FOMO Finansial: Akhir Bulan yang Cemas karena Gaji Tak Cukup dan Rayuan Berinvestasi

FOMO Finansial: Akhir Bulan yang Cemas Karena Gaji Tak Cukup dan Rayuan Berinvestasi MOJOK.CO

Ilustrasi FOMO Finansial: Akhir Bulan yang Cemas Karena Gaji Tak Cukup dan Rayuan Berinvestasi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

RAYUAN untuk berinvestasi datang pada orang-orang yang bahkan penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan di akhir bulan saja ngos-ngosan. Jebakan melakukan investasi agar cepat kaya membuat banyak orang justru terjerat masalah keuangan.

Anjuran atau ajakan untuk berinvestasi sejak muda sebenarnya tidak sepenuhnya salah, tapi memungkinkan orang bertindak salah. Sebabnya, masih banyak orang yang tidak tahu cara mengatur keuangan. Ada posisi tangga yang harus dilalui seseorang sebelum memutuskan untuk menggunakan uangnya berinvestasi.

Ada ironi yang jarang disadari dalam hidup finansial banyak orang. Kita merasa sudah bekerja terlalu keras, padahal secara struktur hidup kita masih berada di fase paling dasar. Bukan karena bodoh. Bukan karena malas. Tapi karena sejak awal kita tidak pernah diajari membaca posisi.

Dalam berbagai diskusi soal keuangan, perjalanan finansial sering digambarkan sebagai tangga. Tangga pertama adalah hidup yang masih bergantung. Pengeluaran lebih besar dari pemasukan. Gaji datang dan langsung habis. Akhir bulan selalu jadi momen cemas. Utang dipakai untuk menutup lubang yang dibuat utang sebelumnya. Di fase ini, tujuan hidup finansial bukan kaya, tapi gimana caranya akhir bulan bisa makan.

Namun, justru di titik ini, godaan berisi ajakan berinvestasi berseliweran di dunia digital. Datang membawa mimpi, modal kecil, pendapatan banyak. Data OJK hingga awal 2026 menunjukkan bahwa Gen Z kini mendominasi pasar aset berisiko dengan porsi investor kripto mencapai 51,8% di kelompok usia 18-24 tahun. Mereka masuk ke pasar bukan dengan “uang dingin”, melainkan dengan harapan instan untuk menambal lubang ekonomi.

Tangga berikutnya, di mana sebagian besar orang Indonesia mengalaminya, adalah hidup yang terlihat baik-baik saja. Kebutuhan hidup tercukupi dari penghasilan bulanan, tidak punya pinjaman, tetapi tidak punya jaring pengaman bernama dana darurat. Ibaratnya, hidup dijalani dari gaji ke gaji.

Di fase ini pula, bujukan agar berinvestasi kembali dijual sebagai solusi cepat. Bukan sebagai pilihan sadar, melainkan sebagai standar baru. Seolah hidup tanpa punya portofolio investasi adalah hidup yang kurang berani mengambil risiko. Padahal, dana darurat saja tidak punya. 

FOMO finansial dorong Gen Z nekat investasi modal pinjol

Riset akademis terbaru dalam Jurnal EKUITAS (2025) menyebutkan bahwa fenomena Fear of Missing Out (FOMO) secara signifikan mendorong Gen Z untuk nekat menggunakan pinjol demi modal investasi. Mereka lebih takut dianggap tidak gaul secara finansial daripada takut pada bunga pinjaman yang mencekik.

Mereka hidup dalam kerentanan. Misalnya, tiba-tiba sakit, motor rusak, atau kehilangan pekerjaan tanpa pesangon. Kehidupan yang semula tampak baik-baik saja bisa kembali ke nol karena ketiadaan dana cadangan. 

Tidak adanya tabungan atau dana yang bisa digunakan cepat, maka pilihannya jatuh pada pinjaman online (pinjol). Data menunjukkan bahwa per Desember 2025, Gen Z menyumbang 42,3% dari total peminjam aktif di platform fintech lending. Investasi yang diharapkan menjadi sekoci penyelamat justru berubah menjadi jangkar yang menenggelamkan karena modalnya bersumber dari utang.

Masalahnya bukan pada konsep perencanaan keuangan itu sendiri. Masalahnya adalah pemaksaan narasi, seolah semua orang bisa menaiki tangga yang sama dalam waktu yang sama. 

Saat literasi keuangan hanya dipahami sebagai cara memilih saham atau kripto, bukan cara bagaimana agar di akhir bulan tidak cemas karena tabungan kosong, maka investasi tak lebih dari sekadar perjudian yang dilegalkan.

Untuk kita yang masih berjuang di tangga terbawah, ingatlah satu hal: investasi bukan digunakan sebagai dana darurat. Investasi adalah tangga berikutnya setelah kita punya jaring pengaman bernama dana darurat. 

Jangan biarkan FOMO finansial dalam bentuk rasa iri melihat tangkapan layar keuntungan orang lain di media sosial merusak logika finansial Anda. Menabung satu atau dua persen dari gaji sebagai dana cadangan jauh lebih heroik daripada pamer portofolio kripto atau saham, tapi dikejar-kejar penagih utang di akhir bulan. 

Sadarilah bahwa investasi membutuhkan “uang dingin”. Uang yang jika hilang tidak membuat kita mikir, besok mau makan apa. 

Pemerintah jangan menjadikan kurangnya literasi keuangan masyarakat sebagai kambing hitam, ketika korban pinjol atau investasi bodong terus bertambah setiap harinya. 

Literasi sebanyak apa pun tidak akan berdaya kalau akses pinjaman ilegal begitu mudah menyusup ke gadget masyarakat. 

Pemerintah melalui OJK dan kementerian terkait harus lebih galak. Perlu ada regulasi yang memaksa platform investasi dan fintech untuk memiliki penyaring profil risiko yang lebih ketat, bukan sekadar mempermudah syarat pendaftaran demi mengejar kuota pengguna. 

Selain itu, penegakan hukum terhadap iklan-iklan investasi menyesatkan yang menjanjikan kaya instan harus dilakukan secara masif. Pemerintah punya tanggung jawab untuk memastikan bahwa sistem keuangan kita melindungi warga dari predator digital, bukan justru membiarkan warga bertarung sendirian.

Redaksi

BACA JUGA: Punya Tabungan Likuid untuk Jaga-jaga PHK Memang Penting, Tapi Banyak Pekerja RI Tak Sanggup karena Realitas Hidup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version