MOJOK.CODidi Kempot, Wiranto, dan Kementerian Ketenagakerjaan membuat lagu jangan mudik. Di antara ketiga lagu tersebut, mana yang paling bagus?

Sebelum meninggal, Didi Kempot sempat menciptakan sebuah lagu yang isinya mengimbau kita buat jangan mudik. Untuk menyampaikan pesan serupa, Wiranto dan Kementerian Ketenagakerjaan nggak ketinggalan bikin lagu juga.

Saya curiga, kecuali almarhum Didi Kempot, Pak Wiranto dan Kementerian Ketenagakerjaan terinspirasi sama Pak SBY. Memang panutan, Bapak SBY. Saya masih nunggu album barunya, nih, setelah nggak lagi menjabat Presiden. Bikin “The Best of…” dong, Pak. Saya yakin bakal menang Kalpataru.

Nah, sebagai musikus paruh waktu, saya merasa terpanggil buat kasih penilaian. Kalau Bens Leo sama Soleh Solihun nggak berani kasih review jujur, ya biar saya saja.

Kesederhanaan Didi Kempot lewat “Ojo Mudik”

Lagu pertama yang saya nilai adalah lagu jangan mudik dari almarhum Didi Kempot berjudul “Ojo Mudik”. Mari kita simak lagunya terlebih dulu:

Liriknya mudah dicerna dan tidak berbunga-bunga. Mungkin teknik penulisan lirik ini dipilih karena lagu ini adalah pesan masyarakat. Selain tentu saja khas Didi Kempot ketika menulis lagi. Terasa relate, apalagi kalau udah soal patah hati. Ambyar.

Yang saya sukai dari lagu Didi Kempot ini adalah musiknya ikut “bernyanyi” mengikuti nada Lord Didi. Isian-isiannya tidak lebay, cuma volume suara penyanyi latarnya terlalu keras. Mungkin ini disebabkan oleh semua nada ditaruh di tengah, tidak ditempatkan di kanan, kiri, depan, atau tengah, layaknya musik modern.

Video klipnya sederhana, yaa seperti video Didi Kempot yang lainnya. Secara keseluruhan, lagu ini kualitasnya seperti lagu Lord Didi yang lain, dieksekusi secara sederhana namun tidak menanggalkan kualitas sama sekali.

Baca juga:  Mudik Lebaran untuk Nostalgia yang Tidak Ada Padanannya

Lagu jangan mudik yang bikin merinding dari Wiranto dan Moeldoko

Lagu kedua yang saya nilai adalah lagu dari Pak Wiranto, Pak Moeldoko, dan tokoh masyarakat lain. Judulnya: “Ora Mudik Ora Popo”. Mari kita dengarkan dengan sikap sempurna:

Judulnya saja sudah membuat saya merinding. Ada aura mengancam dari sebuah masterpiece ini.

Saya sebenarnya punya ekspektasi lumayan terhadap lagu ini. Pak Wiranto pernah membuat album yang berisi karyanya sendiri. Suara Wiranto juga merdu, kualitas rekamannya nggak kaleng-kaleng. Lagu “Kemuning” yang dinyanyikan Pak Wiranto adalah contoh bahwa beliau tidak hanya tentara yang gemilang, tapi juga penyanyi cemerlang.

Tapi sayang, kemampuan sebenarnya dari Pak Wiranto tidak muncul di lagu jangan mudik ini. Menggunakan corak campur sari, musik lagu ini terkesan seadanya, yang penting jadi. Suara kemeresek gitar yang bocor, volume instrumen yang naik turun, ditambah menumpuk semua suara di tengah, yang kita dengar adalah kekacauan.

Sungguh sayang, Pak Wir. Saran dari saya yang pernah bikin single, Pak Wiranto solo karier saja. Nggak usah ngajak Pak Moeldoko sama lainnya, Pak. Ingat, Ari Lasso makin sukses ketika keluar dari Dewa 19, Pak. Aura Bapak kan jadi ketutup.

Kementerian Ketenagakerjaan keroyokan bikin lagu jangan mudik

Lagu jangan mudik ketiga yang mau saya nilai dinyanyikan secara keroyokan oleh beberapa manteri. Lagu ini diunggah oleh Kementerian Ketenagakerjaan.

Jujur saja, lagu ini paling unik dibanding dua lagu sebelumnya karena aliran musiknya paling berbeda. Lagu ini menggunakan musik disko tulit-tulit lawas (menyesuaikan umur penyanyinya mungkin?).

Baca juga:  Belajar dari Gus Dur Supaya Banser Rileks di Darat, Laut, dan Bendera

Musiknya tidak punya isian yang banyak, yang berubah hanya progresi chord-nya saja. Seperti lagu Pak Wiranto, kualitas rekaman lagu ini kurang bagus. Suara musik langsung turun begitu vokal masuk, seakan-akan lagu ini dibuat dengan mencomot musik gratis dari internet lalu ditempel vokal dari para penyanyinya.

Yang bagus dari lagu ketiga ini adalah durasinya yang pendek dan Pak Moeldoko yang tidak perlu berjoget sambil memegang mic wireless. Yang lucu adalah Ida Fauziyah yang memegang gitar, tapi tangannya malah menunjuk kamera. Gitar itu digenjreng, Bu Ida, nggak cuma dipegang nggo wangun-wangun, dipikir ini Dahsyat?

Dari ketiga lagu jangan mudik tersebut, tentu lagu Lord Didi yang terbaik. Dari kualitas vokal, rekaman, musik, dan lirik, jelas lagu jangan mudik dari Lord Didi dibuat dengan serius. Lagu lainnya terkesan “yang penting jadi”. Nggak apa-apa sih, ning po ra isin, Pak, Bu?

Saran saya sih, lain kali kalau para menteri bikin lagu, mbok ya digarap agak serius. Biayanya nggak mahal kok, band saya cuma keluar 400 ribu rupiah buat bikin single.

Lagian ini nanti malah memberi image buruk terhadap kerja menteri, lho. Masak ketika menteri bekerja sama, yang dihasilkan adalah kekacauan? Hayo.

BACA JUGA Negara Boleh Goblok, Kita Jangan dan artikel menarik lainnya dari Rizky Prasetya.