Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Manusia Itu Sama tapi Disengat Tawon Bisa Berbeda

Rusdi Mathari oleh Rusdi Mathari
24 Juni 2016
A A
Manusia Itu Sama tapi Disengat Tawon Bisa Berbeda

Manusia Itu Sama tapi Disengat Tawon Bisa Berbeda

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kehebohan itu terjadi menjelang buka. Orang-orang kampung berhamburan keluar rumah lalu menonton Cak Dlahom yang dikerubungi tawon tapi tenang berjalan di jalan kampung. Kepala, dada, punggung, tangan bahkan betisnya dipenuhi tawon. Beberapa ibu yang melihat pemandangan itu berteriak-teriak agar ada yang menolong Cak Dlahom, tapi tak seorang pun yang berani mendekat. Mereka ketakutan karena mereka tahu tawon yang mengelilingi Cak Dlahom dari jenis yang berbahaya.

Mereka menyebutnya tabuhan. Sarangnya bergantung di satu cabang pohon jati tua di tengah pekuburan kampung. Sarangnya berukuran besar dan tampak menyeramkan. Tidak terlalu jelas sebab-akibat binatang dengan sengat dan bisa yang dapat mematikan itu mengerubungi Cak Dlahom. Orang-orang hanya tahu, sore itu Cak Dlahom memang berjalan dari kuburan.

Iklan

Dia seperti membiarkan dirinya jadi tontonan atau hiburan orang-orang kampung terutama anak-anak. Agar mereka lupa sejenak bahwa mereka sedang berpuasa. Agar mereka bergembira. Yang dilakukannya hanya menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah, seperti memberi perintah pada tawon-tawon yang mengerubunginya. Dan aneh, kerumunan tawon itu seperti mengikuti gerak tangan Cak Dlahom. Seperti sekumpulan bebek yang diarak pulang oleh penggembala.

Bila tangan Cak Dlahom bergerak ke atas, tawon-tawon itu mengerubungi kepalanya. Bila tangannya bergerak ke samping, giliran kedua tanganya yang dikerubungi. Begitu seterusnya, tabuhan itu patuh mengikuti gerak tangan Cak Dlahom.

Dia tidak mengadu. Tidak pula cekikikan. Dan Sambil terus berjalan tenang di jalan yang membelah kampung, mulut Cak Dlahom hanya bersuara “Yaa Rahman… Yaa Rahim…” Suara itu diulang-ulangnya bagai mantra.

Orang-orang takjub sekaligus miris melihat pemandangan tawon-tawon sebesar ibu jari mengerubungi Cak Dlahom. Anak-anak yang berjalan mengikuti dari berlakang menyoraki Cak Dlahom.

“Dlahom sakti..Dlahom sakti…”

Sampai di ujung jalan, Cak Dlahom berbalik arah berjalan kembali ke arah kuburan. Dia mengulanginya berkali-kali. Suara anak-anak semakin riuh. Pak RT yang baru tahu belakangan dan melihat kejadian itu segera meminta beberapa orang untuk menolong Cak Dlahom dari kepungan tawon. Mereka menutup kepala mereka dengan sarung, membakar sabut kelapa untuk mengasapi tawon agar menjauh dari Cak Dlahom, tapi yang hendak ditolong malah menolak.

“Pergi. Tak usah menolongku…”

“Kami disuruh Pak RT, Cak…”

“Bagaimana kalian mau menolongku, sementara kalian tak mampu menolong diri kalian?”

Orang-orang itu bingung tidak mengerti, tapi segera menjauh. Cak Dlahom bukan tandingan mereka. Mereka membiarkan Cak Dlahom dikeroyok tawon. Pak RT hanya geleng-geleng mendengar laporan orang-orang itu.

Ketika azan maghrib menjelang, orang-orang segera bubar. Cak Dlahom kembali ke pekuburan dengan masih diikuti kumpulan tawon. Dia baru pulang ke rumah Mat Piti menjelang Isya. Romlah sudah menyiapkan kopi. Mat Piti dan Gus Mut menunggu di teras belakang. Keduanya ingin mendengar cerita Cak Dlahom.

