Belajar Bahasa Inggris Logat Australia Terasa Membagongkan buat Mahasiswa Indonesia kayak Saya
Belajar Bahasa Inggris Logat Australia Terasa Membagongkan buat Mahasiswa Indonesia kayak Saya

Belajar Bahasa Inggris Logat Australia Terasa Membagongkan buat Mahasiswa Indonesia kayak Saya

MOJOK.COBelajar bahasa Inggris banyak variasinya. Salah satunya versi Australia, yang kadang masih bikin saya sakit kepala.

Lulus berbagai tes bahasa Inggris standar internasional dengan nilai tinggi tidak menjamin seseorang mampu berkomunikasi lancar dalam bahasa Inggris dengan penutur asli, khususnya secara lisan.

Ujian macam TOEFL dan IELTS memang memiliki komponen uji wicara, tapi secara umum tujuannya adalah untuk kepentingan akademis.

Padahal, bahasa akademis hanyalah satu dari sekian ragam bahasa. Bahkan, ragam tutur bahasa Inggris sangat banyak variasinya. Salah satunya adalah bahasa Inggris ala Australia, yang sampai sekarang kadang masih bikin saya sakit kepala.


Saya punya cerita soal ini.

Jarred adalah salah satu rekan kerja saya di gudang sebuah department store di Perth. Roman mukanya mirip-mirip mantan pemain bass Metallica, Jason Newsted. Rambutnya yang brunet dicukur mullet alias model GORI (gondrong mburi), khas reserse Australia. Tak cuma tampilannya yang khas, cara bicaranya juga kental sekali Australinya.

Nah, suatu hari dia bertugas sebagai pengawas gudang. Saya masuk jam 7 pagi dan diminta menuntaskan pekerjaan sesuai arahannya.

Sekitar jam 10, dia bilang, “I’m gonna stop for smoko – a cuppa and a durry or two. Ya comin’, mate?”

“Sorry, come again?” saya minta dia mengulang.

“Fancy a smoko?” dia jawab.

“Nah, mate. I don’t smoke,” balas saya.

“Smoko. Not smoke. It’s a quick break. Don’t have to smoke. A cuppa will do, ay!” ucapnya.

Saya jadi merasa sangat goblok begitu dia menerangkan bahwa smoko adalah mengaso, a cuppa itu artinya minum kopi atau teh (dari a cup of tea/coffee), dan durry itu rokok.

Jadi, kalau diterjemahkan, kira-kira si Jarred ini tadi bilang begini: Gua mo ngaso bentar. Ngopi sama sebat dua bat. Ngikut kagak, lo?

Baca juga:  Berharap Mata yang Sehat Jadi Rabun Biar Bisa Pakai Kacamata

Dengan cukup pede bisa saya katakan hasil kemampuan belajar bahasa Inggris saya cukup lumayan.

Skor yang saya dapat dari ujian IELTS (International English Language Test System) terakhir kali adalah 7,5. Nilai tertinggi yang bisa diraih adalah 9, yang berarti kemampuan cas cis cus-nya sudah selevel sama Maudy Ayunda penutur asli. Apa daya, di hadapan Jarred skor IELTS saya rasanya langsung anjlok ke angka 2.

Belajar Bahasa Inggris logat Australia itu terasa unik, karena bahasa Inggris versi ini tidak terlepas dari sejarah pendudukan benua Australia itu. Sebagaimana kita tahu, migrasi Eropa gelombang pertama ke Australia diisi oleh para kolonis dan narapidana dari Britania dan Irlandia di pengujung abad 18.

Dengan sendirinya, bahasa Irlandia, Skotlandia, Wales, dan Inggris, berikut dialek-dialek seperti Geordie dari Newcastle, Cockney dari London, dan Scouse dari Liverpool terbawa dan tercampur di tempat baru.

Berbagai pengaruh dari bahasa dan kelompok lain di masa-masa berikutnya turut membangun apa yang dikenal sebagai Australian English. Sebetulnya, bahasa Inggris tidak pernah dinyatakan sebagai bahasa resmi di Australia. Namun, ia digunakan secara luas, termasuk dalam pendidikan dan pemerintahan.

Dalam tulisan, perbedaan Inggris Australia dengan Inggris lain tak begitu terasa. Biasanya dapat dikenali dari kosakata yang spesifik. Kata untuk “trotoar” misalnya, dalam Inggris British disebut “pavement”, Amerika “sidewalk”, dan Australia “footpath”. Atau, kata “permen” di UK disebut “sweets”, di Amerika “candy”, sementara di Australia “lollies”.


