• 39
    Shares

MOJOK.COMenPAN-RB, Asman Abnur mundur dari Kabinet Kerja. Pasalnya, partainya PAN memutuskan untuk tidak lagi mendukung Jokowi di periode selanjutnya. Daripada ngerasa sungkan, nggak enak sendiri, dan karena adanya desakan beberapa pihak, akhirnya Asman memutuskan untuk mundur saja. Biar lebih lega~

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB), Asman Abnur meminta diperkenankan untuk mundur dari Kabinet Kerja. Ia tidak ingin menjadi beban bagi Presiden Joko Widodo karena partainya, PAN, memutuskan mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam Pilpres mendatang.

Pagi tadi (14/08), Asman Abnur telah mendatangi Mensesneg, Pratikno untuk membahas posisinya yang kini menjadi serba tidak enak. Serba salah. Plus terasa simalakama. Pasalnya, di satu sisi ia merupakan Kabinet Kerja. Sementara di sisi yang lain, partainya tidak lagi mendukung Jokowi.

Selain itu, Asman memang juga mendapat tuntutan dari koalisi pendukung Jokowi di pilpres 2019 agar mundur dari kabinet. Sebab PAN tidak mendukung Jokowi yang kali ini berpasangan dengan Ma’ruf Amin.

Dengan beberapa alasan tersebut, Asman memutuskan untuk mengundurkan diri dan saat ini, sedang menunggu keputusan dari Jokowi.

Atas keputusannya tersebut, Asman Abnur mengaku belum melapor ke Ketum PAN, Zulkifli Hasan. Namun, ia siap untuk fokus dalam pencalegan bila sudah mundur dari Kabinet Kerja. Asman berharap serta mengusahakan agar apa yang dia lakukan tersebut tidak mengecewakan semua pihak.

Baca juga:  Kasihan Sama Rusia Dituduh Propaganda, Tapi Kok Lebih Kasihan Sama Jokowi Ya

Menanggapi hal ini, Wasekjen PAN, Saleh Daulay, meyakini bahwa Presiden Jokowi sebenarnya masih membutuhkan Asman. Mungkin karena lingkungan di sekitarnya, akhirnya Asman terdesak.

Walau Saleh memahami pergantian Asman Abnur di kabinet menjadi hak prerogatif presiden dalam menjalankan roda pemerintahan. Namun ia juga menduga adanya desakan politik kepada Jokowi agar mencopot Asman dari jabatan menteri.

PAN juga mengakui kinerja Asman dengan terobosan reformasi birokrasi tidak hanya terkait penataan SDM, namun juga dalam efisiensi penggunaan anggaran. Yang katanya berhasil mengefisienkan anggaran APBN dari lintas kementrian lembaga mencapai puluhan triliun rupiah.

Mengenai hal tersebut, PSI mengkritik PAN sebagai partai yang paling tidak konsisten. PSI membandingkan PAN dengan Gerindra dan PKS, walau banyak berbeda pandangan namun tetap istiqamah menjadi oposisi. Sedangkan PAN, walau menjadi partai koalisi pemerintah, tapi selalu mengambil posisi sebagai oposisi. PSI yakin, rakyat akan mencatat sepak terjang PAN sebagai partai yang tidak konsisten.

Sedangkan Golkar, menyebut pencopotan tersebut sebagai konsekuensi logis karena PAN memutuskan berbeda koalisi. Menurut DPP Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily, pergantian tersebut adalah hak prerogatif presiden. Walau hingga saat ini, ia juga belum memastikan apakah pengganti Asman akan datang dari parpol koalisi atau tidak.

Menanggapi hal ini, politikus PDIP, Charles Honoris, menganggap pergantian tersebut sudah benar. Pasalnya, menteri di Kabinet Kerja harus bisa meyakini program-program pemerintahan Jokowi. Menteri sebagai pembantu presiden harus bisa bekerja seirama dengan presiden. Charles menambahkan, pergantian Asman memang sudah selayaknya supaya tidak menganggu solidaritas pemerintah.

Baca juga:  Pernyataan-Pernyataan Kontroversial Prabowo Subianto

Sementara itu, Mensesneg, Pratikno mengungkapkan, reshuffle terhadap Asman memang dilakukan karena adanya pertimbangan koalisi. Seperti diketahui, PAN saat ini memang mendukung Prabowo-Sandiaga.

Namun pihak Istana, juga melemparkan pujian atas kinerja Asman Abnur. Jokowi disebut puas terhadap pencapaiannya selama menjabat sebagai MenPAN-RB. Asman Abnur dianggap dapat membuat sistem birokrasi serta reformasi aparatur negara yang lebih melayani.

Masalah koalisi ini memang tidak bisa dianggap enteng. Walau kamu punya kemampuan yang mumpuni tapi ternyata tidak sepaham, sepertinya bakal didesak lebih baik minggir aja.

Ehm, kalau memang sudah tidak sejalan, bakal sulit ya memaksakan untuk bersama. (A/L)