“Kenapa tawon-tawon itu bisa mengeroyok sampean, Cak?”

Mat Piti membuka pembicaraan. Gus Mut menyuap kolak. Nody dan Romlah ikut bergabung ke teras belakang. Cak Dlahom menyalakan kreteknya.

“Meraka ingin jalan-jalan, Mat.”

“Sampean ada-ada saja, Cak. Tawon kok ingin jalan-jalan?”

“Loh, kamu kira hanya manusia yang ingin jalan-jalan?”

Iklan

“Maksud saya, bagaimana sampean tahu, tawon-tawon itu ingin jalan-jalan?”

“Aku tidak tahu, Mat. Aku hanya tahu, mereka mengikutiku. Itu saja.”

“Lalu kenapa sampean menolak ditolong?”

“Mat, tawon-tawon itu tidak menggangguku dan aku tidak mengganggu mereka.”

“Iya, Cak, tapi tawon-tawon itu berbahaya. Bisa mematikan. Orang-orang itu mau menolong sampean.”

“Mat, banyak orang ketika melihat orang susah, melihat orang melarat, melihat orang menderita, lalu ingin menolong. Ingin membantu.”

“Itu kewajiban manusia, Cak…”

“Betul, Mat. Aku menghargai mereka. Masalahnya, bagaimana mereka mau menolong sementara mereka tidak mampu menolong diri mereka.”

“Maksudnya bagaimana, Cak?”

“Banyak dari mereka yang ingin menolong bukan karena benar ingin menolong. Mereka menolong hanya karena rasa iba. Rasa tidak enak. Rasa ingin dilihat dan dipuji oleh orang lain bahwa mereka bisa menolong. Mereka sibuk melihat orang lain tapi alpa melihat ke dalam diri mereka. Sibuk menilai orang lain dan lupa menilai kekurangan diri sendiri. Orang-orang semacam itulah yang mestinya perlu ditolong.”

Mat Piti manggut-manggut. Gus Mut meneruskan menyuap kolak. Romlah mengelus-elus perutnya. Nody nyuruput kopi. Cak Dlahom meneruskan penjelasannya.

“Kasih sayang Allah itu untuk seluruh alam, Mat. Untuk seluruh makhluk, tapi manusia sering mengingkarinya. Ketika mereka sakit, mereka berdoa meminta untuk disembuhkan. Ketika mereka melarat, mereka berdoa agar diberi kesejahteraan. Ketika kemarau mereka berdoa meminta hujan. Ketika hujan mereka lari menghindar. Doa mereka penuh nafsu. Mereka berdoa karena nafsu.

Padahal ketika mereka sakit, ketika mereka melarat, ketika diberi kemarau, ketika diberi hujan, boleh jadi itulah waktu dan kesempatan bagi mereka untuk mendekatkan diri mereka pada Allah. Tapi mereka tidak paham. Mereka menganggap musibah sebagai cobaan. Mereka tidak menyadari, musibah sebagai anugerah.”

Cak Dlahom mengisap dalam-dalam kreteknya. “Anugerah, Cak?” Mat Piti membuka suara.

“Iya, Mat, musibah itu anugerah bagi orang-orang yang mengerti. Ujian dan cobaan yang paling berat adalah ketika kamu berlimpah nikmat dan diberi kecukupan dalam segala urusan dunia. Bukan pada saat kamu diuji dengan berbagai kesulitan dan keterbatasan…”

“Seperti saya ini ya, Cak?”

Gus Mut memotong. Mat Piti agak kaget. Nody juga terheran-heran.

“Maksudmu, Gus?”

“Mulut saya kan terus menganga, Cak. Jadi saya harus bersyukur karena diberi anugerah mulut yang terus menganga. Begitu, kan, maksudnya?”