Ketika bahasa ini digunakan secara verbal, baru akan terasa betul perbedaannya. Aksen Australia ini sangat khas, dengan penekanan pada bunyi nasal.

Biar nggak terlalu teknis, mending saya kasih contoh saja beberapa. Kata “nice” akan terdengar seperti “noice”. “Water” terdengar jadi “wota” dan “sick” jadi “seek”. “We are here” yang keluar dari mulut adalah “wiya hiyya”.

Baca juga:  Bocoran Spesifikasi Vivo V9, Bukan Smartphone Selfie Biasa

Yang paling epik hingga jadi bahan guyonan adalah bagaimana kata “today” saat diucapkan dalam logat Australia. Kata itu terdengar seperti pelafalan kata “to die” dalam logat Amerika.

Mungkin kalian pernah dengar lelucon seorang turis Australia keserempet mobil di Amerika karena kurang berhati-hati. Setelah tahu korbannya orang Australia, si sopir dengan kesal menghardik, “Are you coming here to die?”

Lalu si turis menjawab, “No, mate. I came here yesterday!”

Adat kebiasaan orang Australia yang terbilang laid back, super woles dan nggak mau repot, tercermin dari penyingkatan kata-kata sehari-hari. Rumusnya adalah suku kata pertama diambil, lalu ditambahi satu suku kata yang biasanya berisi vokal.

Beberapa contohnya adalah footy (football, olahraga orang Australia dengan bola lonjong mirip rugby), brekky (breakfast), Freo (Fremantle, nama kota pelabuhan di Australai Barat), Macca’s (McDonald), dan devo (devastated).

Cara yang mirip digunakan untuk menyingkat kata jamak, seperti sunnies (sunglasses) dan undies (underwear, pakaian dalam). Istilah yang lebih dari satu kata kadang disingkat dengan cara serupa, misalnya servo (service center alias pom bensin), dan mandy (mandarin orange alias jeruk mandarin).

Ada juga kata-kata yang sama tapi dipakai untuk merujuk arti yang berbeda. Kata “tea” misalnya. Selama belajar bahasa Inggris, saya tahunya itu teh, seperti dalam “daun teh” dan “es teh”. Ternyata, tidak seperti itu.

Ceritanya, saya lagi ngajar privat bahasa Indonesia di rumah murid saya, seorang kulit putih Australia bernama Damien. Lepas jam 5 sore, si murid bilang ke saya, “Let me get your tea fixed”.

Baca juga:  Balik Modal Habis Nyekolahin Anak, Memangnya Sekolah Itu Pabrik?

“Oh. That would be lovely. Thanks,” jawab saya sambil membayangkan secangkir teh di sore yang dingin itu.

Setengah jam kemudian, “tea” saya siap. Bukan berupa minuman, tapi sajian lengkap makan malam. Iya, “tea di Australia bisa juga berarti “dinner”. Hiks.

Ada juga kata-kata plesetan yang sungguh membagongkan, yang biasanya mengambil rima yang sama.

Misalnya “Have a Captain Cook” (have a look – tengok dulu), “What’s the John Dorry?” (What’s the story?  – Ada gossip apaan?), dan “Hit the frog and toad” (Hit the road – Berangkat kita!).

Nah, selain itu, banyak sekali idiom yang terlalu sukar dipahami. Saat lagi hepi banget orang bisa bilang “I am as happy as Larry”… —entah siapa itu Larry.

Saat lagi sibuk banget, orang bisa bilang “I’m flat out like a lizard drinking”. Emang kadal kalau lagi minum tuh kayak gimana sih? Keliatan sibuk gitu?

Yang tertarik untuk tahu logat Australia itu kayak gimana bisa menyimak comedian Carl Barron lewat akun YouTube-nya. Logatnya sangat Aussie, tapi masih mild, jadi cocok untuk pembelajar level pemula.

Untuk level intermediate, mendiang Steve Irwin adalah contoh yang paling pas. Itu logat yang paling umum di antara kelas pekerja.

Nah, kalau mau langsung ke level advanced, bisa lihat wawancara sebuah stasiun televisi dengan seorang pria di Brisbane bernama Daniel McConnell, saksi mata kejadian mobil menabrak warung fish and chips milik tetangganya.

Kalau situ bisa langsung paham omongan si Daniel tanpa pakai subtitle, berarti situ sudah selevel sama yang skor IELTS-nya 9. Bloody bonza, mate!


BACA JUGA Yang Perlu Kamu Tahu kalau Mau Kuliah di Australia atau tulisan Sugiyanto lainnya.