Banyak orang mengira kebahagiaan seorang petugas cleaning service itu cuma dapat uang tip, soal gaji di tanggal muda, atau jam kerja yang cepat usai. Padahal, di balik seragam kami yang sering terpapar debu dan kotoran ini, ada hal-hal kecil yang bikin kami bahagia.
Ini semua soal bagaimana kami dihargai sebagai sesama manusia yang sedang berjuang mencari nafkah. Terlihat remeh, tapi bagi kami besar artinya.
#1 Kondisi ruangan yang sudah terbantu
Membersihkan sampah dan beresin ruangan itu memang sudah jadi tugas kami para cleaning service. Tapi, tolonglah, mohon pengertiannya sedikit saja. Jangan jadi manusia yang hobi nyampah cuma karena tahu bakal ada yang beresin.
“Halah, tenang saja nanti juga ada cleaning service yang membersihkan.” Setiap hari kami mendengar kalimat itu.
Mentang-mentang ada petugas cleaning service, bukan berarti kalian bebas membuat meja kantor atau toilet kotor dan berantakan. Kalau bisa, sesudah habis makan, ya minimal sisa makanan tersisa atau plastik bungkusnya dikumpulkan jadi satu wadah saja jangan sampai berserakan. Biar sisanya kami yang membuang.
Di toilet juga sama. Bekas tisu itu tempatnya di tong sampah, bukan di lantai seolah lagi ada saweran. Kalau Anda mau sedikit repot, bisa membantu dengan buang sisa cairan kopi/teh ke wastafel sebelum membuang gelas plastiknya ke tempat sampah.
Bagi kami, itu rasanya kayak dapat mood booster sebelum masuk ke medan perang. Kami bakal sangat menghargai itu dan diperlakukan secara manusiawi itu bikin bahagia.
#2 Sapaan tulus kepada cleaning service dengan menyebutkan nama, bukan “Woy”, “Kang”, “Mbak” atau “Mas!”
Iya, banyak orang memandang rendah pekerjaan cleaning service. Sampai-sampai ada yang nggak mau memanggil kami dengan nama, tapi “Woy” atau “Heh”. Seakan-akan kami tidak layak berada dalam satu ruangan dengan mereka.
Pekerjaan kami memang berkaitan dengan kotoran. Namun, kami juga manusia. Kami juga pekerja yang punya nama. Apalagi nama kami terpampang dengan jelas di seragam. Nggak ada salahnya, kan, memanggil kami dengan nama, bukan “Heh”.
Kami akan sangat bahagia kalau ada yang memanggil dengan nama. Misalnya, “Pagi, Kang Acep” atau “Sore, Mbak Sarah.”
Coba, deh, sesekali, lirik name tag yang menempel di seragam cleaning service. Di dunia yang makin cuek ini, banyak orang cuma menganggap kami sebagai “properti gedung” yang bisa gerak-gerak saja.
#3 Menghargai cleaning service dengan tidak melewati lantai yang baru selesai dipel
Nah, poin terakhir ini yang paling sering menguji kesabaran dan keimanan kami para cleaning service. Bayangkan saja, saat kami sudah membungkuk-bungkuk mengepel lantai kotor sampai bersih dan kinclong kayak cermin, tiba-tiba ada seseorang dengan santainya wajah tanpa dosa lewat di tengah-tengah lantai dengan sepatu penuh tanah, tanpa mengucapkan permisi.
Padahal, kami para cleaning service meletakan papan kuning bertuliskan “Caution: Wet Floor”. Alias lantai dalam keadaan basah yang berdiri tegak segede gaban, tapi tak pernah mereka lirik.
Padahal, menunggu dua menit sampai lantai kering, ucapkan permisi, atau minimal melipir lewat pinggir jalan sambil jinjit, apa susahnya? Itu adalah bentuk penghormatan tertinggi buat kami para cleaning service.
Itulah tiga hal kecil yang membuat kami cleaning service bahagia. Intinya sih, kebersihan gedung itu bukan cuma beban kami para petugas cleaning service yang tiap hari pegang sapu dan pel, tapi juga jadi cermin kualitas attitude orang-orang di dalamnya juga.
Tapi, kami para cleaning service nggak butuh dikasihani, kok, cuma minta sedikit dihargai saja. Karena buat kami, bahagia itu nggak melulu soal nominal di slip gaji dan uang lebih. Tapi tetap dianggap ada meskipun bekerja bersih-bersih saja.
Penulis: Acep Saepulloh
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















