Gejolak Timur Tengah dan Efeknya untuk Indonesia

Gejolak Timur Tengah dan Efeknya untuk Indonesia

Ilustrasi (Ega Fansuri/Mojok.co)

Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran menyeret kawasan Timur Tengah ke ambang konfrontasi kolosal yang diprediksi akan berlangsung lama dan melelahkan. 

Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang gugur di kantornya akibat serangan tersebut, nyatanya tidak melumpuhkan Teheran. Justru balasan rudal dari Iran menghujani pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara; Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, hingga Arab Saudi. 

Perang ini tidak lagi terbatas pada peta perbatasan, melainkan berisiko menyeret negara-negara mayoritas Muslim ke dalam pusaran perang terbuka yang mengancam stabilitas global. 

Ancaman perang panjang di Timur Tengah

Iran dan Ali Khamenei ini bukannya tanpa kritik. Ia kerap dianggap sebagai rezim otoriter yang sangat brutal menghadapi demonstrasi. Tetapi, ia dikenal sebagai orang yang konsisten menentang dominasi AS-Israel di Timur Tengah. Iran juga jadi negara yang membela kedaulatan Palestina.

Iran diyakini sanggup untuk melakukan perang panjang. Ini karena mereka tidak hanya bertumpu pada militer regulernya, melainkan pada “Poros Perlawanan” (Axis of Resistance). Melalui jaringan proksi lintas negara seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, hingga milisi syiah di Irak dan Suriah, Teheran menciptakan “perang multi-front” yang akan merepotkan AS dan Israel dari berbagai penjuru. 

Hal ini membuktikan bahwa sebagai satu-satunya negara yang konsisten menentang dominasi AS-Israel dan membela kedaulatan Palestina, Iran telah lama bersiap: satu pemimpin mati, akan digantikan pemimpin lain yang tetap melawan.

Di sisi lain, langkah Donald Trump ini menunjukkan kebebalan yang luar biasa, bahkan terhadap aturan hukum di negaranya sendiri. Ia jelas-jelas menabrak konstitusi AS saat memutuskan menyerang Iran, tanpa berkonsultasi dengan kongres AS. 

Serangan ini bahkan dilakukan di saat Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi, mediator perundingan tak langsung Iran-AS, menyampaikan prospek kesepakatan damai.

Efek domino dari serangan AS-Israel ini diperkirakan segera menghantam kebutuhan pokok dunia: harga minya duniai. 

Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Indonesia memberikan gambaran dampak ekonomi perang AS Vs Iran akan mempengaruhi dampak jutaan hidup masyarakat Indonesia. 

Perang akan menyebabkan harga BBM naik di tingkat konsumen. Ini karena harga minyak mentah jenis Brent bertengger di kisaran 82 dolar AS per barel (Senin 2 Maret 2026). Padahal akhir Februari masih di kisaran 72 dolar AS per barel. 

CELIOS bahkan menyatakan sangat mungkin harga minyak dunia tersebut bisa menyentuh 100-120 USD per barel. Lonjakan ini dipicu penutupan Selat Hormuz, “urat nadi” energi global yang melayani 20 persen distribusi minyak dan gas bumi dunia. 

Efek perang bagi Indonesia

Bagi negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia, situasi perang di Timur Tengah adalah mimpi buruk fiskal. Kenaikan harga minyak dunia berarti pembengkakan beban subsidi BBM yang akan menguras APBN dalam waktu singkat. 

Minyak bumi adalah komponen utama dalam rantai pasok global. Pada akhirnya, agresi sepihak Amerika Serikat dan Israel bukan hanya membuat porak-poranda Iran, tetapi juga membuat dunia tidak stabil. Baik dari sisi keamanan maupun ekonomi. 

Bagi masyarakat kecil di Indonesia, ketika biaya logistik naik, harga bahan pokok seperti beras, minyak goreng, dan tepung terigu akan mengikuti. Para pelaku UMKM dan pedagang kecil kini berada di garis depan ancaman inflasi yang dipicu oleh krisis keamanan di Timur Tengah.

Warung makan kecil atau pedagang kaki lima akan menghadapi pilihan sulit: menaikkan harga jual dan berisiko kehilangan pelanggan, atau mempertahankan harga lama namun menggerus margin keuntungan yang sudah tipis.

Masyarakat menengah ke bawah akan mengerem pengeluaran non-primer karena pendapatan mereka habis terserap untuk kebutuhan pangan dan transportasi yang mahal. 

Semoga nurani segera mengetuk pintu hati siapa pun yang punya kuasa menghentikan perang di Timur Tengah. 

BACA JUGA Iran, Amerika, dan Israel: Tiga Visi Dunia yang Bertabrakan

Exit mobile version