Tentu sangat mudah menghitung berapa pendapatan para kru Mojok dari mulai kepala sukunya sampai para redakturnya. Pun tak terlalu sulit untuk menghitung pendapatan sopir truk merangkap penulis merangkap buzzer politik Iqbal Aji Daryono itu. Namun sayang, di rubrik Nafkah yang baru saja lahir kembali ini, kami, Mojok Institute, justru diberi tugas untuk mencari berapa penghasilan burung merpati balap.

Beruntung kami cukup sigap. Kami langsung menghubungi beberapa kawan yang pernah atau masih bergelut di dunia balap burung merpati.

Pada akhirnya, kami mendapatkan salah satu narasumber yang cukup kompeten. Namanya Akbar, namun ia biasa dipanggil Dadu. Konon ia dipanggil dadu karena bentuk kepalanya yang cenderung kubus.

Dadu adalah seorang penggemar merpati yang sudah cukup malang melintang dalam dunia balap merpati.

Kepada kami ia mengatakan bahwa satu ekor merpati balap dengan portofolio yang mengilap dan sudah berkali-kali juara bisa dihargai puluhan bahkan sampai ratusan juta.

“Kemarin merpati punya kawanku, main empat kali: juara 3, juara 1, juara 4, trus juara 1. Itu pun sudah ditawar 25 juta,” ujar Dadu.

Tentu saja harga 25 juta yang dikatakan Dadu bukan omong kosong belaka, sebab merpati yang sudah terlatih dan sering juara memang bisa menghasilkan banyak uang.

Dalam satu lomba balap, misalnya, seekor merpati balap bisa membawa pulang hadiah Tabanas 5 juta rupiah. Itu baru lomba kelas kecil. Untuk lomba kelas kecamatan, hadiahnya bisa lebih besar. Biasanya satu unit sepeda motor. Untuk tingkat kabupaten, hadiahnya bahkan satu unit mobil.

Orang-orang menyebut lomba balap merpati ini dengan sebutan lomba merpati kolong. Sebab, selain sisi balapnya, sisi ketangkasan si burung juga dinilai. Caranya adalah dengan melihat kesigapan si burung merpati masuk ke dalam kolong kotak berukuran 4 x 4 meter. Untuk sisi balapnya, biasanya jarak yang ditempuh si merpati sekitar 1 kilometer. Sprint ad, begitu para pegiat menyebutnya.

Dalam satu bulan, di satu wilayah, biasanya ada empat event lomba. Rerata kasarnya, seminggu satu event lomba.

Nah, dari empat event ini, kita bisa menghitung pendapatan kasar merpati yang punya portofolio juara yang mantap. Oke, anggap saja dari 4 lomba ini, dia mendapatkan 1 kali juara pertama, 1 kali juara kedua, dan 2 kali juara ketiga. Maka perincian hadiah yang bisa didapatkan adalah, 1 unit sepeda motor (kita anggap 15 juta), 10 juta, dan dua kali 5 juta. Total 35 juta. Itu baru lomba kelas kecamatan, kalau kelas yang lebih luas, tentu hadiahnya lebih besar. Bisa sampai ratusan juta. Jumlah yang sangat cukup untuk bayar uang muka satu rumah pagupon di Meikarta.

Dengan pendapatan yang sangat besar itu, merpati juara tentu saja mendapatkan fasilitas dan timbal balik yang sepadan. Ia dimandikan teratur, diberi makan jagung kualitas terbaik, lengkap dengan suplemen jamu yang penuh gizi, tak lupa, ia diberikan sangkar yang luas dan nyaman agar ia tidak stres.

Bukan hanya merpatinya saja yang mendapatkan fasilitas istimewa. Joki merpatinya pun ikut kecipratan fasilitas istimewa. Setiap kali berlomba, para joki yang tugasnya mengepak-ngepakkan merpati (istilahnya, ngepleki) ini mendapatkan satu pendamping umbrella girl yang akan memayunginya selayaknya pembalap Moto GP.

Selain gaji bulanan, para joki juga mendapatkan bonus jika merpati yang dijokinya mendapatkan juara.

Mungkin inilah yang disebut sebagai syafaat merpati.

Komentar
Add Friend
No more articles