• 114
    Shares

MOJOK.CO – Didukungnya Prabowo Subianto oleh GNPF-U mendapat reaksi dari pihak petahana. Golkar ragu permintaan Ijtima Ulama II bisa terpenuhi, Hanura sebut ini dagelan.

Hasil Ijtima Ulama II pada Minggu (16/9) di Hotel Grand Cempaka, Jakarta, mendapat sorotan dari koalisi partai pihak petahana. Rata-rata politisi dari pihak yang berkoalisi dengan partai pengusung Presiden Jokowi menilai Ijtima Ulama sudah berubah haluan jadi kendaraan politik juga.

Hal ini terkait dengan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U) yang secara eksplisit mendatangani pakta integritas untuk mendukung Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno dalam bursa capres-cawapres Pilpres 2019.

“Telah terselesaikannya dengan baik Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional II dan ditandatangainya pakta integritas oleh paslon yaitu yang terhormat Bapak Prabowo Subianto dengan Sandiaga Salahuddin Uno,” kata Yusuf Muhammad Martak, Ketua GNPF-U.

Deklarasi ini segera dikomentari oleh Golkar, melalui Ketua DPP-nya, Ace Hasan. Apalagi dalam pakta integritas itu ada poin yang menjamin kepulangan Habib Rizieq Shihab juga.

“Itima Ulama I minta supaya menjadikan ulama sebagai cawapres, tapi ternyata tidak didengar sama Prabowo dan Ketua Umum parpol koalisi pendukung Prabowo. Lalu apa rekomendasi dan pakta integritas Ijtima Ulama II juga ada jaminan akan dipenuhi oleh Prabowo?” kata Ace Hasan seperti diberitakan detik.com.

Mengenai Habib Rizieq, Ace juga menyorot soal proses hukum yang sebaiknya segera diselesaikan. Menurut politisi Golkar ini, Habib Rizieq pernah mengalami hal yang sama pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan saat itu reaksinya tidak sekeras seperti sekarang.

Baca juga:  Dukung PA 212 di Solo yang Tak Berizin dan Sempat Keceplosan Kampanye

“Tahun 2008, Habib Rizieq pernah dipidana dan dipenjara kok waktu zaman Pak SBY menjadi Presiden. Tapi waktu itu tidak ada tuh pihak yang bilang bahwa Pemerintahan SBY mengkriminalisasi ulama. Padahal jelas-jelas Habib Rizieq dipenjara satu setengah tahun,” kata Ace.

Sedangkan menurut Hanura, proses Ijtima Ulama ini jangan sampai membuat masyarakat jadi salah fokus bahwa yang dibahas adalah persoalan agama. “Masyarakat jangan terkecoh deh, dengan istilah ‘ijtima ulama’ yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan fikih dalam agama Islam,” kata Inas Nasrullah, Ketua DPP Hanura.

Menurut Inas, ijtima pada prinsipnya adalah acara perkumpulan yang sama saja dengan kongkow. Artinya, politisi Hanura ini menyebut bahwa Ijtima Ulama ini juga bisa diartikan kongkownya para ulama.

“Kongkow-kongkow yang hanya dihadiri sekian puluh ulama saja menjadi pertunjukan dagelan karena membuat keputusan tentang capres/cawaptes yang sudah terdaftar jauh-jauh hari di KPU. Lah, ini keputusan atau keputus-asaan?” kata Inas seperti diberitakan detik.com.

Inas juga menyayangkan pakta integritas soal Prabowo yang dimintai untuk membawa pulang Habib Rizieq. Bahkan Inas mengaku ingin tertawa mendengar begitu getolnya GNPF-U meminta Prabowo bisa membawa pulang Imam Besar FPI tersebut.

“Prabowo diminta untuk merehabilitasi, menjamin kepulangan, serta memulihkan hak-hak Habib Rizieq. Jadi pengen ngakak deh, kan kasusnya sudah SP3-kan? Kenapa harus minta direhab dan dipulihkan hak-haknya? Kan nggak ada hak-hak Habib Rizieq yang disandera pemerintah? Memangnya tapol?” kata Inas.

Baca juga:  Jokowi Belum Tentu Terpilih Jadi Presiden Lagi

Jadi artinya, tanpa meminta Prabowo sekalipun, sebenarnya Habib Rizieq boleh saja pulang ke Indonesia karena tidak pernah ada yang melarang. Jadi Pak Prabowo, siap jemput sang Imam Besar balik ke Indonesia nggak nih? Kalau kejauhan, jemput di Cengkareng boleh juga kok. (K/A)