannya yang bikin waswas, ada perkara patahan akibat sesar Kaligarang yang juga tidak bisa dipandang remeh. Fenomena geografi yang biasa cuma saya lihat dibaca di buku-buku bisa saya saksikan langsung di Semarang tanpa susah payang. Sebab, petahannya bisa terjadi di beberapa area di jalan raya.
Contoh paling epik adalah patahan di Jalan Pawiyatan Luhur daerah Bendan Duwur dekat dengan Kampus Untag Semarang. Beberapa kali patahan itu terbentuk dan sempat di aspal sehingga menyerupai gundukan. Bahkan, tak kurang akal Pemkot juga sering memangkas patahan itu supaya landai, tapi ya ada lagi ada lagi.
Patahan-patahan semacam ini cukup bikin pengendara emosi ya. Apalagi buat pengendara mobil yang ground clearance-nya rendah. Sudah PR banget. Pernah saya melihat ada mobil sejenis sedan yang nyangkut di patahan Trangkil arah Unnes. Sedan ini sukses bikin macet arah ke Unnes.
Hahaha, ada-ada emang.
Baca juga 5 Realitas Pahit Hidup di Semarang yang Tidak Muncul dalam Brosur.
#3 Asap knalpot BRT
Selain dua faktor alam tersebut, cobaan berkendara di Semarang yang tidak terhindarkan adalah si paus biru dan si lumba-lumba merah. Alias BRT. Dua Bus andalan warga Semarang yang murah meriah itu.
Bus yang sukses bikin saya juga agak bergetar pas disalip karena kadang terasa kok mepet bener. Ya, maklum saja, jalanan Semarang padat udah gitu kadang ada yang memang kurang lebar aja.
Selain jalannya yang bikin saya deg-degan. Ada residu knalpotnya yang bikin saya geleng-geleng kepala. Asapnya itu tebal, berasa di negeri awan coklat. Hahaha, jenis awan kena azab kehitaman yang baunya jangan di tanya.
Itulah cobaan berkendara di Semarang selain banjir rob dan banjir dadakan yang aslinya nggak pengin saya cobain. Namun, kadung pindah ke Kota Atlas ini, akhirnya saya merasakannya juga.
Penulis: Anisa Fitrianingtyas
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Blok GM Semarang: Ketika Estetika Anak Skena Menumbalkan Hak Pengguna Jalan Semarang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.