Cak Dlahom cekikan. Romlah mesam-mesem.

“Ya ya, semacam itu, Gus. Hidup ini hanya harus dijalani. Kalau kita takut pada ujian dan cobaan, menghindar dari persoalan, kita mestinya tak perlu hidup. Musibah atau ujian apa pun mestinya bisa mengantar seseorang menjadi semakin dekat dengan penciptanya. Lewat musibah, mereka seharusnya menyadari, diri mereka adalah fakir. Tidak punya apa-apa. Tidak punya daya kekuatan apa pun di hadapan Allah.

Mereka mungkin punya kekayaan di dunia ini, tapi mereka fakir. Mereka mungkin bisa beribadah tapi fakir. Mereka mungkin punya kekuasaan tapi dhaif. Mereka semua tidak punya apa-apa dan tak mampu melakukan apa-apa di hadapan Allah.”

“Jadi, kita semua ini fakir ya, Cak?”

Gus Mut kembali menyahut.

“Betul, Gus. Tak satu pun dari kita yang lebih unggul dari yang lainnya. Tak seorang pun. Karena jangan sombong. Jangan takabur. Jangan jumawa merasa diri lebih dari yang lain.”

“Tapi saya merasa punya keunggulan, Cak?”

Mat Piti geleng-geleng mendengar Gus Mut terus menyahut. Cak Dlahom cekikikan.

“Kok sampai tertawa, Cak?”

“Kira-kira aku tahu yang kamu maksud, Gus.”

“Apa keunggulan saya, Cak?”

“Bentuk mulutmu…”

Mat Piti dan Nody tertawa. Romlah yang semula hanya mesam-mesem, kali ini tak kuasa untuk tidak ikut tertawa.

“Ih Mbak Romlah seneng banget. Awas loh anaknya suka menganga kayak saya…”

“Amit-amit jabang bayi, Gus.”

“Loh, kata Cak Dlahom, manusia itu sama kok.Tak satu pun yang punya keunggulan dari yang lain. Iya kan, Cak?”

Cak Dlahom belum menjawab, tapi Gus Mut sudah mengadu. Seekor tawon kecil yang entah dari mana, menyengat bibirnya. Romlah berteriak kaget. Mat Piti meminta Nody mengambil minyak tawon. Bibir Gus Mut membengkak. Cak Dlahom cekikikan.

“Sebentar lagi bibirmu juga kempes, Gus. Tawon itu hanya gemas melihat bibirmu..”

Gus Mut tak bisa menjawab. Dia hanya semakin menganga. Nody, kakaknya, yang mengolesi bibirnya, malah terus tertawa.

 

[Diinspirasi dari kisah-kisah yang disampaikan Syeikh Maulana Hizboel Wathany Ibrahim]

Terakhir diperbarui pada 2 Juni 2017 oleh

Tags: Cak DlahomIslamRamadantawon
Rusdi Mathari

Rusdi Mathari

Artikel Terkait

Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026
1.381 WBP Lapas Yogyakarta Dapat Remisi Lebaran 2026. MOJOK.CO

1.381 Napi di Lapas Yogyakarta Berhasil Menang Lawan “Hawa Nafsu” hingga Dapat Remisi Saat Lebaran 2026

21 Maret 2026
THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Takjil bingka dari Kalimantan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Shifana, pemain Timnas U-16 Indonesia dibayangi pemain Yordania, Alma Odai di pertandingan semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026. Indonesia menang dengan skor 3-0 di laga semifinal, Jumat (21/8).

Timnas Putri U-16 Indonesia Bungkam Yordania 3-0, Thailand Menanti di Final Srikandi Merdeka Cup

22 Agustus 2026
tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
Pelaku pembakaran hutan di Kalimantan dan titik lemah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia MOJOK.CO

Titik Lemah Penanganan Karhutla di Indonesia: 72 Orang Sengaja Bakar Hutan untuk Buka Lahan, Jadi Ancaman Ekosida

23 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.