MOJOK.COAlarm yang berisik terkadang gagal membangunkan kita tidur. Bahkan banyak orang yang tidak merasakan faedah dari pengingat bangun tidur tersebut. 

Ada tiga hal yang saya anggap tidak ada gunanya di dunia ini. Pertama, mendengarkan The Chainsmokers. Kedua, menjelaskan kepada adik tingkat kenapa saya lulus kuliah tujuh tahun. Yang terakhir, memasang alarm agar saya bisa bangun pagi.

Sebelum tidur, saya selalu memasang alarm berjarak setengah jam. Alarm itu saya set pukul tujuh, setengah delapan, jam delapan, dan setengah sembilan. Tebak saya bangun jam berapa? Jam setengah sepuluh.

Suara dering yang menyalak tidak ada gunanya bagi saya. Kadang justru alarm itu membangunkan penghuni kamar kos sebelah dan membuatnya bersemangat untuk menggedor kamar saya. Meski saya tahu pengingat untuk bangun itu sia-sia, tapi tetap saja rutinitas sebelum tidur itu tidak bisa hilang.

Saya yakin, saya tak mengalami ini sendirian. Banyak orang di dunia ini mengalami masalah yang sama. Alarm yang menggonggong tetap tak mampu membangunkan mereka. Tapi tetap saja, mereka mempertaruhkan hari esok kepada jam hape atau jam beker untuk membangunkan mereka.

Orang-orang ini punya alasan yang sama dengan saya, bahwa tidak lengkap rasanya kalau tidur tidak mengeset alarm terlebih dahulu. Padahal mereka juga tahu, melakukan hal yang sama dan berharap hasil yang berbeda itu adalah kesia-siaan.

Baca juga:  Rahasia di Balik Tidurnya Setya Novanto

Singkatnya, orang melakukan hal ini karena dua hal. Pertama, mereka terlalu optimis dan sedikit bodoh. Kedua, ini adalah habit yang susah ditinggalkan.

Tapi sebentar, kenapa alarm yang menyalak sedemikian keras tetap tidak sanggup membangunkan orang dari mimpinya?

Ada beberapa alasan, dan lagi-lagi, ini masalah kebiasaan.

Anggaplah tubuhmu ini punya kesadaran sendiri. Jika kamu adalah mahasiswa yang jadwal kelasnya bervariasi Senin pagi, Selasa siang, Rabu sore, misalnya) atau bekerja dalam sistem sif (pagi, siang, malam), tubuhmu bingung meresponsnya.

Akibatnya, kamu susah dapet tidur yang berkualitas. Udah nggak cukup, waktunya ganti-ganti pula. Akibatnya badanmu berusaha mengeliminasi semua gangguan yang berpotensi mengganggu tidurmu. Alarm adalah gangguan, maka tubuhmu memilih untuk bodo amat.

Alasan lain adalah bahwa otakmu sudah terbiasa dengan suaranya.

Ini terdengar begitu bodoh memang, tapi memang begitu adanya. Ketika kamu menggunakan alarm yang suaranya tidak pernah kamu ganti, dalam sebulan otakmu akan terbiasa dengan suara tersebut dan memilih untuk tidak membangunkanmu.

Alasan terakhir adalah kamu emang terbiasa untuk bodo amat sama jam bangun tidur.

Katakanlah begini. Besok kamu kuliah jam dua siang doang, dan kamu mulai tidur jam sebelas malam. Sebelum tidur, kamu sudah memiliki sugesti bahwa kamu nggak harus bangun pagi. Otakmu merekam informasi itu, dan ketika alarm menyalak, otakmu bodo amat. Ra patheken karo jam, aku tangi awan pokoke, Lur!

Cara mengatasinya ya dengan tidur pada jam yang konsisten, mengganti nada dering alarm, dan tidak terbiasa memberi sugesti kepada otak, “aku nggak perlu bangun tepat waktu.” Dengan melakukan langkah tersebut, setidaknya kamu nggak perlu pintunya digedor orang yang terganggu suara jam sedangkan kamunya tetap dalam mimpi.

Baca juga:  Sumanto dan Tidur Sebagai Perlawanan

BACA JUGA Negara Boleh Goblok, Kita Jangan dan artikel menarik lainnya dari Rizky Prasetya.